Thursday, April 20, 2017


Definisi 'cari mati' yang sesungguhnya. Sudahlah, aku memang bego. 

Wednesday, April 19, 2017

After All this Time





Entahlah, saat itu, jiwaku dikepung oleh kilasan memori yang mendobrak ingin keluar. Tentang betapa kita pernah seperti ini, duduk diam tak mengucap kata, tapi kita bisa saling mengerti. Kau selalu punya kualitas itu dalam dirimu, menawarkan kebisuan yang membebaskan. Sesuatu yang belum pernah kutemukan pada orang lain. Mungkin itu sebabnya melepaskanmu menjadi begitu berat. 

Lalu, hatiku memutuskan untuk membebaskan dirinya darimu. Dari semua harapan dan doa yang sepertinya tidak berujung di akhir yang kuimpikan. Maka, dalam sendiri aku mengucapkan selamat tinggal padamu. Semacam ritual yang kulakoni berulang-ulang di waktu silam. Hilanglah dalam damai. Bahagialah untukmu dan untukku.


13 April 2017,
Lausanne, Switzerland

Thursday, April 06, 2017

Setelah 6 Bulan di Bristol

Akhirnya, setelah kurang lebih 6 bulan di sini, menghadiri 4 kelas, mengerjakan 3 essay, membaca reading list yang bejibun, melihat nilai yang sudah keluar, aku bisa bilang kalau aku sedikit demi sedikit menemukan kepercayaan diri kembali sebagai mahasiswa. Alhamdulillah, kecemasan yang mungkin agak berlebihan (tapi sebenarnya jamak dirasakan international students di awal masa perkuliahan) akhirnya perlahan bisa aku kikis. Atau setidaknya aku mulai mahfum bagaimana cara deal dengan semua kecemasan itu. Benarlah kiranya bahwa kuliah di luar negeri (maupun dalam negeri) bukan hanya masalah nambah ilmu tapi juga belajar menaklukkan tantangan (yang kebanyakan berasal dari dalam diri sendiri) dan akhirnya kompromi dengan keadaan.

Tadi adalah hari terakhir kuliah sebelum easter break. Nama unitnya Global Higher Education. Sejauh ini, unit ini yang paling menajdi favorit aku. Sejak awal, aku merasa bahwa readingnya sangat gampang dipahami. Mungkin karena latar belakangku yang bekerja di sebuah universitas, jadi sedikit banyak bisa relate sama pengalaman selama ini. Atau mungkin juga, lebih dari yang berani aku akui, I am getting better in terms of my academic abilities, alhamdulillah. Dulu sebulan sebelum unit di mulai, aku seringkali setress karena dalam usaha memahami maksud bacaan, aku kadang butuh membaca reading yang sama berulang-ulang. Bahkan harus mencari versi bahasa indonesianya agar dapat mengerti dan mengikuti online lecture untuk tema terkait.  Ketika kelas berlangsung, aku akan lebih banyak diam. Selain karena tidak pede dengan kemampuan bahasa inggris yang kurasa masih kurang juga ragu apakah pendapatku benar atau malah salah.




Untungnya, model pembelajaran yang umum terjadi di dalam kelas memungkinkan semua siswa mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan pendapat. Sikap dosen dan teman-teman sekelas sangat membantu aku untuk berani bersuara. Dari pengalamanku selama ini, semua pendapat diapresiasi. No right and wrong answer kata dosenku. Yang beda adalah cara dan sudut pandang kita dalam memahami suatu konsep dan itu sangat wajar terjadi dalam kehidupan akademik. Justru, dengan menyuarakan apa yang kita pahami, bisa membuka wawasan orang lain untuk melihat dari perspektif yang berbeda, yang pada akhirnya memperluas wawasan dan membuat kita semua menjadi lebih bijak dalam memaknai sesuatu karena itu tadi kebenaran tergantung dari sudut mana dan dengan lensa apa kita memahami sesuatu.

