Tuesday, May 30, 2017



Dan laut selalu punya tempat di hatiku.
Pada birunya aku mengerti damainya sebuah penerimaan.
Pada gelombangnya aku belajar berdamai dengan amarahku.
Pada kedalamannya aku melarung banyak rahasia.
Selayaknya aku mencintainya dengan kedalaman yang sama.

Friday, May 26, 2017

Sepertinya, aku sedang menikmati perasaan nostalgic beberapa hari terakhir ini. Mulai dari kembali menonyon film-film lawas, melihat foto-foto lama, dan sekarang menikmati lagu-lagu jaman SMA. Aku suka sensasinya. Aku mellow dan gembira dalam waktu yang bersamaan. Tidak, bukan berarti aku tidak mensyukuri hari ini dan ingin kembali ke masa itu. Sama sekali tidak. Aku hanya takjub pada kenyataan bahwa aku sudah tua sejauh ini ternyata.

Saat ini, Ternyata Mimpi dan Bunga nya Naff ganti2an memenuhi ruang dengarku (eastagaaaa ruang dengaaaar, duh istilah iniii, wkwkwk). Teringat jaman duluuu sekali, saat radio masih berjaya, aku selalu meminta Agus, sahabatku semasa SMA yang notabene penyiar di salah satu radio terkeren di Kendari, untuk memutarkan lagu ini kalau lagi siaran, hehehe. Kalo gak salah aku juga pernah minta direkamin lagu kompilasi lagu yang lagi hits banget saat itu (enaknya punya teman penyiar, :p).

"Bertanya mengapa harus terjadi...
Mengoyak ukiran janji hati..
Maafkan, ku terlena wangi dunia... "

Duh, ini lagunya enak banget. Ingatanku terbang pada saat mendengarkan lagu ini dari walkman sambil liatin anak2 basket main di sore hari. Kelasku di lantai 2 dan sambil menunggu pak guru dateng ngasih les, aku dan teman2 cewek lainnya cekikikan genit demi melihat idola kami tanding,hehehe. Ah masa2 putih abu2 itu sudah lama sekali. Belasan tahun audah berlalu. Hidup telah membawa kami tercerai berai meraih mimpi masing2. Sesekali dalam setahun kami biasanya mengusahakan kumpul untuk merawat ingatan dan kehangatan masa2 SMA. Lebaran akan selalu menjadi sangat seru dan haru. Kami akan selalu membahas kisah konyol kami yang tak pernah bosan diulang2 dan ditertawakan bersama. Pada saat2 itu, kami akan bersama2 mengunjungi rumah bapak ibu guru kami, yang dulu, di kelasnya, kami kadang jadi anak bandel. Dan betapa bapak/ibu guru kami dengan tulus telah memafkan dan selalu mendoakan kebaikan untuk kami. Duh, ini bikin berkaca-kaca, sih...

"Kau bunga.. Nan semerbak, tebarkan aroma cinta.. Membuai hatiku, menyentuh relung jiwaku... "

Dan aaah lagu ini... Mengantarkan aku memasuki ruang memory yang lain. Saat seseorang itu, sepulang sekolah menunggu di depan kelas,  dengan malu2 mengajakku nonton di bioskop besok sore, yang kuiyakan juga dengan malu2.. heheehe. 

Wednesday, May 24, 2017

Having Fun at Noah's Ark, Bristol

Bristol hari itu, Senin 15 Mei 2017, sedang dipeluk oleh gerimis. Auranya bukan seperti yang biasanya kusuka. Mungkin karena lagi kena PMS atau jenuh dengan bacaaan jurnal, hujan di luar malah bikin gloomy. Bawaannya pengen ngetem di bawah duvey sambil nonton film-film lama (oh ya, akhir-akhir ini aku lagi seneng banget nonton film lawas). Tapi, kenyataannya aku sedang di perpus hari itu, mencoba membereskan draft essay yang aku targetkan bisa kelar secepatnya (Soalnya mau ada unit lagi yang harus dipersiapkan dan yang paling PENTING adalah karena mau Cornwall trip akhir bulan ini, huhuhuyyyy_maapkwen motivasiku ya Allah). Mataku terasa kian berat seiring usahaku menentukan approach apa yang akan kupakai dalam menganalisis fenomena global higher education di Indonesia ketika pop up WA di ujung atas layar lappyku muncul. Dari Daryl. "Teh, ntar 3.30 ngapain?" Aku mengendus adanya ajakan main atau makan, dan mataku otomatis menyala kembali, hahaha. "Gak ada. Adapakah?" tanyaku. Lalu diajaknya aku ke acara afternoon teanya BISC (singkatan dari Bristol International Students Community). Dengan sedikit mengabaikan rasa bersalah pada draft essay ini, aku mengiyakan ajakan Daryl, hehehe... "Eh, Ryl, aku ajak Irna juga yaa" dan kata Daryl "Ajak teh ajaaaaaak"

Bertiga kami menikmati cemilan cepuluh yang enywak-enywak itu sambil ngobrol ringan dengan mahasiswa internasional lainnya. Kebanyakan sih dari Asia namun ada juga dari Eropa. Kali ini, gerimis di luar jadi sangat menyenangkan. Berbagi tawa memang selalu menyenangkan, kan? Tak lama kemudian, seorang staff yang sangat ramah berdiri dan mengumumkan bahwa Sabtu nanti (20 Mei) akan ada kunjungan ke Noah's Ark. Tiketnya bisa dibilang sangat murah (cuman £9 sudah include transportasi padahal biasanya £19 untuk orang dewasa). Demi mendengar ini, Daryl langsung bersorak gembira dan dengan binar mata yang sangat sulit ditolak, dia memaksa mengajakku untuk ikutan. Aku sempat kepikiran sama si draft ini dan juga kesehatan ATM tapi si Daryl berhasil meyakinkan bahwa ini bakal worth it banget dan bahwa Noah's Ark ini beda banget sama Bristol Zoo dan embel-embel tiket terbatas kalau ga buruan bisa kehabisan dan yang terpenting adalah rayuan pulau kelapa akan dimasakin lunch sama doi, hehehe. Dasarnya juga aku orangnya murahan gampang dibujuk, jadilah aku mau juga. Si Irna juga kami bujuk biar mau ikutan, hehehe. Oh iya lebih lengkap tentang Noah's Arch ini bisa diliat di sini.

Sabtu, 20 Mei 2017 pukul 8 pagi, langit Bristol cerah ceria. Tapi ya dasar UK's whether itu sangat moody a.k.a unpredicatble pukul 9 si gerimis turun lagi. Tak apalah, semoga di sananya cerah. Kami kumpul di BISC sesuai waktu yang ditentukan dan berangkat tepat waktu. Oh iya, ternyata Salim juga daftar kemaren. Uhuyyy bakal tambah seru nih. Kami berempat lalu ditempatkan semobil. Yang jadi drivernya Bapak super ramah yang banyak bercerita tentang Bristol dan sejarahnya kepada kami. Perjalanan kami tempuh selama kurang dari 30 menit. Dekat banget ternyata. Kami rombongan pertama yang sampai. Seperti biasa, kami selfie-selfie berempat sambil menunggu yang lain datang. Setelah semua berkumpul, kami pun diberi pengarahan lagi beberapa menit daaaaaaan petualangaaaan pun dimulaaaiiii, sodara-sodara...



