Wednesday, May 17, 2017







Aku memuja sunset dengan keterlaluan. Ketika oranye mendominasi cakrawala. Ketika ketergesaan menuju pulang menguar di udara. Ada rindu yang turut bertengger pada pundak yang lelah. Padanya, bergelantungan asa untuk segera melebur bersama yang terkasih. Padaku, ia membisikkan sebuah pemahaman. Bahwa sebuah akhir pun tak selamanya harus selalu dibingkai kesedihan. Bahwa akhir bisa juga dikemas dengan sangat memesona. Sunset ada untuk aku puja sepenuh hati.

Tuesday, May 16, 2017



Lalu bagaimana mungkin aku membenci hujan? Saat rinainya meluruhkan hijab antara doa sang hamba dengan Khaliknya. Saat lamunan dan kerinduan akan pulang terasa begitu kental. Saat tetesnya dan tangismu bisa melebur tanpa kentara. Saat pelukannya dengan lembut mengusap kecewamu. Sungguh sepertinya mustahil aku tak jatuh cinta pada hujan. 

Sunday, May 14, 2017

Bagaimana mungkin aku tak menyukai fajar? Ketika malaikat turun menabur berkah. Ketika Ia mendengar segala doa. Memeluk hati yang merindu. Lalu, bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta pada fajar? 

Saturday, May 13, 2017

Di salah satu sudut kota,
kulihat bahunya bergetar menahan dingin.
Pada sang anjing, sahabatnya, ia berbagi sunyi dan lapar.
Pada belaianya dia memberi janji,
Janji yang ia khawatirkan akan bermakna kosong,
Tentang harapan akan esok yang mungkin tidak melulu tentang lapar.

Lalu, ada aku dengan hangat yang mengepul di kedua tangan.
Gagal gembira meski dentum-dentum di headsetku bernada ceria.
Kepalaku sibuk buta pada segala nikmat yang ada.
Grasak-grusuk merajuk pada Langit akan apa yang sebenarnya sudah jauh melampaui cukup.

Dan, deg... mataku bertemu matanya.
Mata yang menuduh dan menelanjangi pada saat yang bersamaan.
Tentang aku yang mulai lupa bagaimana caranya bersuyukur.
Tentang waktu yang kusia-siakan berlari dari rahmat-Nya.
Dan,... benarlah kiranya sang kitab suci.
Fabiayyi Aalaa i rabbikuma tukadzibaan?

Thursday, May 11, 2017

"Sometimes I wonder about my life. I lead a small life. Well, valuable, but small. And sometimes I wonder do I do it because I like it or because I haven't been brave? So much of what I see reminds me of something I read in a book when shouldn't it be the other way around?" (Kathleen from You've Got Mail).

And, now I am thinking of my own life. Choices I have taken and decisions I've made. 

Monday, May 08, 2017

Walk the Talk, Can You?

Me: "Semangat ya, Dit... begitulah kita pasti akan melalui fase itu. Keluar dari comfort zone untuk menantang diri sendiri, melihat sejauh mana kita mampu dan berani melampaui batasan kita.."
Dita: "Iya, kak.. tapi Dita kok takut ya kak?"
Me: "takut apa Dit?"
DIta: "Takut tidak lulus SBMPTN, Kak. Takut tidak bisa membanggakan kakak-kakak semua, takut juga jadi mahasiswa kak.. Jadi mahasiswa artinya berhadapan dengan dunia nyata, ya kak?"
Me: "Percayalah, semua akan baik2 saja, Dit. Jadi mahasiswa, tentu beda dengan ketika jadi anak sekolahan. Tanggung jawabnya pastilah lebih gede. Tapi kakak-kakak juga sedang berjuang saat ini. Berjuang bareng2 yes? jangan lupa saling mendoakan, hehehe"
Dita: "Siyap, Kak.. terimakasih semangatnya dan inspirasinya...Kakak-kakak AAS memang keren"

