Friday, June 23, 2017




Benarlah kiranya kata dosenku dulu, Prof Endang, bahwa kalau mau efisien mengerjakan tugas maka pastikan kamu berada di tempat yang tepat: perpustakaan. Jadi, beberapa hari kemaren, aku sudah membulatkan tekad untuk mulai melirik kembali essay yang belum juga selesai ini. Tapi apalah daya, distraksi datang dari arah amana saja (yang paling banyak sih sebenarnya dari internal aku sendiri). Isi kepalaku riuh oleh lakon yang muncul silih berganti, tak begitu jelas lagi mana yang kenangan mana yang imaji. Secara tak sadar, aku menikmatinya. Beautiful chaos, I think.

Tapi, bagaimanapun menggodanya untuk tinggal lama-lama di dunia dalam kepalaku itu, aku kahirnya mau tak mau harus keluar juga. Maka hari ini, aku ke perpus, eh bukan, ke senate house ding. Sebelumnya emang ke GSoE, janjian sama Mas Ary yang mau numpang ngeprint. Trus ngobrol seputar penelitian dan dunia fotografi. Dan, setelah dua jam kami pun pisah. Aku memilih pindah ke Senate House, sementara Mas Ary ke mana ya, aku lupa.

Dan, di sinilah aku sekarang. Satu demi satu jurnal kubaca kembali. Beginilah kalau sempat vakum, harus mundur beberapa langkah lagi untuk kemudian bisa lanjut. Well, tidak perlu mengeluh. Salah sendiri tidak istiqomah. Alhamdulillah, satu subsection berhasil kelar. Aku menyempatkan diri blogwalking dan menulis ini untuk transisi lanjut ke pembahasan selanjutnya. Oke dokeh,,, waktunya kembali bekerja... ciaoooo...

Tuesday, June 20, 2017

Berkeliaran di kepala rupa-rupa andai.
Dari yang kukira sudah terkubur di limbo
Sampai yang masih tak berbentuk diujung sana.
Dan diantara semuanya, kecemasan dan ketakutan masih gentayangan dengan keras kepala.

Friday, June 16, 2017

"...perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri, kuatkanlah hati, Cinta... Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya.. ingatkah engkau kepada angin yang berhembus kepada yang kan membelaimu, Cinta.. "

Out of nowhere, you asked me to listen to this song, and I am hit by the feeling I never anticipated before. You win again, I guess.

Thursday, June 15, 2017











Memasuki masa-masa aku sangat membutuhkan tawa untuk tetap waras. Kalian memberikan itu. Terima kasih. 

I should have trusted my instinct at the very beginning. Yet, it's OK though. We learn from our mistakes, don't we? Now it's time for preparing myself for the worse. Worry? Fear? Of course! Still, the time has proven, that in the end, everything's gonna be olrait. 

Monday, June 12, 2017

Kombinasi puasa 18 jam, kurang tidur, essay, group work, pilihan hidup, keputusan penting: Kurus lagi!!! 
Fear nothing, dearest one. You have me. Chin up and smile. Best things are waiting for you. 

Saturday, June 10, 2017

Bristol, library pukul 19.42. Sudah lebih dari 7 jam aku di sini. Berkutat dengan draft essay.  Jumlah kepala-kepala yang mencuat di balik kubikel kian berkurang jumlahnya. Irama tak tik tok bunyi keyborad yang ditekan pun terdengar hanya dari beberapa meja di ujung sana. Sekarang memang memasuki tahap-tahap lenggangnya perpustakaan. Mahasiswa undergrad sudah selesai exam dari dua minggu lalu. Mungkin sekarang mereka sedang tersebar di sudut-sudut pantai dan highland di UK dan sekitarnya untuk menikmati libur musim panas. Ah,, asyik sekali.


ASSL Library


Alhamdulillah, hari ini paperku semakin jelas kemana tujuannya, yang ditandai dengan rampungnya bagian introduction. Titik, yang kalau untukku, hanya bisa dicapai setelah berminggu-minggu mengunyah dan mencerna maksud dari jurnal-jurnal yang ku baca juga diskusi dengan teman seperjuangan. Well, bagiku, bagian yang paliing sulit dan membutuhkan waktu yang lama ketika menyusun essay adalah menuliskan bagian pendahuluan. Mengapa begitu? sebab bagian ini adalah miniatur dari keseluruhan tulisan kita. Dia harus mencerminkan apa saja yang akan kita bahas serta justifikasi dari pendekatan-pendekatan yang kita pakai dalam membahas sesuatu. Dan, seperti yang telah aku bilang tadi, untuk bisa memutuskan topik apa yang akan aku tulis, pendekatan apa yang akan dipakai dalam membahas topik tersebut harus melalui proses membaca yang bwaaanyaak. Harus memilih-milih bacaan yang relevan dan mencoba mensintesize ide itu butuh skill tersendiri. Bagi orang yang susah fokus seperti diriku, proses membaca dan kemudian mapping ini bisa membuatku sangat lelah karena ditengah-tengah itu distraksi bisa datang dari segala penjuru alam raya. Dunia maya dan dunia nyata. Mulai dari media sosial (path, twitter, WA, Line dan instagram) sampai pada ajakan jalan-jalan yang sangat susah ku tolak, hehehe. Makanya, ketika akhirnya gambaran utuhnya sudah bisa kubayangkan, maka rasanya 80 persen essayku telah jadi. Horeeee...