A mandatory groupfie, hehhe..
left to right: Salim, Daryl, irna, dan Bidadari

Begitu masuk area farming ini, kami langsung dibuat jatuh cinta sama sekumpulan meerkat yang unch banget. Si Daryl sama Irna sama aku juga betaaah banget memandangi mereka. Seperti biasa, teriakan2 yang sama sekali tidak melambangkan umur dan kualifikasi pendidikan keluar dari mulut kami bertiga, hehhe. Salim (sebagai satu-satunya yang agak waras diantara kami) cuman bisa geleng-geleng kepala sambil menahan malu, wkwkk. Trus lanjut masuk ke area reptil (dan akhirnya aku liat buaya juga di Bristol, yeaaaayyyy), trus ke baboon, trus makan trus lanjut liat gajah, dll. Liat gambarnya aja ya...

Yang bikin kami jatuh cinta, hehhe








Bayi jerapah ini baru berumur 9 hari, lhooo.. lucu yaa..




Buayaaaaa



Babinya imut gini


Yang menyenangkan jalan bareng rombongan kali ini adalah fakta bahwa Irna adalah dokter hewan dan Daryl yang adalah anak biologi dengan wawasan dan pengetahuan yang sangaaat luas. Sepanjang tour, Salim dan aku disuply dengan informasi ilmiah mengenai animals yang sedang kami dengan cara yang sangat ringan dan pake Bahasa Indonesia, hehehhe. Ih hewan-hewan ini lucuuu banget semuanya. Trus kami juga dibuat takjub oleh manajemen zoo ini. Animal enclosurenya gila banget. Hewan yang ada di sini hidupnya sangat layak. Space untuk penghuninya luas dan bersih serta sebisa mungkin mengadopsi habitat aslinya. Kesadaran akan animal welfare sangat tinggi. Bukan hanya oleh pihak manajemen tetapi juga karena pengunjungnya yang bisa dibilang sangat well-educated masalah beginian. Jika ada indikasi kesalahan treatment kepada para hewan, pengunjung bisa protes dan menuntut pihak pengelola. Jadi, quality controlnya benar-benar menyeluruh dilakukan oleh semua pihak. Duh, di Indo kapan bisa kayak gini ya? Mudah-mudahan secepatnya, aamiin (sambil menatap Irna dan membayangkan Yeyes, hehehe)


Ada yang bikin ngakak pas liat ini. Tiba-tiba Salim, yang berdiri di sampingku nyeletuk:
Salim: "Aku heran deh, kak. Kok belang-belangnya gak sama kayak Zebra cross, ya"
Me: "Heeee??? kan ini Jerapah Liiim.. Jerapah bukan Zebra, wkwkkwkwkwk"
Salim: "Oh jadi selama ini beda?"
Me: "¶•∞¢#€.. serah lu deh, Lim"

Bisa aku katakan kalo Noah's Ark ini benar-benar tepat yang sangat cocok dan asyik untuk escape sejenak dari segala rutinitas kuliah. Fasiliatsnya komplit (ada indor dan outdoor adventure, ada play grounds, ada picnic area, dll) dan semuanya sangat inclusive (semua orang bisa menikmatinya dengan nyaman termasuk anak-anak, orang dewasa, para senior dan mereka yang berkebutuhan khusus). Semuanya dirancang dengan sangat cermat dan detail. Kami berempat sepakat anti slippery roadnya juga dibuat dengan sangat cerdas.


yuhuyyyyyyyyy
Tahan, Ryl.. ini lagi dipotoooo

Irna is slidiiing

salah satu sudut Noah's Ark

Semacam teather untuk parade hewan kelas mamalia

Naaaah, sampailah kita pada bagian terpecah dari jalan-jalan kemaren. Apakah itu??? Main di mazenya Noah's Ark (yang setelah aku googling baru tau kalo ini adalah UK's largest hedge maze, yeaaayyy). Ini maze memang gila!!! Gedee banget dan menantang. Jadi untuk bisa keluar hidup-hidup dari maze ini, kita harus menjawab 15 pertanyaan pilihan ganda. Setiap lorong ditandai dengan papan pilihan. Dan kita akan masuk ke lorong sesuai dengan pilihan kita. Kalau jawaban kita benar, maka kita akan sampai pada pertanyaan selanjutnya. Kalau salah, ya silahkan coba lagi dan selamat bertersesat ria, ahhaha. Jarak antara pertanyaan satu dan yang lainnya lumayan pwanjang dan berliku. Pertanyaannya juga naudzubillah. Bahkan dengan modal satu dokter hewan lulusan UGM (Irna) dan satu ahli biologi lulusan ITB (Daryl) kami pun masih tersesat, wkwkwk. Salim aja yang selama ini tidak pernah mengumpat pun akhirnya mengumpat juga. Daryl sampe udah pengen nangis aja, hihihi. Pokoknya bagian ini paliiiiing seru menurutku. Kalo diajak ke sini mau lagi dah. Oh ya satu lagi, kalau main ke sini, harus banget sama teman. Sangat direkomendasikan teman-teman dengan tingkat kehebohan yang tinggi biar makin seru. Warning: tidak ada bendera untuk menyerah jadi bersabarlah dan berjuanglaaahhh!!!




Fiuhh udah sampe ke pertanyaan ke 14


Yeaaayy... finally exit gate!!!

Kami keluar dari labirin setelah menghabiskan waktu hampir sejam di dalamnya. Begitu melihat pintu keluar, kami berempat luar biasa senang dan legaaa, hahaha. Kami melihat jam dan emang tepat banget sama jadwal pulang. Eh tapi kami singgah dulu dong ke gift shop. Isinya sangat menarik dan kata Irna harganya lebih murah dari Bristol Zoo. Si Daryl membeli beberapa cendera mata yang unch banget Irna juga. Aku sama Salim tidak membeli apa-apa demi penghematan karena minggu depan mau ngetrip lagi ke Cornwall, hehehe.

Demikianlaaaaahhhh... Weekend super pecah kemarin benar-benar membuatku recharged. Benarlah, laughing is liberating. Terimakasih sudah mengajak ke sini ya, Daryl. Terimakasih juga untuk makan siang yang endess bgt. Irna dan Salim juga makasih yaaa, kalian membuat ini jadi jauuuh lebih menyenangkan. Luv Luv.



Wednesday, May 17, 2017







Aku memuja sunset dengan keterlaluan. Ketika oranye mendominasi cakrawala. Ketika ketergesaan menuju pulang menguar di udara. Ada rindu yang turut bertengger pada pundak yang lelah. Padanya, bergelantungan asa untuk segera melebur bersama yang terkasih. Padaku, ia membisikkan sebuah pemahaman. Bahwa sebuah akhir pun tak selamanya harus selalu dibingkai kesedihan. Bahwa akhir bisa juga dikemas dengan sangat memesona. Sunset ada untuk aku puja sepenuh hati.

