Saturday, October 29, 2022

Satu-satu.

Taken from here

Saya sedang menyaksikan Kota Medan yang dibakar matahari lewat jendela kaca yang besar dalam sebuah kafe, dimana pendingin ruangan menghembuskan kesejukan. Segelas Pandan Latte membasahi kerongkongan saya dan pendengaran saya dibelai alunan suara Lyodra yang mengalun merdu. Di luar,  di bawah terik itu, tampak hilir mudik kendaraan lalu lalang. Ada truk-truk besar yang seakan mengintimidasi kendaraan lainnya. Lalu, beberapa kali melintas pengendara motor yang ugal-ugalan, berbocengan bertiga bahkan berempat tanpa memakai helm, dengan suara knalpot yang mengundang cacian orang-orang yang mendengarkan. Ada juga beberapa bentor butut yang terus tak gentar mengarungi jalanan yang brutalnya hampir sama dengan jalanan Makassar demi beberapa lembaran rupiah.  Saya bisa melihat peluh membasahi membasahi wajah dan baju bapak-bapak pengemudi bentor tersebut. Saya tak bisa melihat dengan jelas raut wajahnya, namun pikiran saya otomatis bisa memproyeksikan kerut-kerut perjuangan di wajah-wajah itu. 

Dan saya pun menyadari, bahwa bagi kebanyakan orang, tidak ada pilihan lain selain berjuang. Bagi sebagian orang, tidak ada privileges untuk mengeluhkan nasibnya yang kurang beruntung. Yang ada hanya opsi maju terus jalani satu-satu. Sementara bagi sebagian orang yang lainnya, termasuk saya, kadang terlalu sering larut dalam kegalauan yang mungkin tidak perlu dan bisa dihindari. Saya jadi ingat kata-kata seorang komika idola saya, Pandji Pragiwaksono, pernah berkata, kadang kita tuh merasa berat akan permasalahan hidup karena kita selalu merasa bahwa kita harus tau solusinya. Padahal, sebenarnya masalah itu pada akhirnya akan terurai sendiri pada akhirnya. Kita hanya perlu bertahan, hari demi harinya. Lakukan apa yang bsia dilakukan dan udah. Asal jangan berhenti, asal jangan putus asa. Dan terimalah kemana alur hidup membawa langkah kita. 

Nah, mungkin itulah yang saya harus lakukan saat ini. Saat kepala terlalu berisik dengan kegalauan yang tidak berujung, mungkin saya hanya perlu menambah volume headset saya untuk meredam suara-suara destruksif itu, lalu fokus mengerjakan disertasi saya. Satu satu, yang di depan mata saja dulu. Satu-satu, seperti kata Hindia. 


Medan, 29 Oktober 2022.

Tuesday, October 18, 2022

Spells



Dissolve, o free soul 


Calm, o restless mind 


Rest, o tired body 


Fly, o chained soul


Medan, October 18th 2022

Lalu Hilang

Melayang, lalu tenggelam, lalu hilang.

Akrab, lalu asing lalu lupa.

Besar, lalu kecil, lalu menajdi titik lalu hilang.

Sesak, lalu rindu lalu hilang.

ada, lalu hilang.

Sunday, October 09, 2022

From where I sit


Blank pages,
Frozen pointer,
Yura Yunita's voice,
Half cup of condensed iced coffee,


Hours wasted for nothing,
People come and go,
Fake smiles,
Repressed anger,

None gives a damn, out there
As the sun goes down,
From light to shadow,
No shoulders to lean on,

As at the end of the day, 
its simply you and your own battle,

Medan, 9 Oct 2022

Saturday, October 01, 2022

Silent Whisper

taken from here







Dear Lord, 

It's me, standing before you. 

It's me, who has sinned greatly and gotten lost many times while seeking You. 

It's me, your servant, and I am now clueless with my life.  


Dear Lord, 

I'm now in this unbelievable state of confusion.

It seems as though I have no more strength in me to complete this stage of my life.

Being in this position has made me feel as insignificant as a speck of dust.

I am at a complete loss for what to do and have no idea how to get out of this rut. 


Dear Lord,

I beg you to look at me, your pimply-faced, wicked servant.

I'm lying here, absolutely powerless. 

I want to beg for your assistance.

But I'm too scared, ashamed, and worthless to even lift my hand. 


Dear Lord, 

I am your servant, and I have sinned far too much. 

To ask for your assistance in this way feels very shameful. 

But I'm genuinely at a loss. 

With my strength dwindling by the minute, It feels like I cannot proceed on this voyage. 


Dear Lord, 

Please let me approach you in my utter lack of shame. 

Give me the courage to come before you as a sinner in need of mercy and forgiveness. 

Because deep inside, I still believe.

Laa haula wala quawwata illa billah.


My dear Lord,

I'm at the end of my rope, sobbing in a puddle of sorrow.

I'd want to raise my hand and ask for your forgiveness and help.

Please have mercy on me.

Allow and empower me to finish what I started by your will and help, amen.


Medan, October 1st 2022.