Aku merasa sangat positif terlebih setelah mengikuti mata kuliah hari ini. Aku senang ketika aku akhirnya berani keluar dari kecemasanku sendiri. Aku senang ketika teman dan dosen antusias mendengarkan opiniku. Aku senang karena ternyata aku juga bisa. Sama sekali tidak masalah jika kita punya pendapat yang berbeda, selama kita bisa menjelaskan alasannya dari sudut pandang kita. Tak perlu baper kalau ternyata teman kita memiliki penafsiran sendiri yang sangat bertolak belakang dengan pemahaman kita, karena dari situ kita belajar melihat dari sudut kacamata baru. Pengalaman ini membuatku berfikir dengan sistem pendidikan di Indonesia. Menurutku, beginilah seharusnya atmosfir yang ada di ruang-ruang kelas kita. Sekoalh bukan hanya menjadi tempat pertukaran pengetahuan semata antara guru dan siswa atau antara siswa dan siswa, tetapi juga harus bisa mentransformasi pola pikir dan prilaku, memperluas cakrawala, menumbuhkan empati, membangun kepercayaan diri siswa dan memungkinkan siswa bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Well, akhirnya aku menemukan diriku kembali, membuatku melihat dengan jelas alasan mengapa dulu aku ingin kuliah di sini. Alhamdulillah ya Allah atas apa yang terjadi dalam hidupku. Terimakasih telah membuatku menyadari bagaimana mewujudkan mimpiku to become a good lecturer who can bring out the best of their students. Pengalaman yang kudapat di sini sangat berharga. Teruslah terangi langkahku, ya Allah... 

Sunday, April 02, 2017

Essay Break, hehehe

Hallo,

Aku nongol lagi nih. Pening semakin menjadi-jadi saja saat aku memaksa untuk tetap membaca bacaan buat kuliah Selasa nanti sekaligus nyambi ngerjain essay untuk modul yang kemaren. Lucu memang cara otakku bekerja. Saat ngerjain essay bisa sekaligus sambil mikirin si reading juga dan begitupun sebaliknya. Jadinya kapanpun aku lagi mood nulis, maka aku akan berhenti sejenak dari reading dan mulai mengetik beberapa kalimat bahkan paragrap. Tetapi, di sela-sela itu, aku akan teringat reading dan berpalinglah fokusku pada artikel jurnalku. Atau, kalau sudah sangat jenuh dengan keduanya, aku melarikan diri pada hal lain. Yang paling sering sih nge-game, hehehehe

Nah, saat ini aku sedang tidak mood main game. Mataku terasa kering karena terlalu lama terpapar radiasi lappy dan kepala juga semakin pening aja rasanya. Memaksa mata menatap bola-bola warna warni secara intens bisa memperburuk keadaan.  Maka, aku memilih memejamkan mata sejenak dan lanjut ngeblog (ini juga kan kena radiasiii, gimana sih, heheh). Hape sengaja aku matiin untuk menghindari distraksi dari segala rupa media sosial. Meskipun bisa sih sebenarnya diakses dari lappy juga, hehehe... Tapi, setidaknya, distratksi hape masih jauh lebih besar dibanding lappy.

Oh ya, tadi juga aku sempat ngecek website calon akomodasi untuk ditinggali di tahun kedua. Sejenis students' shared-flat buat bertiga (aku, Teh Diah dan Daryl). Lumayan bagus (berdasarkan foto-foto yang ada) dan murah sih menurut kami. Sebulan cuman kena kurang lebih £400 all include. Jauuh banget sama harga akom sekarang yang £675 per bulannya. Lumayan kan beda £275, bok. Kami memang berencana nyari yang lebih murah sih pas tahun kedua. Selain pengen bisa nabung, kami juga kebeneran sangat doyan main dan jajan hehehe.. jadi dengan selisih segitu tiap bulannya, bisa banget lah ya bikin goal "Menuju Ririn Kaya dan Bahagia 2020" wkwkwk. Tentulah hunting akom tak afdol kalo belum viewing. Sebenarnya, kemaren Daryl sempat bilang kalo urusan viewing2 biar dia aja. Tapi, dia belum sempat karena keburu pulang Indo hari ini,, hiks. Jadilah urusan ini diambil alih olehku dan Teh Diah. Aku sudah buat appointment untuk viewing TKP hari Kamis jam 5 Sore, pas kuliah kami selesai. Semoga cocok deh. Malas banget sebenarnya sama urusan beginian. Tapi HARUS.