Tuesday, May 16, 2017



Lalu bagaimana mungkin aku membenci hujan? Saat rinainya meluruhkan hijab antara doa sang hamba dengan Khaliknya. Saat lamunan dan kerinduan akan pulang terasa begitu kental. Saat tetesnya dan tangismu bisa melebur tanpa kentara. Saat pelukannya dengan lembut mengusap kecewamu. Sungguh sepertinya mustahil aku tak jatuh cinta pada hujan. 

Sunday, May 14, 2017

Bagaimana mungkin aku tak menyukai fajar? Ketika malaikat turun menabur berkah. Ketika Ia mendengar segala doa. Memeluk hati yang merindu. Lalu, bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta pada fajar? 

Saturday, May 13, 2017

Di salah satu sudut kota,
kulihat bahunya bergetar menahan dingin.
Pada sang anjing, sahabatnya, ia berbagi sunyi dan lapar.
Pada belaianya dia memberi janji,
Janji yang ia khawatirkan akan bermakna kosong,
Tentang harapan akan esok yang mungkin tidak melulu tentang lapar.

Lalu, ada aku dengan hangat yang mengepul di kedua tangan.
Gagal gembira meski dentum-dentum di headsetku bernada ceria.
Kepalaku sibuk buta pada segala nikmat yang ada.
Grasak-grusuk merajuk pada Langit akan apa yang sebenarnya sudah jauh melampaui cukup.

Dan, deg... mataku bertemu matanya.
Mata yang menuduh dan menelanjangi pada saat yang bersamaan.
Tentang aku yang mulai lupa bagaimana caranya bersuyukur.
Tentang waktu yang kusia-siakan berlari dari rahmat-Nya.
Dan,... benarlah kiranya sang kitab suci.
Fabiayyi Aalaa i rabbikuma tukadzibaan?

Thursday, May 11, 2017

"Sometimes I wonder about my life. I lead a small life. Well, valuable, but small. And sometimes I wonder do I do it because I like it or because I haven't been brave? So much of what I see reminds me of something I read in a book when shouldn't it be the other way around?" (Kathleen from You've Got Mail).

And, now I am thinking of my own life. Choices I have taken and decisions I've made. 

Monday, May 08, 2017

Walk the Talk, Can You?

Me: "Semangat ya, Dit... begitulah kita pasti akan melalui fase itu. Keluar dari comfort zone untuk menantang diri sendiri, melihat sejauh mana kita mampu dan berani melampaui batasan kita.."
Dita: "Iya, kak.. tapi Dita kok takut ya kak?"
Me: "takut apa Dit?"
DIta: "Takut tidak lulus SBMPTN, Kak. Takut tidak bisa membanggakan kakak-kakak semua, takut juga jadi mahasiswa kak.. Jadi mahasiswa artinya berhadapan dengan dunia nyata, ya kak?"
Me: "Percayalah, semua akan baik2 saja, Dit. Jadi mahasiswa, tentu beda dengan ketika jadi anak sekolahan. Tanggung jawabnya pastilah lebih gede. Tapi kakak-kakak juga sedang berjuang saat ini. Berjuang bareng2 yes? jangan lupa saling mendoakan, hehehe"
Dita: "Siyap, Kak.. terimakasih semangatnya dan inspirasinya...Kakak-kakak AAS memang keren"

Di atas itu adalah sepotong chatku via WA sama Dita beberapa jam yang lalu. Dita adalah salah satu adik asuh kami dalam program beasiswa Adik Asuh Suryanara (AAS) untuk tahun 2016-2017. Oh ya, AAS ini adalah sumbangsih kecil kami, awardee beasiswa LPDP angkatan PK-33, kepada bangsa ini. Jadi program ini memberikan beasiswa kepada siswa kelas 3 SMA yang kami pilih melalui seleksi lumayan ketat untuk mendapatkan iuran SPP selama setahun, dan mengikuti bimbel agar bisa sukses melanjutkan pendidikan ke universitas impian mereka. Pada tahun 2015, program ini bisa dibilang sangat sukses. Nah, di 2016 kami melanjutkan program ini dengan mengajak teman-teman dari angkatan PK lain untuk ikut berpartisipasi. Alhamdulillah lumayan banyak yang bersedia bergabung. Dan tidak terasa, program tahun ini sudah hampir sampai pada saat-saat akhir. Adik-adik kami telah melalui UN dan bersiap masuk ke Universitas impian mereka. Dalam setahun ini, kami, para kakak asuh, diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan adik asuh kami dalam upayanya meraih targetnya. 

Ada banyak cerita, baik yang membahagiakan maupun yang cukup lucu yang kami alami selama hampir setahun ini. Di Grup WA kakak asuh Suryanara, kakak sering membagi pengalaman mereka bersama adik-adik masing-masing. Kadang bikin senyum terharu kadang bikin senyum geli, hehehhe. Aku dan Dita bisa dibilang lumayan dekat. Dita anaknya sangat koperatif dan lumayan sering menyapa kakaknya meski kadang karena kesibukan baru bisa aku balas sehari setelahnya. Meski begitu, komunikasi kami sejauh ini baik. Aku bersyukur bisa berpartisipasi dalam program ini. Setidaknya, hidupku terasa sedikit berarti walau apa yang kami lakukan ini hanya serupa titik yang sangat kecil.

Namun, chat aku bareng Dita hari ini entah mengapa menyisakan sedikit rasa aneh. Campur aduk. Diantara rasa itu, yang paling dominan adalah rasa malu dan tertampar. Sebelum menuliskan ini, aku menyempatkan membaca kembali obrolan kami, dan rasa malu itu kian bertambah. Bagaimana tidak, aku menemukan diriku seperti manusia yang agak munafik. Lihat saja, aku dengan entengnya menyemangati Dita untuk terus berusaha sementara aku sendiri belum memberikan usaha terbaikku selama diberi kesempatan kuliah di sini. Aku "menuntut" dita berjuang demi tanggungjawab dia karena telah menerima dana dari kami yang sangat tidak seberapa itu. Sementara, aku sendiri menggunakan dana rakyat indonesia yang tidak sedikit tetapi masih belum bisa maksimal berjuang, hiks. 

Aku malu, malu sekali. Selama hampir sebulan aku malah lebih sibuk dipusingkan dengan urusan menye-menye gak jelas, sementara tanggungjawabku mengharuskan aku untuk bisa fokus pada tujuanku datang ke sini. Harapan negara, kantor dan keluarga lumayan besar kepadaku, dan aku belum bisa memberikan sumbangsih yang berarti. Sedih. Demi alasan menata hati, aku menyibukkan diri dengan main ke sana kemari bareng teman. Itu, sedikit banyak, lumayan melegakan sih. Tertawa bersama sahabat sungguh merupakan obat tersendiri, pelarian dari urusan hati, hehehe. Tapi, ketika edisi main kemaren selesai, aku bertekad bahwa hari ini harus bisa fokus lagi dengan urusan kuliah. Daaan... ketika membuka akun blackboardku, tersadarlah aku, bahwa unit selanjutnya menuntut perhatian yang tak boleh terbagi. Reading list yang saangaaat panjang dan untuk topik yang gak begitu jadi favoritku, statistik. Yeah... I have a bad relationship with numbers, dunno why. Agak ngeri ku download satu persatu materi dan semakin tergugu ketika sekilas terantuk pada istilah statistik apalah-apalah itu. Maih mau main, Rin?? Hiks...

