Sunday, November 05, 2023


 Yang menemanimu,
Sebelum cahaya…

Red

 


Untukku, cukup.

Wednesday, November 01, 2023

Monday, January 09, 2023

Kemana lagi?

Di mana lagi?

Ke mana lagi?

Mesti ke mana lagi?

Harus di mana lagi?


Thursday, December 01, 2022

Janji



‘Hanya kamu yang mengerti gelombang kepala ini,

 Janji takkan kemana-mana’


Dan aku berenang-renang diantara keinginan terbahak-bahak sekaligus nyengir miris.


Puja-puji tanpa kata

Selalu nyaman bersama

Janji takkan kemana-mana


Janji


Janji


Janji


Takkan kemana mana…




Thursday, November 17, 2022

âme


A soul knocks on heaven's door in quiet. 

It carried only a weak appeal and a faint hope. 

Tears poured as it implored. 

Despite frailty, faith remains. 

When it's out of energy, it falls. 

it gave up its surrender. 

Then suddenly, A wing sprouted, 

Allowing it to fly again.



Medan, Nov 18th 2022

Tuesday, November 08, 2022

That time, at late afternoon

 



In a place we never knew before,
a secret revealed itself.
I think I saw you,
cried.

Saturday, October 29, 2022

Satu-satu.

Taken from here

Saya sedang menyaksikan Kota Medan yang dibakar matahari lewat jendela kaca yang besar dalam sebuah kafe, dimana pendingin ruangan menghembuskan kesejukan. Segelas Pandan Latte membasahi kerongkongan saya dan pendengaran saya dibelai alunan suara Lyodra yang mengalun merdu. Di luar,  di bawah terik itu, tampak hilir mudik kendaraan lalu lalang. Ada truk-truk besar yang seakan mengintimidasi kendaraan lainnya. Lalu, beberapa kali melintas pengendara motor yang ugal-ugalan, berbocengan bertiga bahkan berempat tanpa memakai helm, dengan suara knalpot yang mengundang cacian orang-orang yang mendengarkan. Ada juga beberapa bentor butut yang terus tak gentar mengarungi jalanan yang brutalnya hampir sama dengan jalanan Makassar demi beberapa lembaran rupiah.  Saya bisa melihat peluh membasahi membasahi wajah dan baju bapak-bapak pengemudi bentor tersebut. Saya tak bisa melihat dengan jelas raut wajahnya, namun pikiran saya otomatis bisa memproyeksikan kerut-kerut perjuangan di wajah-wajah itu. 

Dan saya pun menyadari, bahwa bagi kebanyakan orang, tidak ada pilihan lain selain berjuang. Bagi sebagian orang, tidak ada privileges untuk mengeluhkan nasibnya yang kurang beruntung. Yang ada hanya opsi maju terus jalani satu-satu. Sementara bagi sebagian orang yang lainnya, termasuk saya, kadang terlalu sering larut dalam kegalauan yang mungkin tidak perlu dan bisa dihindari. Saya jadi ingat kata-kata seorang komika idola saya, Pandji Pragiwaksono, pernah berkata, kadang kita tuh merasa berat akan permasalahan hidup karena kita selalu merasa bahwa kita harus tau solusinya. Padahal, sebenarnya masalah itu pada akhirnya akan terurai sendiri pada akhirnya. Kita hanya perlu bertahan, hari demi harinya. Lakukan apa yang bsia dilakukan dan udah. Asal jangan berhenti, asal jangan putus asa. Dan terimalah kemana alur hidup membawa langkah kita. 

Nah, mungkin itulah yang saya harus lakukan saat ini. Saat kepala terlalu berisik dengan kegalauan yang tidak berujung, mungkin saya hanya perlu menambah volume headset saya untuk meredam suara-suara destruksif itu, lalu fokus mengerjakan disertasi saya. Satu satu, yang di depan mata saja dulu. Satu-satu, seperti kata Hindia. 


Medan, 29 Oktober 2022.

Tuesday, October 18, 2022

Spells



Dissolve, o free soul 


Calm, o restless mind 


Rest, o tired body 


Fly, o chained soul


Medan, October 18th 2022

Lalu Hilang

Melayang, lalu tenggelam, lalu hilang.

Akrab, lalu asing lalu lupa.

Besar, lalu kecil, lalu menajdi titik lalu hilang.

Sesak, lalu rindu lalu hilang.

ada, lalu hilang.

Sunday, October 09, 2022

From where I sit


Blank pages,
Frozen pointer,
Yura Yunita's voice,
Half cup of condensed iced coffee,


Hours wasted for nothing,
People come and go,
Fake smiles,
Repressed anger,

None gives a damn, out there
As the sun goes down,
From light to shadow,
No shoulders to lean on,

As at the end of the day, 
its simply you and your own battle,

Medan, 9 Oct 2022

Saturday, October 01, 2022

Silent Whisper

taken from here







Dear Lord, 

It's me, standing before you. 

It's me, who has sinned greatly and gotten lost many times while seeking You. 