Semua foto ini diambil dari
http://www.bristolsulettings.co.uk/properties/property/5864618-west-street-bedminster-bristol

Sebenarnya ya, aku lebih prefer untuk tinggal sendiri sih ketimbang shared-flat begini. Why? Karena aku tuh orangnya sangat moody dan kadang agak psycho anti sosial untuk saat-saat tertentu. Kedua temanku ini tak diragukan lagi kebaikan hatinya. Tapiiiii... justru itu yang membuatku agak berat sebenarnya. Aku takut ga bisa membalas dengan kebaikan yang sama. Apalagi sama Teh Diah yang pembersih, yang teratur, yang pinter masak, yang disiplin. Sedangkan akuuu??? aku yang "rantasa", sangat sangat sangat cuek, malas masak, malas beberes, dll. Kan gak enak kalo dianya beberes sementara aku lagi malas. Kalo sendiri kan mo gimana berantakannya kamar aku mah biasa aja. Daaan sudah bukan rahasia lagi, kalo sesama cewek tuh suka rada-rada sensi. Hufft gimana dooong??? Kalo sama Daryl aku belum tau juga anaknya gimana. Tapi biasanya sih cowok lebih cuek ya, jadi mungkin lebih agak bearable lah. Tapi bisa jadi juga sebailknya. Konon semakin dekat kita dengan seseorang, semakin terlihatlah kekurangannya. Ada yang bisa kita tolerir dan ada juga yang tidak. Dalam hal ini, aku bukan merisaukan kekurangan teman-temanku ini sih, tapi lebih kepada beberapa kebiasaan burukku yang mungkin membuat mereka tidak nyaman. Huft 1000 kali. lalu mengapa aku mau? Pertama, aku gak enak karena sudah diajakin beberapa kali tapi nolak terus (kalo nolak lagi kok ya kayak songong bgt aku ini). Kedua, gak mungkin selamanya menghindari hidup dengan orang lain kan? Kalo nikah kan ntar mau tak mau harus hidup sama pasangan yang pasti memiliki banyak perbedaan juga sama pribadiku. Nah untuk itu, aku niatnya setahun berbagi flat itu sebagai latihan hidup berkompromi dan saling mengalah dengan orang lain. Semoga lancar jaya,, aamiin.

Hokelah, cukup sudah escapinnya. Saatnya kembali ke dunia nyata. Essay, reading, come to mamahhhh...

Simply Be Thankful

It's 22.08. I am still in the Senate House with my journal articles on my lap. I am a bit sleepy and tired, trying to understand what this reading is about. Oh, I am feeling dizzy. Inhale... Exhale... "It's OK", I said repeatedly to myself. "Be thankful, Ririn for your dream to study abroad has been granted now, in the very place on earth you wished you would stay". Yeah, I should've known that it won't be easy but hey, you're stronger that you think. Just do it. Just finish what you have started. In the end, everything is going to be OK. 

Ganbatteeeee.... hosh..hosh...

Wednesday, March 29, 2017

Distractions while (trying) finishing my essay...

Hai..hai..

Jam digital di lappy menunjukkan pukul 18:43 waktu Bristol. Artinya, sudah kurang lebih hampir empat jam saya di Senate House ini dengan niat yang suci mulia hendak menyelesaikan essay karena oh karena hilal deadline sudah sangaaaaat dekat. Well, sebenarnya saya tipe orang yang agak susah mengerjakan sesuatu jika deadlinenya belum mepet-mepet amat. By saying "mepet" I mean 24 hours before submitting, yaaaa... Dan deadline essayku kali ini adalah 11 April. Masih lamaaaa untuk ukuranku yang biasanya. Tapi kali ini mau tidak mau harus diselesaikan secepatnya karena ada kuliah lagi tanggal 3,4,5 April, dan tanggal 7nya Sukma, teman dari Kendari yang kuliah di Exeter, akan berkunjung ke Bristol. Kemudian pada tanggal 10 April aku dan beberapa Deans Squad akan ada Euro trip ke empat negara: Prancis, Swiss, Italia dan Belanda. Soooo, mau tak mau tugas ini harus sudah selesai besok kalo menurutku. Soalnya kan untuk kuliah yang tanggal 3, 4, 5 itu aku harus banget baca reading list dong. Kelasnya sih audit only, tapi ya tetep gak mungkin juga gak baca.