Oh, Dita..maafin kakak, ya... kakak ternyata tidak sehebat yang Dita kira,,hiks.. Kakak rupanya masih lemah, Dit. Belum cukup ulet belajarnya, belum cukup persistent dalam berusaha. Tapi, Kakak janji, akan memperbaiki itu semua. Demi bisa mewujudkan mimpi dan menuntaskan apa yang telah kakak mulai. Supaya beneran bis amenjadi inspirasi bagi kalian, adik-adik kami di AAS. Seperti yang tadi kita omongin, berjuang bareng-bareng semuanya, yaaa.. Terima kasih sudah "menampar" kakak hari ini. Faktanya, kakak belajar banyak juga dari Dita... Semoga perjuangan meraih mimpi kita diberkahi Allah, ya... Thx juga untuk kakak-kakak di AAS yang sangat menginspirasi. Senang menjadi bagian dari kalian semua. 

Thursday, May 04, 2017

Just finished watching "sliding doors". An old movie. Got it from a friend's blog. She was right. The movie makes me think. About serendipity. About me. About you. About us. Dunno whether it is the way that God chooses to speak to me. But it works. A bit relieving now.

PS: Love the closing music. Dido_Thank you. Gonna be my this-week-theme-song I guess.

Tuesday, May 02, 2017

Kamu memang keras kepala dari dulu, kan?
Sudah kuusir ribuan kali. Sudah kudiamkan milayaran kali.
tapi kau tetap diam di sana, enggan lenyap.
Lalu apa gunanya semua ritual melupakan yang kulalui dengan sangat tersiksa itu?

Aku jauh loh sekarang...Aku butuh visa dan beasiswa untuk bisa ke sini. Tapi kamu dengan tanpa rasa bersalahnya selalu mengikut kemanapun. Tanpa perlu apply beasiswa, tak usah degdegan tunggu hasil tes TB, juga tak perlu rempong cari akom. Dimana adilnya?

Hey, tak tahukah kamu kepalaku butuh ruang yang tidak ada kamunya. Aku butuh fokus belajar dan konsentrasi untuk urusan lain yang jauuuuh lebih penting.

Berhentilah jadi hantu, kau belum mati, kan? Toh kau juga tak pernah benar2 menawarkan kebersamaan dengan konsep yang ada di kepalaku tentang kita. Nah, sekarang dan selamanya, bisa untuk tidak hadir saat aku sedang mencoba bahagia tanpa ada harapan bodoh menari2 di otak?

Betapa aku tak mengerti selera humor semesta ini. Baru beberapa minggu yang lalu aku dengan leganya merasa badai ini telah usai. Kau penipu! Ku pikir kau benar2 pamit dengan damai. Aku terjerat ketenangan semu.

Lalu kau datang bersama gemuruh, angin dan hujan. Mengejek aku tanpa belas kasih.
Pada langit, pada awan dan pada sinar matahari. Dan seperti tak pernah belajar dari pengalaman, aku menyerah kalah tanpa perlawanan.

Monday, May 01, 2017

Feeling Guilty

Kalau ada satu emosi yang lumayan sulit kuhandle, maka itu adalah perasaan bersalah. Apalagi jika rasa bersalah karena telah menyakiti seseorang yang sangaaat baik. Aku punya cara sendiri berdamai dengan emosi yang lain, marah, sedih, kecewa, tapi belum menemukan cara yang cukup mumpuni untuk deal dengan perasaan sedih karena telah mengecewakan orang lain yang aku sayang.

Jadi, semua bermula dari janji yang dengan gampangnya aku buat dan dengan gampangnya aku batalkan. Ada tante Bibah yang sudah repot buatin makanan kesukaan, ada Salim dan Omi yang harus rela meninggalkan kegiatannya yang juga penting hanya untuk mengkover kesalahan kakaknya yang jahat ini. Hiks,,, bahkan pada saat menulis ini, hatiku sakit. Di telepon keduanya sudah berusaha menenangkan, tetapi tetap tidak bisa membungkam suara-suara dari kepalaku sendiri yang mengingatkan betapa berdosanya aku pada Tante Bibah yang sudah begitu baik pada kami bertiga selama ini. Ya Allah, maafkan aku.

Kemarin tangte Bibah pulang ke Indonesia. Katanya di sana tiga hari saja di sana trus balik Bristol lagi. Bisa dipastikan hatiku tak akan tenang sebelum meminta maaf secara langsung. Dan tiga hari itu menjadi terasa lama...




Thursday, April 27, 2017

Berbahagialah, Irna dan Hijir.

Kalau tidak keliru, sekitar tiga bulan yang lalu, salah seorang sahabat, melalui WA, mengabarkan berita gembira bahwa ia akan segera mengakhiri masa lajang. Adalah Irna, nama sahabat saya itu. Tentu saja, saya sangat senang dan turut berbahagia untuknya. Sebenarnya beberapa hari sebelum dia memberitahu saya secara pribadi, di grup kami, teman-teman sudah lumayan kepo karena Irna sempat menanyakan beberapa urusan mengenai persiapan pernihakan dan segala printilannya. Semuanya rame-rame menerka-nerka yang dibalas Irna dengan sikap super misterius atau diam seribu bahasa, hehehhe. Seperti biasa, aku memilih diam dan menyimak. Jika berhubungan dengan urusan yang agak privat, meski kadang kepo, saya memilih untuk tidak bertanya kepada sahabat-sahabat saya. Alih-alih, saya akan menunggu dia yang akan datang sendiri berbagi kabar, atau menghargai pilihannya untuk tidak berbagi jika saya dinilainya bukan orang yang nyaman atau yang tepat untuk diajak ngobrol.

Lalu, tibalah kabar itu dari yang bersangkutan langsung.

Irna: "Sist, insyaallah saya nikah tanggal 22 April. Doakan lancar nah"
me: "Hwaaaa.. alhamdulillah... Sama siapa???"
Irna: "Datang makanya, biar dikenalin :P"
Me: "hwalaaaah.... aku kenal tak?"
Irna: "kenal. Tebak siapa!"
Me: "Hijir? Ucul? Daniel? Risal Tahang?"
Irna:" ahaahah.. ngabsen, buk. Hijir, sist"
me: "kyaaa... I knew itttt"

Kami terus berbincak dalam suasana suka cita. Dia meminta saya untuk tidak memberitahu siapapun dulu. Saya merasa terharu sekaligus senang. Saya termasuk dari beberapa orang pertama yang diberitahu. Duh, jadi merasa sedikit istimewa, hehehe.. Dan bagian yang agak seru adalah ketika beberapa teman yang sukses dibuat kepo sama Irna sampe bela-belain menghubungi saya, hahaha. Karena sudah diwanti-wanti untuk tutup mulut, saya pun tidak memberitahu kalau saya sudah tahu lama dan malah ikut mengompori dia buat cari tahu ke yang lain dengan berbagai cara. Maaf ya, Ceng, bukan bermaksud ikut ngerjain tapi ini amanah dari yang punya hajat, hehhe.