It's me, your servant, and I am now clueless with my life.  


Dear Lord, 

I'm now in this unbelievable state of confusion.

It seems as though I have no more strength in me to complete this stage of my life.

Being in this position has made me feel as insignificant as a speck of dust.

I am at a complete loss for what to do and have no idea how to get out of this rut. 


Dear Lord,

I beg you to look at me, your pimply-faced, wicked servant.

I'm lying here, absolutely powerless. 

I want to beg for your assistance.

But I'm too scared, ashamed, and worthless to even lift my hand. 


Dear Lord, 

I am your servant, and I have sinned far too much. 

To ask for your assistance in this way feels very shameful. 

But I'm genuinely at a loss. 

With my strength dwindling by the minute, It feels like I cannot proceed on this voyage. 


Dear Lord, 

Please let me approach you in my utter lack of shame. 

Give me the courage to come before you as a sinner in need of mercy and forgiveness. 

Because deep inside, I still believe.

Laa haula wala quawwata illa billah.


My dear Lord,

I'm at the end of my rope, sobbing in a puddle of sorrow.

I'd want to raise my hand and ask for your forgiveness and help.

Please have mercy on me.

Allow and empower me to finish what I started by your will and help, amen.


Medan, October 1st 2022.


Saturday, February 01, 2020

1 February 2020

Sabtu, hari pertama Bulan Februari 2020, di ASSL, UoB,


Jam di sudut atas kanan laptopku menunjukkan angka 15:48. Sedari tadi aku sebenarnya sudah stay dipojok favoritku di perpustakaan ini. Bolak-balik mengecek semua hal kecuali disertasiku. AKu tahu aku seharusnya tidak melakukan itu. Tapi, apa daya, atas nama mengumpulkan mood, kubiarkan, eh bukan kusengaja memeluk semua distraksi itu. Mungkin untuk mengumpulkan rasa bersalah ketika hari sudah mulai berakhir, sehingga di rentang waktu yang selanjutnya, magrib sampai subuh, otakku mulai panik dan akhirnya mendesak anggota tubuh ini untuk menyelesaikan apa yang seharusnya kuselesaikan hari ini.

Ah, lalu akupun mampir ke sini. Ruang curhat yang telah lama kubiarkan berdebu. Rencanya mau mengeluarkan keresahan yang beberapa hari ini tersimpan di benak. Sudah masuk Februari, artinya tinggal tujuh bulan lagi waktuku menuntaskan ini. DUh, sungguh cepatnya waktu berlalu. Serasa baru kemarin aku menginjakkan kaki di negara ini. Tahun pertama yang penuh suka cita dan petualangan seru. Lalu, pertengahan tahun kedua yang mulai membuatku bertanya-tanya tentang apa sih yang aku cari dengan berada di sini. Tahun kedua ini memberiku warna tergelap dalam hidup. Bimbang, putus asa, buntu, sesak, sedih, marah, frustasi. Kelam. Tapi, tetap saja dalam prosesnya aku banyak belajar. Tentang arti hidup, tentang kelemahan manusia, tentang kesetiaan dan kepercayaan, tentang memilih untuk tetap percaya bahkan ketika semua yang tersaji di depan mata mengatakan sebaliknya. Memang ya, kadang justru dalam kegelapan, kita bisa melihat kebenaran yang selama ini tertutup tabir kerlap-kerlip, gaduh dan hiruk pikuk duniawi. Dalam gelap itu, aku justru bisa melihat siapa yang benar-benar peduli, siapa yang benar-benar mendengar dan memeluk, siapa yang tidak akan pernah pergi. Dan betapa, bahwa ketika aku merasa benar-benar tersesat, Dia yang maha penyayang selalu punya cara untuk menuntunku kembali ekpada cahaya.



Sekarang, sudah pertengahan tahun ke empat. Waktuku sudah tidak banyak. Aku seharusnya tidak bisa hanya sekedar berlalri untuk mencapai garis finish, tapi seharusnya malah terbang. Aku mencoba dan mencoba, walau harus kuakui, usahaku tidak sekeras yang aku inginkan. Entahlah. Seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menahanku bergerak. Kepalaku berkabut. Tebal. Entah bagaimana aku harus menerobosnya dan melepaskan sayap-sayapku dari belenggu kemalasan akut ini.

Sudah 16.05. Mereka yang di sekitarku beberapa sudah mengepak tasnya. Mereka siap-siap untuk party sepertinya. Iya, ini hari Sabtu. Biasanya perpustakaan sepi hari Sabtu. Orang sini selalu bisa disiplin untuk bekerja pol-polan pada weekdays dan party segila-gilanya pas weekend. Hmm, dan benar saja, si Nona Pirang sudah menggeret kursinya ke belakang dan akhirnya pulang. Aku? aku masih harus bertahan, menyibak kabut-kabut ilmu yang masih tidak sudi menampakkan diri. Hmmm.. bersabarlah, Ririn. Bersabarlah, sebentar lagi.