Nah, dengan kondisi waktu yang sudah sangat-sangat darurat ini, harusnya panic moodku sudah bangkit dong sekarang, harusnya dia saat ini sudah mengusir monyet procrastinator yang dengan bawelnya masih berkuasa dalam sistem kerja otakku. Tapi..tapi..tapi.. bukannya fokus ngerjain essay ato baca artikel terkait eh akunya malah baca yang lain. Aku blogwalking dong dari sejam yang lalu. Dari intip-intip blog teman yang ada di list blogku, sampailah aku pada blognya Mbak Flo yang menceritakan hasil reviewnya tentang sebuah wedding organizer pas dia nikah. Aku akhir-akhir ini jarang banget mampir di blog jadi gak tau kalo Mbak Flo ternyata udah nikah aja. Maka, kepolah aku pada beberapa postingannya yang terdahulu. Apalagi kalo bukan kepoin proses dia akhirnya memutuskan menikah, hehehe... But, ternyata si Mbake gak nyeritain proses itu di blognya. Disimpan sendiri kali yee biar lebih privat. Setelah dari lamannya Mbak Flo aku mampir ke "rumah"nya Pak Made Andi, yang dalam postingan terakhirnya, bercerita tentang hari raya Nyepi yang dijalaninya. Trus ke blognya Maknyak, Nope, ke Jeng Irna, dll. Blogwalking ini jadinya mengundangku untuk menulis juga (meskipun ga penting dan seharusnya yang aku tulis itu adalah essayku, sodara-sodara!!).

Kupikir ya.. biarlah nulis aja dulu agar "racun-racun" dalam kepala bisa hilang dan yang tersisa tinggal kenangan pikiran yang jernih dan niat agung untung menyelesaikan essay dengan tepat waktu sesuai target. Maka, here I am writing this "syalalalala" kid of tuf, hehehe. Duh gusti, ini kebiasaan kayaknya sudah harus harus HARUS aku rubah deh. Tapi aku bukan tanpa usaha loh ya. Sebelum ini, aku sudah mulai mencicil tulisan demi tulisan. Mulai dari bikin outline, trus nyari bahan, trus mulai nyicil nulis per subsesinya. Tapi,, ya itu, karena susah fokus kalo belum deadline akhirnya sehari hanya bisa dapet 150an kata. Pernah sih pas lagi on banget, tiga jam bisa menghasilkan seribu kata lebih, tapi ya itu, dua hari berikutnya aku balas dendam dengan leyeh-leyeh tak jelas di kosan. Anothher huftness. Aku sudah pernah discuss sama teman akan masalah ini. Aku bilang ke dia kalo sebenarnya salah satu tujuanku kuliah di LN adalah untuk mengubah kebiasaan buruk sistem kebut semalam ini tapi sampe sekarang belum berhasil dan ini sering membuatku setress. Tapi kata dia:

"Well, teh, mungkin pada akhirnya teteh akan berubah perlahan-lahan... tapi mungkin juga enggak dan akhirnya malah bisa berdamai dengan diri teteh sendiri dan mulai menerima bahwa itulah diri teteh. Sistem kerja otak orang beda-beda teh, ada yang harus ngerjain awal waktu banget ada juga yang kayak kita, yang baru bisa kerja pas diakhir waktu. Udah terima ajah. Kita memang begitu. Toh selama ini juga kan ga ada cerita kita ga bisa selesein tepat waktu, ya kan?" (Purawijaya, 2017).
Pulang-pulang aku lamat-lamat memikirkan perkataan si Daryl ini. Iya ada benarnya juga kali ya. Inilah saku dan beginilah cara otakku bekerja. Jadi, mungkin sebaiknya aku mulai harus lebih mengasah skill "cuek"ku terhadap orang-orang yang selalu menuntutku untuk bisa bekerja seperti ritme mereka, yang kayaknya sampai sekarang sangat menyiksa buatku. Karena, setiap orang itu beda-beda. Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri. kalau dipaksakan kasihan dan gak guna juga. Yakan? yakan? Aku sudah coba berkali-kali tapi selalunya tak berhasil. Jadi dari pada setress aku gunakan waktu "tak bisa fokus"ku itu untuk main game atau nonton atau mager to the max sambil memikirkan outline essay yang akan kukerjakan nanti. Hasilnya sih biasanya oke kalau gitu.