Taken from Fina's Facebook. 

Kalau ada hal yang saya sesali dari kabar ini adalah karena saya tak bisa turut hadir disana menjadi saksi momen bahagia sahabat saya ini. Apalagi, dia dan saya selalu sama-sama berangan-angan dipertemukan dengan seseorang yang bisa saling berbagi, menguatkan dan menyempurnakan dalam menjalani kehidupan ini. Rupanya Allah berketatapan bahwa diantara kami berdua, Irnalah yang lebih dulu bertemu dengan pasangan hidupnya, yang dengan setulus hati ko doakan semoga untuk selamanya, aamiin. Hijir, setauku, adalah pria yang baik. Pria yang pantas mendampinginya menjalani suka dan duka dan menggapai surga bersama-sama. Semoga bersamanya, hidup Irna menjadi semakin berwarna dan penuh berkah. Aamiin.

Well, Na.. selamat memasuki babak baru dalam hidupmu, ya... semoga bisa menajdi istri dan ibu yang baik nantinya, selalu bahagia, sejahtera, dan kaya-raya. Maaf tak bisa hadir di sana, memelukmu secara langsung. Tapi percayalah, doaku panjaaaaaaang banget untukmu. Aku sampe nangis loh doainnya, hehehe. Hijir, tolong sahabat aku dijaga sebaik-baiknya. Kamu sangaaaaaat beruntung mendapatkan hatinya. Berbahagialah kalian berdua...

From Bristol with love,,,
Ririn



Thursday, April 20, 2017


Definisi 'cari mati' yang sesungguhnya. Sudahlah, aku memang bego. 

Wednesday, April 19, 2017

After All this Time





Entahlah, saat itu, jiwaku dikepung oleh kilasan memori yang mendobrak ingin keluar. Tentang betapa kita pernah seperti ini, duduk diam tak mengucap kata, tapi kita bisa saling mengerti. Kau selalu punya kualitas itu dalam dirimu, menawarkan kebisuan yang membebaskan. Sesuatu yang belum pernah kutemukan pada orang lain. Mungkin itu sebabnya melepaskanmu menjadi begitu berat. 

Lalu, hatiku memutuskan untuk membebaskan dirinya darimu. Dari semua harapan dan doa yang sepertinya tidak berujung di akhir yang kuimpikan. Maka, dalam sendiri aku mengucapkan selamat tinggal padamu. Semacam ritual yang kulakoni berulang-ulang di waktu silam. Hilanglah dalam damai. Bahagialah untukmu dan untukku.


13 April 2017,
Lausanne, Switzerland

Thursday, April 06, 2017

Setelah 6 Bulan di Bristol

Akhirnya, setelah kurang lebih 6 bulan di sini, menghadiri 4 kelas, mengerjakan 3 essay, membaca reading list yang bejibun, melihat nilai yang sudah keluar, aku bisa bilang kalau aku sedikit demi sedikit menemukan kepercayaan diri kembali sebagai mahasiswa. Alhamdulillah, kecemasan yang mungkin agak berlebihan (tapi sebenarnya jamak dirasakan international students di awal masa perkuliahan) akhirnya perlahan bisa aku kikis. Atau setidaknya aku mulai mahfum bagaimana cara deal dengan semua kecemasan itu. Benarlah kiranya bahwa kuliah di luar negeri (maupun dalam negeri) bukan hanya masalah nambah ilmu tapi juga belajar menaklukkan tantangan (yang kebanyakan berasal dari dalam diri sendiri) dan akhirnya kompromi dengan keadaan.

Tadi adalah hari terakhir kuliah sebelum easter break. Nama unitnya Global Higher Education. Sejauh ini, unit ini yang paling menajdi favorit aku. Sejak awal, aku merasa bahwa readingnya sangat gampang dipahami. Mungkin karena latar belakangku yang bekerja di sebuah universitas, jadi sedikit banyak bisa relate sama pengalaman selama ini. Atau mungkin juga, lebih dari yang berani aku akui, I am getting better in terms of my academic abilities, alhamdulillah. Dulu sebulan sebelum unit di mulai, aku seringkali setress karena dalam usaha memahami maksud bacaan, aku kadang butuh membaca reading yang sama berulang-ulang. Bahkan harus mencari versi bahasa indonesianya agar dapat mengerti dan mengikuti online lecture untuk tema terkait.  Ketika kelas berlangsung, aku akan lebih banyak diam. Selain karena tidak pede dengan kemampuan bahasa inggris yang kurasa masih kurang juga ragu apakah pendapatku benar atau malah salah.




Untungnya, model pembelajaran yang umum terjadi di dalam kelas memungkinkan semua siswa mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan pendapat. Sikap dosen dan teman-teman sekelas sangat membantu aku untuk berani bersuara. Dari pengalamanku selama ini, semua pendapat diapresiasi. No right and wrong answer kata dosenku. Yang beda adalah cara dan sudut pandang kita dalam memahami suatu konsep dan itu sangat wajar terjadi dalam kehidupan akademik. Justru, dengan menyuarakan apa yang kita pahami, bisa membuka wawasan orang lain untuk melihat dari perspektif yang berbeda, yang pada akhirnya memperluas wawasan dan membuat kita semua menjadi lebih bijak dalam memaknai sesuatu karena itu tadi kebenaran tergantung dari sudut mana dan dengan lensa apa kita memahami sesuatu.

Aku merasa sangat positif terlebih setelah mengikuti mata kuliah hari ini. Aku senang ketika aku akhirnya berani keluar dari kecemasanku sendiri. Aku senang ketika teman dan dosen antusias mendengarkan opiniku. Aku senang karena ternyata aku juga bisa. Sama sekali tidak masalah jika kita punya pendapat yang berbeda, selama kita bisa menjelaskan alasannya dari sudut pandang kita. Tak perlu baper kalau ternyata teman kita memiliki penafsiran sendiri yang sangat bertolak belakang dengan pemahaman kita, karena dari situ kita belajar melihat dari sudut kacamata baru. Pengalaman ini membuatku berfikir dengan sistem pendidikan di Indonesia. Menurutku, beginilah seharusnya atmosfir yang ada di ruang-ruang kelas kita. Sekoalh bukan hanya menjadi tempat pertukaran pengetahuan semata antara guru dan siswa atau antara siswa dan siswa, tetapi juga harus bisa mentransformasi pola pikir dan prilaku, memperluas cakrawala, menumbuhkan empati, membangun kepercayaan diri siswa dan memungkinkan siswa bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Well, akhirnya aku menemukan diriku kembali, membuatku melihat dengan jelas alasan mengapa dulu aku ingin kuliah di sini. Alhamdulillah ya Allah atas apa yang terjadi dalam hidupku. Terimakasih telah membuatku menyadari bagaimana mewujudkan mimpiku to become a good lecturer who can bring out the best of their students. Pengalaman yang kudapat di sini sangat berharga. Teruslah terangi langkahku, ya Allah... 