Pencitraan, syalalala 😜


Hal yang patut disyukuri juga hari ini adalah, kabar bahwa operasi Bapak telah selesai dengan lancar. Beliau pun telah siuman meski masih mengeluh kesakitan pasca operasi. Sungguh ini benar-benar membuatku tenang dan akhirnya bisa berfikir dengan lebih fokus. Tetapi, memasuki jam-jam rawan lapar setelah berpuasa selama hampir tujuh belas jam membuatku mau tidak mau berhenti sejenak. Buka puasa masih kurang lebih satu setengah jam lagi. Yeah, di UK, rentang waktu menjalani puasa lebih lama 5 jam dari Indonesia. Kami di sini harus berpuasa selama kurang lebih delapan belas jam. Alhamdulillah masih bisa bertahan sampai sejauh ini, meski berkali-kali godaan untuk membatalkan puasa begitu tak tertahankan, hehehhe. Pada titik ini, menatap kursor yang berkedapkedip hanya akan menambah pusing. Semakin dipakasa akan semakin mumet. Maka, seperti biasa, "melarikan diri" ke blog ini menjjadi seperti oase. Blog-walking dan menulis membuat otak bisa beristirahat kembali segar. Satu yang kupelajari adalah, jika capek atau mumet, ya sudahlah, tinggalkan sejenak. Go for refreshing. Tapiii, jangan sekali-kali menutup Ms. Word loh ya. Bisa bablas, heheh.

Nah seperti sekarang, rasanya sudah lebih rileks lagi saatnya kembali kepada essay. Ajakan Ricky jadi volunteer teacher bebayar di Equador dikesampingkan dulu. Ntar malam lah baru dipikirin lagi sambil meminta pendapat Teh Diah mengenai peluang bagus ini. Oh iya, hari ini aku juga skip acara bukber yang dirangkaian dengan perpisahan Mbak Shally. Sedih sebenarnya, tetapi bukankah yang utama harus didahulukan terlebih dahulu? Hehehe.


Friday, June 09, 2017



Fisikku di sini, tetapi hati dan fikiranku bersamamu, Bapak. Otakku buntu seketika tak tahu bagaimana harus menahan air mata gar tak jatuh, ketika mereka mengirim fotomu dengan latar rumah sakit via line. Sungguh sama sekali bukan cara yang menyenangkan untuk memulai hari. Aku butuh satu jam membeku diam untk bisa mencerna semuanya. Lalu berkelebatlah semua kemunginan dan andai dan tanya. Berganti-ganti dengan kenangan yang kita punya. Banyak sekali, Pak. Aku tersedot masa lalu. Saat-saat kau menyisir rambutku, menyemir sepatuku, dan mengantarku masuk TK di hari pertama dan setia menjemputku setiap hari. Lalu pada masa-masa perdebatan yang seakan tiada ujungnya. Sampai akhirnya kita berhasil menjadi sahabat dan teman diskusi.

Oh, Bapak, kumohon lekaslah sembuh. Kembalilah kuat dan tangguh seperti biasa. Ada anakmu yang sesungguhnya sangat penakut di sini. Kau sumber kekuatanku, Bapak. Tempat bersandar dan bersembunyi ketika dunia tak menawarkan kenyamanan padaku. Karena pelukanmu sungguh menyembuhkan. Pelukanmu memulihkan. Stay strong, my most hero, a man with his words, my surely first love.

Thursday, June 08, 2017

Bristol yang tidak terlalu ramai malam ini menjadikan rinduku kian menyayat. Pada sebuah senyum itu. Pada teduhnya mata itu. Dan kosong ini, bersekutu dengan beratnya kehidupan akademik, membuatku tergugu dalam sendiri. Tidak ada satupun yang dapat menghibur hati dan mengisi hampa ini selain pelukan dan belai tangan yang perlahan menua itu. Aku merindu rumah. Aku merindumu, Mama.

Tuesday, June 06, 2017

Untukmu yang sedang berhujankan tangis.



Ada batas tak kentara antara bersabar dalam berbuat baik dan lemah, Mate. Tak kentara tapi bukan berarti tak ada. Aku biasanya tak pernah punya keinginan untuk mempertegas batasannya walau kadang respon yang kuterima jauh dari yang seharusnya aku dapatkan. Toh, urusan untuk selalu berusaha menolong ini adalah sepenuhnya urusanku dengan Allah. Bukankah Dia maha melihat dan sungguh tidak ada yang lebih adil dariNya? Tetapi kali ini, aku ingin berdiri diambang batas sabar dan lemah ini. Aku ingin mempertegas batasan itu. Terkhusus untkmu, Mate. Hanya untukmu, semoga. Saat ini, aku memutuskan untuk tidak lagi mau kau "manfaatkan". Bukan karena aku membenci (semoga Allah menjaga niatku) tetapi karena aku ingin memberimu pelajaran. Agar kau menyelesaikan peperangan yang kau ciptakan sendiri. Berhenti lari dari masalah. Hadapilah dengan tulus dan berani. Sepenuh hati aku doakan semoga kebaikan, yang aku percaya ada dalam dirimu, mengalahkan segala marah dan kebencian. Aku terlalu menyayangimu untuk membiarkanmu digerogoti perasaan-perasaan negatif itu, Mate. Itu bukan kau yang aku kenal saat pertama kali bertemu. Dan aku benci melihat wajahmu yang berbalur kesedihan, sembab karena air mata. Hadapilah, memaafkan itu membebaskan. Biarkan kedamaian memeluk hatimu. Seperti dulu.... Let love win. 

Sunday, June 04, 2017