Monday, February 11, 2019

Mesin waktu itu bernama musik

'.. resapi jejakku, ikuti langkahku..
tegar mesti harus merangkak, ringankan lelahmu, bantu kamu melangkaaahhhh..'

Aku menuliskan ini ditemani suaranya Ari Lasso yang sedang menyanyikan salah satu lagu favoritku, Jalan Kita Masih Panjang. Beberapa hari terakhir, iTunesku terus menerus hanya memutarkan lagu DEWA 19, yang masih jamannya Ari Lasso. Sejujurnya, ini dipicu oleh berita di Line Today, beberapa hari lalu, yang katanya Dul menangis saat menggantikan ayahnya tampil di sebuah konser besar di Malaysia awal bulan ini. Aku melihat beberapa videonya. Mengharukan. Terlihat betapa kharisma seorang Ahmad Dhani tidak pernah pudar sampai saat ini, terlepas dari segala pro dan kontra akan jalan hidup dan pilihan politiknya. Dia satu dari sedikit orang di Indonesia yang aku tahu bisa dihujat namun juga dihormati pada saat yang bersamaan. Aku adalah salah satu BalaDewa, meski sudah tidak segariskeras waktu jaman SMP dan SMA, hehehehe.

Lalu, sepeeri juga mungkin kebanyakan BalaDewa yang lain, yang juga membaca berita tentang penahanan Ahmad Dhani dan tangisan Abdul Qadir Djaelani saat menggantikan posisinya, aku bernostalgia kembali dengan lagu-lagu Dewa 19. Aku menonton kembali video lawas mereka. Dan mengamini hampir semua komen yang ada. Tentang betapa berkualitasnya musik-musik yang digubah pada waktu dulu itu. Aku terharu saat membaca komen yang bilang, kalo lagu ini lagu keramat bagi dirinya dan pacarnya, yang sekarang sudah jadi mamahnya anak2. Ada juga yang bilang kalo lagunya Dewa adalah lagu wajib yang dibawakan setiap pensi sekolah. Duuh, aku tak bisa menahan haru. Aku merasa ditarik kembali pada masa-masa remaja, yang menurutku indah. Saat-saat pertama mengenal cinta, malu-malu bertemu gebetan, nonton basket hanya demi melihat sang idola mendrible bola. Saat bela-belain pulang sore demi liat doi latihan di studio bersama teman-temannya. Masa-masa di mana masalah besar itu scalanya hanya berputar di komik yang disita Bapak, dihukum karena tidak mengerjakan tugas, atau berantem dengan teman yang dalam dua tiga hari akan baikan lagi. Masa-masa di mana aku belum mengenal cicilan tanah dan bimbingan disertasi. Aku ingat, duluu, ketika Once menggantikan Ari Lasso, aku sempat benci setengah mati kepada Ahmad Dhani dan Once, karena bagiku tak ada yang bisa menggantikan Ari Lasso. Aku dan adikku sering berantem karena ini. Aku menuduhnya tak setia dan tak segariskeras diriku dalam mengidolakan DEWA 19 masa Ari Lasso. Hahahahha. Kelebayan anak muda sok tau lah yaaa...

Dan kini, aku menikmati lagu-lagu mereka lagi. Sambil mengingat-ngingat segala kejadian di masa lalu, ajaibnya, semua masih terasa nyata. jadi, kalau ada yang bilang mau beli mesin waktu untuk bisa kembali ke masa lalu, kusarankan tak perlulah repot-repot. Cukup putar lagu yang sering kau dengarkan pada saat itu, find a comfort place to be alone, and.. wuuuuzzz there you are...

Tuesday, January 15, 2019

Dear friends...

Assalamualaikum. wr.wb

Hai Semangat,
Hai Niat,
Hai Persistensi,
Hai Determinasi,
Hai Tekad,
Hai Ambisi,

Apa kabar kalian semua? Ku ajak reuni mau gak?
Aku kangen. Aku butuh bertemu dan menyatu lagi dengan kalian.
Aku ingin kalian membersamai hari-hariku lagi. Seperti dulu, pada awal-awal perjalananku di sini.
Kini jalanku kian menanjak, berkelok, dan beronak duri.
Aku membutuhkan kalian semua lebih dari sebelum-sebelumnya.
Mau undangan yang bagaimana yang harus kukirim pada kalian agar berkenan hadir dan menemaniku lagi?

Hai Semangat,
Hai Niat,
Hai Persistensi,
Hai Determinasi,
Hai Tekad,
Hai Ambisi,

Rujuk lagi, yuk...

Tuesday, July 17, 2018

just let time do what it suppose to do: healing. You'll be fine in the end.

Monday, July 16, 2018

aku lupa menghitung sudah berapa ribu kali aku berpura-pura tidak/belum tahu sesuatu yang sedang kau katakan kepadaku, hanya untuk mengangkat egomu. Aku tak suka melihat raut kesal atau jengkel yang kau pasang jika aku bilang aku sudah tahu informasi itu. Yah, aku selemah itu dulu. Mendahulukan perasaanmu. Sadly, you took it for granted.