Sunday, April 02, 2017

Essay Break, hehehe

Hallo,

Aku nongol lagi nih. Pening semakin menjadi-jadi saja saat aku memaksa untuk tetap membaca bacaan buat kuliah Selasa nanti sekaligus nyambi ngerjain essay untuk modul yang kemaren. Lucu memang cara otakku bekerja. Saat ngerjain essay bisa sekaligus sambil mikirin si reading juga dan begitupun sebaliknya. Jadinya kapanpun aku lagi mood nulis, maka aku akan berhenti sejenak dari reading dan mulai mengetik beberapa kalimat bahkan paragrap. Tetapi, di sela-sela itu, aku akan teringat reading dan berpalinglah fokusku pada artikel jurnalku. Atau, kalau sudah sangat jenuh dengan keduanya, aku melarikan diri pada hal lain. Yang paling sering sih nge-game, hehehehe

Nah, saat ini aku sedang tidak mood main game. Mataku terasa kering karena terlalu lama terpapar radiasi lappy dan kepala juga semakin pening aja rasanya. Memaksa mata menatap bola-bola warna warni secara intens bisa memperburuk keadaan.  Maka, aku memilih memejamkan mata sejenak dan lanjut ngeblog (ini juga kan kena radiasiii, gimana sih, heheh). Hape sengaja aku matiin untuk menghindari distraksi dari segala rupa media sosial. Meskipun bisa sih sebenarnya diakses dari lappy juga, hehehe... Tapi, setidaknya, distratksi hape masih jauh lebih besar dibanding lappy.

Oh ya, tadi juga aku sempat ngecek website calon akomodasi untuk ditinggali di tahun kedua. Sejenis students' shared-flat buat bertiga (aku, Teh Diah dan Daryl). Lumayan bagus (berdasarkan foto-foto yang ada) dan murah sih menurut kami. Sebulan cuman kena kurang lebih £400 all include. Jauuh banget sama harga akom sekarang yang £675 per bulannya. Lumayan kan beda £275, bok. Kami memang berencana nyari yang lebih murah sih pas tahun kedua. Selain pengen bisa nabung, kami juga kebeneran sangat doyan main dan jajan hehehe.. jadi dengan selisih segitu tiap bulannya, bisa banget lah ya bikin goal "Menuju Ririn Kaya dan Bahagia 2020" wkwkwk. Tentulah hunting akom tak afdol kalo belum viewing. Sebenarnya, kemaren Daryl sempat bilang kalo urusan viewing2 biar dia aja. Tapi, dia belum sempat karena keburu pulang Indo hari ini,, hiks. Jadilah urusan ini diambil alih olehku dan Teh Diah. Aku sudah buat appointment untuk viewing TKP hari Kamis jam 5 Sore, pas kuliah kami selesai. Semoga cocok deh. Malas banget sebenarnya sama urusan beginian. Tapi HARUS.







Semua foto ini diambil dari
http://www.bristolsulettings.co.uk/properties/property/5864618-west-street-bedminster-bristol

Sebenarnya ya, aku lebih prefer untuk tinggal sendiri sih ketimbang shared-flat begini. Why? Karena aku tuh orangnya sangat moody dan kadang agak psycho anti sosial untuk saat-saat tertentu. Kedua temanku ini tak diragukan lagi kebaikan hatinya. Tapiiiii... justru itu yang membuatku agak berat sebenarnya. Aku takut ga bisa membalas dengan kebaikan yang sama. Apalagi sama Teh Diah yang pembersih, yang teratur, yang pinter masak, yang disiplin. Sedangkan akuuu??? aku yang "rantasa", sangat sangat sangat cuek, malas masak, malas beberes, dll. Kan gak enak kalo dianya beberes sementara aku lagi malas. Kalo sendiri kan mo gimana berantakannya kamar aku mah biasa aja. Daaan sudah bukan rahasia lagi, kalo sesama cewek tuh suka rada-rada sensi. Hufft gimana dooong??? Kalo sama Daryl aku belum tau juga anaknya gimana. Tapi biasanya sih cowok lebih cuek ya, jadi mungkin lebih agak bearable lah. Tapi bisa jadi juga sebailknya. Konon semakin dekat kita dengan seseorang, semakin terlihatlah kekurangannya. Ada yang bisa kita tolerir dan ada juga yang tidak. Dalam hal ini, aku bukan merisaukan kekurangan teman-temanku ini sih, tapi lebih kepada beberapa kebiasaan burukku yang mungkin membuat mereka tidak nyaman. Huft 1000 kali. lalu mengapa aku mau? Pertama, aku gak enak karena sudah diajakin beberapa kali tapi nolak terus (kalo nolak lagi kok ya kayak songong bgt aku ini). Kedua, gak mungkin selamanya menghindari hidup dengan orang lain kan? Kalo nikah kan ntar mau tak mau harus hidup sama pasangan yang pasti memiliki banyak perbedaan juga sama pribadiku. Nah untuk itu, aku niatnya setahun berbagi flat itu sebagai latihan hidup berkompromi dan saling mengalah dengan orang lain. Semoga lancar jaya,, aamiin.

Hokelah, cukup sudah escapinnya. Saatnya kembali ke dunia nyata. Essay, reading, come to mamahhhh...

Simply Be Thankful

It's 22.08. I am still in the Senate House with my journal articles on my lap. I am a bit sleepy and tired, trying to understand what this reading is about. Oh, I am feeling dizzy. Inhale... Exhale... "It's OK", I said repeatedly to myself. "Be thankful, Ririn for your dream to study abroad has been granted now, in the very place on earth you wished you would stay". Yeah, I should've known that it won't be easy but hey, you're stronger that you think. Just do it. Just finish what you have started. In the end, everything is going to be OK. 

Ganbatteeeee.... hosh..hosh...

Wednesday, March 29, 2017

Distractions while (trying) finishing my essay...

Hai..hai..

Jam digital di lappy menunjukkan pukul 18:43 waktu Bristol. Artinya, sudah kurang lebih hampir empat jam saya di Senate House ini dengan niat yang suci mulia hendak menyelesaikan essay karena oh karena hilal deadline sudah sangaaaaat dekat. Well, sebenarnya saya tipe orang yang agak susah mengerjakan sesuatu jika deadlinenya belum mepet-mepet amat. By saying "mepet" I mean 24 hours before submitting, yaaaa... Dan deadline essayku kali ini adalah 11 April. Masih lamaaaa untuk ukuranku yang biasanya. Tapi kali ini mau tidak mau harus diselesaikan secepatnya karena ada kuliah lagi tanggal 3,4,5 April, dan tanggal 7nya Sukma, teman dari Kendari yang kuliah di Exeter, akan berkunjung ke Bristol. Kemudian pada tanggal 10 April aku dan beberapa Deans Squad akan ada Euro trip ke empat negara: Prancis, Swiss, Italia dan Belanda. Soooo, mau tak mau tugas ini harus sudah selesai besok kalo menurutku. Soalnya kan untuk kuliah yang tanggal 3, 4, 5 itu aku harus banget baca reading list dong. Kelasnya sih audit only, tapi ya tetep gak mungkin juga gak baca.