Di atas itu adalah sepotong chatku via WA sama Dita beberapa jam yang lalu. Dita adalah salah satu adik asuh kami dalam program beasiswa Adik Asuh Suryanara (AAS) untuk tahun 2016-2017. Oh ya, AAS ini adalah sumbangsih kecil kami, awardee beasiswa LPDP angkatan PK-33, kepada bangsa ini. Jadi program ini memberikan beasiswa kepada siswa kelas 3 SMA yang kami pilih melalui seleksi lumayan ketat untuk mendapatkan iuran SPP selama setahun, dan mengikuti bimbel agar bisa sukses melanjutkan pendidikan ke universitas impian mereka. Pada tahun 2015, program ini bisa dibilang sangat sukses. Nah, di 2016 kami melanjutkan program ini dengan mengajak teman-teman dari angkatan PK lain untuk ikut berpartisipasi. Alhamdulillah lumayan banyak yang bersedia bergabung. Dan tidak terasa, program tahun ini sudah hampir sampai pada saat-saat akhir. Adik-adik kami telah melalui UN dan bersiap masuk ke Universitas impian mereka. Dalam setahun ini, kami, para kakak asuh, diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan adik asuh kami dalam upayanya meraih targetnya. 

Ada banyak cerita, baik yang membahagiakan maupun yang cukup lucu yang kami alami selama hampir setahun ini. Di Grup WA kakak asuh Suryanara, kakak sering membagi pengalaman mereka bersama adik-adik masing-masing. Kadang bikin senyum terharu kadang bikin senyum geli, hehehhe. Aku dan Dita bisa dibilang lumayan dekat. Dita anaknya sangat koperatif dan lumayan sering menyapa kakaknya meski kadang karena kesibukan baru bisa aku balas sehari setelahnya. Meski begitu, komunikasi kami sejauh ini baik. Aku bersyukur bisa berpartisipasi dalam program ini. Setidaknya, hidupku terasa sedikit berarti walau apa yang kami lakukan ini hanya serupa titik yang sangat kecil.

Namun, chat aku bareng Dita hari ini entah mengapa menyisakan sedikit rasa aneh. Campur aduk. Diantara rasa itu, yang paling dominan adalah rasa malu dan tertampar. Sebelum menuliskan ini, aku menyempatkan membaca kembali obrolan kami, dan rasa malu itu kian bertambah. Bagaimana tidak, aku menemukan diriku seperti manusia yang agak munafik. Lihat saja, aku dengan entengnya menyemangati Dita untuk terus berusaha sementara aku sendiri belum memberikan usaha terbaikku selama diberi kesempatan kuliah di sini. Aku "menuntut" dita berjuang demi tanggungjawab dia karena telah menerima dana dari kami yang sangat tidak seberapa itu. Sementara, aku sendiri menggunakan dana rakyat indonesia yang tidak sedikit tetapi masih belum bisa maksimal berjuang, hiks. 

Aku malu, malu sekali. Selama hampir sebulan aku malah lebih sibuk dipusingkan dengan urusan menye-menye gak jelas, sementara tanggungjawabku mengharuskan aku untuk bisa fokus pada tujuanku datang ke sini. Harapan negara, kantor dan keluarga lumayan besar kepadaku, dan aku belum bisa memberikan sumbangsih yang berarti. Sedih. Demi alasan menata hati, aku menyibukkan diri dengan main ke sana kemari bareng teman. Itu, sedikit banyak, lumayan melegakan sih. Tertawa bersama sahabat sungguh merupakan obat tersendiri, pelarian dari urusan hati, hehehe. Tapi, ketika edisi main kemaren selesai, aku bertekad bahwa hari ini harus bisa fokus lagi dengan urusan kuliah. Daaan... ketika membuka akun blackboardku, tersadarlah aku, bahwa unit selanjutnya menuntut perhatian yang tak boleh terbagi. Reading list yang saangaaat panjang dan untuk topik yang gak begitu jadi favoritku, statistik. Yeah... I have a bad relationship with numbers, dunno why. Agak ngeri ku download satu persatu materi dan semakin tergugu ketika sekilas terantuk pada istilah statistik apalah-apalah itu. Maih mau main, Rin?? Hiks...