Kyaaaaa... leganya habis menuliskan iniii... kayaknya aku bisa fokus deh habis ini negrjain essaynya. Aku berencana nginep di sini malam ini. Karena kalau di kamar, bawaannya pengen tiduran ato main game. Setidaknya, Senate House full malam ini. Para students lagi ngejar deadline juga kayaknya. Soalnya sudah mau easter break, jadi mereka memutuskan menyelesaikan essay mereka agar bisa menikmati liburan dengan maksimal. Well well, kuharap energi dan semangat mereka bisa menular padaku juga, hehehe... okelah,, aku lanjut ngessay lagi yaaa... Doakan bisa kelar dan submit besoknya... byeee

Referensi:
Purawijaya, D. (2017). Percakapan waktu jenguk Daryl yang lagi sakit. Bristol: Flatnya Daryl.

PS: ini tulisan wordcount-nya 813 kata lho. andai bisa ngessay selancar ini yaaa, hehehehe


Tuesday, March 28, 2017

Stories from Yesterday...

Hallo...

Matahari di Bristol hari ini tidak seenak matahari di London kemaren. Aaah akhirnya bisa menikmati London tanpa menggunakan mantel. London sore kemaren begitu cantik dan hangat. Paginya, eh siangnya sempat agak-agak gondok sama om petugas VFS yang keliatannya baik tapi ternyata nyewbhelin. Padahal kantornya juga biasa ajah (kayak klinik bersalin di pustu adek aku di daerah terpenciiiiiiilll di suatu pulau di Sulawesi Tenggara). Padahal padahal padahal,,, ah banyak lah padahalnya, intinya si om ituh bikin syebelll, hehehe. Oh iya, aku sama teman-teman kemaren ke London dalam rangka mengurus visa buat Euro trip April nanti. (Sebenarnya intinya mo riya' masalah ini sih, tapi harus pencitraan jadinya dibuatlah prolog yang panjang, xixixi).

Oh iya, balik ke si Om yang nyebelin itu... sebenarnya dia mungkin biasa aja ya,,, tapi naluri soudzoniah yang telah kurawat baik-baik ini akhirnya membuat aku sempat memikirkan untuk melepas kabel-kabel di komputernya, Belom tau dia sedang berhadapan sama tukang rusuh dari Sulawesi ini, AHAHAHAHHAHA... tapi gajadi deng, karena ada malaikat khuznuzoniawati yang bernama Mury yang selalu mengingatkan untuk jadi anak baik-baik. Maacih Mury..

Kelar urusan dunia di VFS, kami lalu ke Nusa Dua karena Mbak Khay udah lama banget pengen makan di sana. Nyari Nusa Dua ini membutuhkan beberapa kali tawaf karena dikerjain City Mapper yang agak kurang akurat plus skill baca peta kami yang yaaaaah gitulah. Tapi begitu sampai, lelah kami buyar demi melihat makanan indo tersaji secara nyatah di hadapan kami. Akhirnya, proper lunch pemirsah. Kemaren aku juga janjian ketemu Ricky yang mau ambil buku titipan Teh Diah dan jadinya ketemu lah kami di sana. Makan-makan dan ketawa-ketawa rebes, pasukan kami kemudian lanjut ke Museum Sherlock karena Mury fans berat si Sherlock ini dan kemudian ke area center demi membawa Mury ketemu Big Ben untuk pertama kali.

Bahagia setelah temu kangen makanan Indo, hehehe


Dedicated for Tante Agatha Cristie...
Somewhere near Nusa Dua  Indonesian  Resto


Who run the world?? GIIIRLSSS.. 

Mury di sarang penyamun Sir Sherlock

Poto di sini wajib katanya, heheh

Seorang fans Sherlock, heheh


Daaaaaan... yang bikin shock sekaligus miris apa cobaaaa? masa dia bilang Jam Gadang lebih kece di banding BIG Ben. Mury, are you okay??? I mean, ini Big Ben yang di LONDON lohhh Muuur... berikut reka ulangnya:

(ini percakapan waktu masih pagi di bus dari Victoria Coach Station ke kantor VFS)
Mbak Khay: Ini lho, Muur.. tadaaa.. (perlahan-lahan Big Ben nampak dipelupuk mata)
Aku: (Menunggu respon excited Mury...)
Mury: "..... kok lebih keren Jam Gadang ya..?"
Mbak Khay & Aku: "HWAAAAATTTT??? Muryyyyy?