Nah, dengan kondisi waktu yang sudah sangat-sangat darurat ini, harusnya panic moodku sudah bangkit dong sekarang, harusnya dia saat ini sudah mengusir monyet procrastinator yang dengan bawelnya masih berkuasa dalam sistem kerja otakku. Tapi..tapi..tapi.. bukannya fokus ngerjain essay ato baca artikel terkait eh akunya malah baca yang lain. Aku blogwalking dong dari sejam yang lalu. Dari intip-intip blog teman yang ada di list blogku, sampailah aku pada blognya Mbak Flo yang menceritakan hasil reviewnya tentang sebuah wedding organizer pas dia nikah. Aku akhir-akhir ini jarang banget mampir di blog jadi gak tau kalo Mbak Flo ternyata udah nikah aja. Maka, kepolah aku pada beberapa postingannya yang terdahulu. Apalagi kalo bukan kepoin proses dia akhirnya memutuskan menikah, hehehe... But, ternyata si Mbake gak nyeritain proses itu di blognya. Disimpan sendiri kali yee biar lebih privat. Setelah dari lamannya Mbak Flo aku mampir ke "rumah"nya Pak Made Andi, yang dalam postingan terakhirnya, bercerita tentang hari raya Nyepi yang dijalaninya. Trus ke blognya Maknyak, Nope, ke Jeng Irna, dll. Blogwalking ini jadinya mengundangku untuk menulis juga (meskipun ga penting dan seharusnya yang aku tulis itu adalah essayku, sodara-sodara!!).

Kupikir ya.. biarlah nulis aja dulu agar "racun-racun" dalam kepala bisa hilang dan yang tersisa tinggal kenangan pikiran yang jernih dan niat agung untung menyelesaikan essay dengan tepat waktu sesuai target. Maka, here I am writing this "syalalalala" kid of tuf, hehehe. Duh gusti, ini kebiasaan kayaknya sudah harus harus HARUS aku rubah deh. Tapi aku bukan tanpa usaha loh ya. Sebelum ini, aku sudah mulai mencicil tulisan demi tulisan. Mulai dari bikin outline, trus nyari bahan, trus mulai nyicil nulis per subsesinya. Tapi,, ya itu, karena susah fokus kalo belum deadline akhirnya sehari hanya bisa dapet 150an kata. Pernah sih pas lagi on banget, tiga jam bisa menghasilkan seribu kata lebih, tapi ya itu, dua hari berikutnya aku balas dendam dengan leyeh-leyeh tak jelas di kosan. Anothher huftness. Aku sudah pernah discuss sama teman akan masalah ini. Aku bilang ke dia kalo sebenarnya salah satu tujuanku kuliah di LN adalah untuk mengubah kebiasaan buruk sistem kebut semalam ini tapi sampe sekarang belum berhasil dan ini sering membuatku setress. Tapi kata dia:

"Well, teh, mungkin pada akhirnya teteh akan berubah perlahan-lahan... tapi mungkin juga enggak dan akhirnya malah bisa berdamai dengan diri teteh sendiri dan mulai menerima bahwa itulah diri teteh. Sistem kerja otak orang beda-beda teh, ada yang harus ngerjain awal waktu banget ada juga yang kayak kita, yang baru bisa kerja pas diakhir waktu. Udah terima ajah. Kita memang begitu. Toh selama ini juga kan ga ada cerita kita ga bisa selesein tepat waktu, ya kan?" (Purawijaya, 2017).
Pulang-pulang aku lamat-lamat memikirkan perkataan si Daryl ini. Iya ada benarnya juga kali ya. Inilah saku dan beginilah cara otakku bekerja. Jadi, mungkin sebaiknya aku mulai harus lebih mengasah skill "cuek"ku terhadap orang-orang yang selalu menuntutku untuk bisa bekerja seperti ritme mereka, yang kayaknya sampai sekarang sangat menyiksa buatku. Karena, setiap orang itu beda-beda. Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri. kalau dipaksakan kasihan dan gak guna juga. Yakan? yakan? Aku sudah coba berkali-kali tapi selalunya tak berhasil. Jadi dari pada setress aku gunakan waktu "tak bisa fokus"ku itu untuk main game atau nonton atau mager to the max sambil memikirkan outline essay yang akan kukerjakan nanti. Hasilnya sih biasanya oke kalau gitu.

Kyaaaaa... leganya habis menuliskan iniii... kayaknya aku bisa fokus deh habis ini negrjain essaynya. Aku berencana nginep di sini malam ini. Karena kalau di kamar, bawaannya pengen tiduran ato main game. Setidaknya, Senate House full malam ini. Para students lagi ngejar deadline juga kayaknya. Soalnya sudah mau easter break, jadi mereka memutuskan menyelesaikan essay mereka agar bisa menikmati liburan dengan maksimal. Well well, kuharap energi dan semangat mereka bisa menular padaku juga, hehehe... okelah,, aku lanjut ngessay lagi yaaa... Doakan bisa kelar dan submit besoknya... byeee

Referensi:
Purawijaya, D. (2017). Percakapan waktu jenguk Daryl yang lagi sakit. Bristol: Flatnya Daryl.

PS: ini tulisan wordcount-nya 813 kata lho. andai bisa ngessay selancar ini yaaa, hehehehe


Tuesday, March 28, 2017

Stories from Yesterday...

Hallo...

Matahari di Bristol hari ini tidak seenak matahari di London kemaren. Aaah akhirnya bisa menikmati London tanpa menggunakan mantel. London sore kemaren begitu cantik dan hangat. Paginya, eh siangnya sempat agak-agak gondok sama om petugas VFS yang keliatannya baik tapi ternyata nyewbhelin. Padahal kantornya juga biasa ajah (kayak klinik bersalin di pustu adek aku di daerah terpenciiiiiiilll di suatu pulau di Sulawesi Tenggara). Padahal padahal padahal,,, ah banyak lah padahalnya, intinya si om ituh bikin syebelll, hehehe. Oh iya, aku sama teman-teman kemaren ke London dalam rangka mengurus visa buat Euro trip April nanti. (Sebenarnya intinya mo riya' masalah ini sih, tapi harus pencitraan jadinya dibuatlah prolog yang panjang, xixixi).

Oh iya, balik ke si Om yang nyebelin itu... sebenarnya dia mungkin biasa aja ya,,, tapi naluri soudzoniah yang telah kurawat baik-baik ini akhirnya membuat aku sempat memikirkan untuk melepas kabel-kabel di komputernya, Belom tau dia sedang berhadapan sama tukang rusuh dari Sulawesi ini, AHAHAHAHHAHA... tapi gajadi deng, karena ada malaikat khuznuzoniawati yang bernama Mury yang selalu mengingatkan untuk jadi anak baik-baik. Maacih Mury..