Oh, Dita..maafin kakak, ya... kakak ternyata tidak sehebat yang Dita kira,,hiks.. Kakak rupanya masih lemah, Dit. Belum cukup ulet belajarnya, belum cukup persistent dalam berusaha. Tapi, Kakak janji, akan memperbaiki itu semua. Demi bisa mewujudkan mimpi dan menuntaskan apa yang telah kakak mulai. Supaya beneran bis amenjadi inspirasi bagi kalian, adik-adik kami di AAS. Seperti yang tadi kita omongin, berjuang bareng-bareng semuanya, yaaa.. Terima kasih sudah "menampar" kakak hari ini. Faktanya, kakak belajar banyak juga dari Dita... Semoga perjuangan meraih mimpi kita diberkahi Allah, ya... Thx juga untuk kakak-kakak di AAS yang sangat menginspirasi. Senang menjadi bagian dari kalian semua. 

Thursday, May 04, 2017

Just finished watching "sliding doors". An old movie. Got it from a friend's blog. She was right. The movie makes me think. About serendipity. About me. About you. About us. Dunno whether it is the way that God chooses to speak to me. But it works. A bit relieving now.

PS: Love the closing music. Dido_Thank you. Gonna be my this-week-theme-song I guess.

Tuesday, May 02, 2017

Kamu memang keras kepala dari dulu, kan?
Sudah kuusir ribuan kali. Sudah kudiamkan milayaran kali.
tapi kau tetap diam di sana, enggan lenyap.
Lalu apa gunanya semua ritual melupakan yang kulalui dengan sangat tersiksa itu?

Aku jauh loh sekarang...Aku butuh visa dan beasiswa untuk bisa ke sini. Tapi kamu dengan tanpa rasa bersalahnya selalu mengikut kemanapun. Tanpa perlu apply beasiswa, tak usah degdegan tunggu hasil tes TB, juga tak perlu rempong cari akom. Dimana adilnya?

Hey, tak tahukah kamu kepalaku butuh ruang yang tidak ada kamunya. Aku butuh fokus belajar dan konsentrasi untuk urusan lain yang jauuuuh lebih penting.

Berhentilah jadi hantu, kau belum mati, kan? Toh kau juga tak pernah benar2 menawarkan kebersamaan dengan konsep yang ada di kepalaku tentang kita. Nah, sekarang dan selamanya, bisa untuk tidak hadir saat aku sedang mencoba bahagia tanpa ada harapan bodoh menari2 di otak?

Betapa aku tak mengerti selera humor semesta ini. Baru beberapa minggu yang lalu aku dengan leganya merasa badai ini telah usai. Kau penipu! Ku pikir kau benar2 pamit dengan damai. Aku terjerat ketenangan semu.

Lalu kau datang bersama gemuruh, angin dan hujan. Mengejek aku tanpa belas kasih.
Pada langit, pada awan dan pada sinar matahari. Dan seperti tak pernah belajar dari pengalaman, aku menyerah kalah tanpa perlawanan.

Monday, May 01, 2017

Feeling Guilty

Kalau ada satu emosi yang lumayan sulit kuhandle, maka itu adalah perasaan bersalah. Apalagi jika rasa bersalah karena telah menyakiti seseorang yang sangaaat baik. Aku punya cara sendiri berdamai dengan emosi yang lain, marah, sedih, kecewa, tapi belum menemukan cara yang cukup mumpuni untuk deal dengan perasaan sedih karena telah mengecewakan orang lain yang aku sayang.

Jadi, semua bermula dari janji yang dengan gampangnya aku buat dan dengan gampangnya aku batalkan. Ada tante Bibah yang sudah repot buatin makanan kesukaan, ada Salim dan Omi yang harus rela meninggalkan kegiatannya yang juga penting hanya untuk mengkover kesalahan kakaknya yang jahat ini. Hiks,,, bahkan pada saat menulis ini, hatiku sakit. Di telepon keduanya sudah berusaha menenangkan, tetapi tetap tidak bisa membungkam suara-suara dari kepalaku sendiri yang mengingatkan betapa berdosanya aku pada Tante Bibah yang sudah begitu baik pada kami bertiga selama ini. Ya Allah, maafkan aku.

Kemarin tangte Bibah pulang ke Indonesia. Katanya di sana tiga hari saja di sana trus balik Bristol lagi. Bisa dipastikan hatiku tak akan tenang sebelum meminta maaf secara langsung. Dan tiga hari itu menjadi terasa lama...