Yah begitulah si Mury ini, gadis super cool dari Melayu. Aku ingat padahal pertama kali liat Big Ben ini noraknya minta ampun. hahaha.. apalagi pas ke sini sama Abdan, heboh to the max. Eh ini anak malah biasa ajah.. *&^%$£@! O. Itu percakapan pas pagi sih diliat dari bus. Mungkin itu kali yaa, penyebabnya. Tapi, heyyyy... masa siiih??

Akhirnya sesampenya di kaki BigBen, aku tetap penasaran dan nanya Mury lagi dong, "eh Mur, serius lebih bagus Jam Gadang dari ini?" trus katanya "...oooh iya sekarang Big Ben bagus deh, Mbak." Tapi kok aku ragu ya,,, mungkin dalam hati kecilnya Jam Gadang tetep lebih bagus, ahahaha (Ratu soudzon). Sore yang cantik sekali kemaren kami habiskan dengan menikmati Sungai Thames sambil nongki-nongki cantik di Pret A Manger dekat situ. Si Arip pesen jus apaaa bgtu yang rasanya lumayan enak. Aku pengen habisin sih sebenarnya kemaren itu jusnya si Arip itu tapi takut dibunuh, wkwkwk.

Very nice afternoon

selpie selpie
cuaca okey senyum okeeyyy



antrian untuk poto di telepon box ini tak pernah sepi

Mb Khay n Mury


gak lagi endorse inih


Jam sudah menunjukkan hampir jam 7pm, langit masih terang sebenarnya (sekarang sudah resmi masuk Spring, jadi siang lebih panjang) tapi tiket kami buat balik Bristol jadwalnya jam 7. Kami pun berjalan menuju bus stop menuju Victoria lewat Westminster Abey. Sepanjang jalan banyak buket bunga yang cantik sebagai tanda berbela sungkawa bagi korban baik yang meninggal dan luka-luka pada teror penabrakan yang dilakukan oleh orang jahat beberapa hari lalu. Hatiku tersentuh pada budaya orang sini dalam berempati. Semoga kekerasan dan teror tidak terjadi lagi deh di muka bumi. Kami menunggu bus datang sambil foto-foto. Dan seperti biasa, poto-poto Arip selalu ketjeh. Mata potograper emang beda si yaa,,

Beberapa menit kemudian bus kami datang dan mengantar kami menuju Vicoria Coach Station untuk balik lagi ke Bristol. Sebenarnya, nyampe Bristol masih ada satu lagi event istimewa yaitu surprise party untuk adik bungsunya Deans Squad. Tapi ceritanya nanti aja, di postingan yang spesyal untuk si Andri.

Demikianlah.. akhirnya bisa nulis lagi, hehehe
Eh ini poto2nya yaaa....





Monday, March 06, 2017

Still falling for you.
Ellie Goulding yang nyanyikan
Hatiku yang mengiyakan.
Kebodohan purba. 

Thursday, March 02, 2017

Is it ok to cry now? 
Tap tap tap
Ketergesagesaan berderap datang dan pergi. Masing-masing memikul diam yang ribut. Ada waktu yang tak berhenti mengejek. Ada gumam sayup yang mengintimidasi. Ada aku bertoleh tak henti. Ada aku jadi pecundang. Menunggu pada tangga di pojokan. 

Wednesday, February 01, 2017

&*%$£@

Kursor yang berkedap-kedip ini seakan mengejekku. "Mau menambah daftar draft lagi, Jeng?' ejeknya. "We'll see" kataku pendek. Entahlah aku malas menghitung sudah berapa tulisan yang kubiarkan tetap berstatus draft di blog ini. Terakhir ketika aku ingin membuat refleksi di hari bertambahnya umurku menjadi 32 tahun. Sudah ada beberapa paragraf sebenarnya tapi apa daya, swinging-moodku memang sudah berada pada level akut. Tiba-tiba saja aku kehilangan minat untuk melanjutkan menulis. Entah apa sebabnya. 