Kelar urusan dunia di VFS, kami lalu ke Nusa Dua karena Mbak Khay udah lama banget pengen makan di sana. Nyari Nusa Dua ini membutuhkan beberapa kali tawaf karena dikerjain City Mapper yang agak kurang akurat plus skill baca peta kami yang yaaaaah gitulah. Tapi begitu sampai, lelah kami buyar demi melihat makanan indo tersaji secara nyatah di hadapan kami. Akhirnya, proper lunch pemirsah. Kemaren aku juga janjian ketemu Ricky yang mau ambil buku titipan Teh Diah dan jadinya ketemu lah kami di sana. Makan-makan dan ketawa-ketawa rebes, pasukan kami kemudian lanjut ke Museum Sherlock karena Mury fans berat si Sherlock ini dan kemudian ke area center demi membawa Mury ketemu Big Ben untuk pertama kali.

Bahagia setelah temu kangen makanan Indo, hehehe


Dedicated for Tante Agatha Cristie...
Somewhere near Nusa Dua  Indonesian  Resto


Who run the world?? GIIIRLSSS.. 

Mury di sarang penyamun Sir Sherlock

Poto di sini wajib katanya, heheh

Seorang fans Sherlock, heheh


Daaaaaan... yang bikin shock sekaligus miris apa cobaaaa? masa dia bilang Jam Gadang lebih kece di banding BIG Ben. Mury, are you okay??? I mean, ini Big Ben yang di LONDON lohhh Muuur... berikut reka ulangnya:

(ini percakapan waktu masih pagi di bus dari Victoria Coach Station ke kantor VFS)
Mbak Khay: Ini lho, Muur.. tadaaa.. (perlahan-lahan Big Ben nampak dipelupuk mata)
Aku: (Menunggu respon excited Mury...)
Mury: "..... kok lebih keren Jam Gadang ya..?"
Mbak Khay & Aku: "HWAAAAATTTT??? Muryyyyy?

Yah begitulah si Mury ini, gadis super cool dari Melayu. Aku ingat padahal pertama kali liat Big Ben ini noraknya minta ampun. hahaha.. apalagi pas ke sini sama Abdan, heboh to the max. Eh ini anak malah biasa ajah.. *&^%$£@! O. Itu percakapan pas pagi sih diliat dari bus. Mungkin itu kali yaa, penyebabnya. Tapi, heyyyy... masa siiih??

Akhirnya sesampenya di kaki BigBen, aku tetap penasaran dan nanya Mury lagi dong, "eh Mur, serius lebih bagus Jam Gadang dari ini?" trus katanya "...oooh iya sekarang Big Ben bagus deh, Mbak." Tapi kok aku ragu ya,,, mungkin dalam hati kecilnya Jam Gadang tetep lebih bagus, ahahaha (Ratu soudzon). Sore yang cantik sekali kemaren kami habiskan dengan menikmati Sungai Thames sambil nongki-nongki cantik di Pret A Manger dekat situ. Si Arip pesen jus apaaa bgtu yang rasanya lumayan enak. Aku pengen habisin sih sebenarnya kemaren itu jusnya si Arip itu tapi takut dibunuh, wkwkwk.

Very nice afternoon

selpie selpie
cuaca okey senyum okeeyyy



antrian untuk poto di telepon box ini tak pernah sepi

Mb Khay n Mury


gak lagi endorse inih


Jam sudah menunjukkan hampir jam 7pm, langit masih terang sebenarnya (sekarang sudah resmi masuk Spring, jadi siang lebih panjang) tapi tiket kami buat balik Bristol jadwalnya jam 7. Kami pun berjalan menuju bus stop menuju Victoria lewat Westminster Abey. Sepanjang jalan banyak buket bunga yang cantik sebagai tanda berbela sungkawa bagi korban baik yang meninggal dan luka-luka pada teror penabrakan yang dilakukan oleh orang jahat beberapa hari lalu. Hatiku tersentuh pada budaya orang sini dalam berempati. Semoga kekerasan dan teror tidak terjadi lagi deh di muka bumi. Kami menunggu bus datang sambil foto-foto. Dan seperti biasa, poto-poto Arip selalu ketjeh. Mata potograper emang beda si yaa,,

Beberapa menit kemudian bus kami datang dan mengantar kami menuju Vicoria Coach Station untuk balik lagi ke Bristol. Sebenarnya, nyampe Bristol masih ada satu lagi event istimewa yaitu surprise party untuk adik bungsunya Deans Squad. Tapi ceritanya nanti aja, di postingan yang spesyal untuk si Andri.

Demikianlah.. akhirnya bisa nulis lagi, hehehe
Eh ini poto2nya yaaa....





Monday, March 06, 2017

Still falling for you.
Ellie Goulding yang nyanyikan
Hatiku yang mengiyakan.
Kebodohan purba. 

Thursday, March 02, 2017

Is it ok to cry now? 
Tap tap tap
Ketergesagesaan berderap datang dan pergi. Masing-masing memikul diam yang ribut. Ada waktu yang tak berhenti mengejek. Ada gumam sayup yang mengintimidasi. Ada aku bertoleh tak henti. Ada aku jadi pecundang. Menunggu pada tangga di pojokan. 

Wednesday, February 01, 2017

&*%$£@

Kursor yang berkedap-kedip ini seakan mengejekku. "Mau menambah daftar draft lagi, Jeng?' ejeknya. "We'll see" kataku pendek. Entahlah aku malas menghitung sudah berapa tulisan yang kubiarkan tetap berstatus draft di blog ini. Terakhir ketika aku ingin membuat refleksi di hari bertambahnya umurku menjadi 32 tahun. Sudah ada beberapa paragraf sebenarnya tapi apa daya, swinging-moodku memang sudah berada pada level akut. Tiba-tiba saja aku kehilangan minat untuk melanjutkan menulis. Entah apa sebabnya. 

Lalu aku pun mulai mencari-cari alasan. Essay lah, reading list lah. Walau ku tahu pasti bukan itu alasannya. Kalau mau jujur, mungkin aku sudah kehilangan muse untuk menulis. Aku mulai berfikir hidupku mungkin terlalu biasa untuk diceritakan. Itu alasan mati sebenarnya. Karena aku tahu beberapa orang dengan terang-terangan ingin menjalani hidup yang kujalani sekarang dan akan dengan bahagia menuliskannya untuk kemudian dikenang dan dibanggakan kepada anak cucu kalau umur panjang. 

Hufftttt... bahkan untuk melanjutkan postingan ini pun rasanya aku kehilangan minat. setiap selesai satu paragraf, kursor kubiarkan berkedap-kedip sendiri beberapa menit lalu kutinggal sendiri untuk membuat teh dan main game. Salah satu resolusi ulang tahun untuk mulai menulis lagi kayaknya akan menjadi sekedar resolusi lagi kalau begini ceritanya. 

No. Tulisan ini tak akan kubiarkan bergabung menambah panjangnya draft di blog ini. Kuposting sajalah siapa tahu bisa membuka saluran minat menulisku yang sudah lama sekali tersumbat. Sangat berharap bakal sering lagi menulis seperti dulu. Semoga.