Thursday, April 27, 2017

Berbahagialah, Irna dan Hijir.

Kalau tidak keliru, sekitar tiga bulan yang lalu, salah seorang sahabat, melalui WA, mengabarkan berita gembira bahwa ia akan segera mengakhiri masa lajang. Adalah Irna, nama sahabat saya itu. Tentu saja, saya sangat senang dan turut berbahagia untuknya. Sebenarnya beberapa hari sebelum dia memberitahu saya secara pribadi, di grup kami, teman-teman sudah lumayan kepo karena Irna sempat menanyakan beberapa urusan mengenai persiapan pernihakan dan segala printilannya. Semuanya rame-rame menerka-nerka yang dibalas Irna dengan sikap super misterius atau diam seribu bahasa, hehehhe. Seperti biasa, aku memilih diam dan menyimak. Jika berhubungan dengan urusan yang agak privat, meski kadang kepo, saya memilih untuk tidak bertanya kepada sahabat-sahabat saya. Alih-alih, saya akan menunggu dia yang akan datang sendiri berbagi kabar, atau menghargai pilihannya untuk tidak berbagi jika saya dinilainya bukan orang yang nyaman atau yang tepat untuk diajak ngobrol.

Lalu, tibalah kabar itu dari yang bersangkutan langsung.

Irna: "Sist, insyaallah saya nikah tanggal 22 April. Doakan lancar nah"
me: "Hwaaaa.. alhamdulillah... Sama siapa???"
Irna: "Datang makanya, biar dikenalin :P"
Me: "hwalaaaah.... aku kenal tak?"
Irna: "kenal. Tebak siapa!"
Me: "Hijir? Ucul? Daniel? Risal Tahang?"
Irna:" ahaahah.. ngabsen, buk. Hijir, sist"
me: "kyaaa... I knew itttt"

Kami terus berbincak dalam suasana suka cita. Dia meminta saya untuk tidak memberitahu siapapun dulu. Saya merasa terharu sekaligus senang. Saya termasuk dari beberapa orang pertama yang diberitahu. Duh, jadi merasa sedikit istimewa, hehehe.. Dan bagian yang agak seru adalah ketika beberapa teman yang sukses dibuat kepo sama Irna sampe bela-belain menghubungi saya, hahaha. Karena sudah diwanti-wanti untuk tutup mulut, saya pun tidak memberitahu kalau saya sudah tahu lama dan malah ikut mengompori dia buat cari tahu ke yang lain dengan berbagai cara. Maaf ya, Ceng, bukan bermaksud ikut ngerjain tapi ini amanah dari yang punya hajat, hehhe.

Taken from Fina's Facebook. 

Kalau ada hal yang saya sesali dari kabar ini adalah karena saya tak bisa turut hadir disana menjadi saksi momen bahagia sahabat saya ini. Apalagi, dia dan saya selalu sama-sama berangan-angan dipertemukan dengan seseorang yang bisa saling berbagi, menguatkan dan menyempurnakan dalam menjalani kehidupan ini. Rupanya Allah berketatapan bahwa diantara kami berdua, Irnalah yang lebih dulu bertemu dengan pasangan hidupnya, yang dengan setulus hati ko doakan semoga untuk selamanya, aamiin. Hijir, setauku, adalah pria yang baik. Pria yang pantas mendampinginya menjalani suka dan duka dan menggapai surga bersama-sama. Semoga bersamanya, hidup Irna menjadi semakin berwarna dan penuh berkah. Aamiin.

Well, Na.. selamat memasuki babak baru dalam hidupmu, ya... semoga bisa menajdi istri dan ibu yang baik nantinya, selalu bahagia, sejahtera, dan kaya-raya. Maaf tak bisa hadir di sana, memelukmu secara langsung. Tapi percayalah, doaku panjaaaaaaang banget untukmu. Aku sampe nangis loh doainnya, hehehe. Hijir, tolong sahabat aku dijaga sebaik-baiknya. Kamu sangaaaaaat beruntung mendapatkan hatinya. Berbahagialah kalian berdua...

From Bristol with love,,,
Ririn