Lalu aku pun mulai mencari-cari alasan. Essay lah, reading list lah. Walau ku tahu pasti bukan itu alasannya. Kalau mau jujur, mungkin aku sudah kehilangan muse untuk menulis. Aku mulai berfikir hidupku mungkin terlalu biasa untuk diceritakan. Itu alasan mati sebenarnya. Karena aku tahu beberapa orang dengan terang-terangan ingin menjalani hidup yang kujalani sekarang dan akan dengan bahagia menuliskannya untuk kemudian dikenang dan dibanggakan kepada anak cucu kalau umur panjang. 

Hufftttt... bahkan untuk melanjutkan postingan ini pun rasanya aku kehilangan minat. setiap selesai satu paragraf, kursor kubiarkan berkedap-kedip sendiri beberapa menit lalu kutinggal sendiri untuk membuat teh dan main game. Salah satu resolusi ulang tahun untuk mulai menulis lagi kayaknya akan menjadi sekedar resolusi lagi kalau begini ceritanya. 

No. Tulisan ini tak akan kubiarkan bergabung menambah panjangnya draft di blog ini. Kuposting sajalah siapa tahu bisa membuka saluran minat menulisku yang sudah lama sekali tersumbat. Sangat berharap bakal sering lagi menulis seperti dulu. Semoga.

Monday, October 03, 2016

Homesick

Assalamualaikum wr. wb.

Harusnya aku tau dari awal kalau salah ngomong itu bisa bahaya. Apalagi kalau ucapan itu ada unsur sombongnya.

Jadi, malam kemaren,  geng Dean's plus geng Langford lagi kumpul buat dinner bareng di dapurku. Seperti biasa, kami ngobrol apa aja,  lompat dari topik satu ke topik yang lain tanpa jelas transisional signalnya, sampai akhirnya tetiba kami sudah membahas tentang homesick.

Risna, Teh Diah,  Mb Khaya, sampe Rifki dan Arief ternyata sudah ngalamin homesick sejak kurang dari sebulan tinggal di sini. Hanya aku dan Yeyes aja yang dengan sombongnya ngaku kalau belum kena homesick sama sekali. Kami bahkan berhigh-five dengan tanpa dosanya di depan teman-teman kami.

Lalu,  hari ini pun berjalan seperti biasa. Langit biru cerah membuatku semangat keluar flat untuk menikmati hari sekaligus jadi guide buat Mb Mury yang mau ke kampus buat ngurus ini itu terkait registrasi ulangnya di kampus. Sebelum keluar,  aku pun sudah sarapan sehat,  mandi,  dan dandan cantik jadi sepertinya tidak ada alasan untuk tetiba baper rindu rumah.

Pulang dari kampus,  setelah maksi dan solat, kok tiba-tiba ngantuk. Jadilah, aku ijin Mb Mury mo bobo cantik sejenak. Gak ada mimpi aneh-aneh juga tapi kok pas bangun-bangun kok langsung sedih aja. Ingat orang rumah, ingat kamar, ingin manja-manja sama mama, ingin gigit ponakan, ingin ngasih makan ikannya bapak, ingin ngeteh di teras sambil makan gorengan.. Hwaaaaaa...  I am feeling blueeee.. Air mataku kok jadi sangat down to earth gini yak..? Hiks hiks hiks

Oh ya,  ada satu hal lagi yang menyiksa,  aku gak bisa melampiaskannya dengan meraung-raung atau sesenggukan seperti biasanya. Ada Mb Mury lagi ngetik. Mana kalau nangis kan pasti idung banjir kan? Tapi demi gengsi ku tahan juga dan itu sangat tidaaaak menyenangkan. O God,  aku rindu rumah.

Okelah, pelajarannya adalah,  nanti ga boleh takabur lagi bahkan untuk hal yang keliatannya sepele. Bersyukur karena Allah masih mau mengingatkan sehingga tidak keterusan.. Well,  Mama, Papa,  Amam,  dan semuanya sehat2 dan habagia terus di sana ya... Nanti kalo video callan kita bahas yang senang2 dan yang lucu 2 aja. Melihat senyum dan tawa kalian itu bisa mengisi energiku selama seminggu,  lho..

From Bristol with love..