Monday, May 02, 2011

Terbang Terhempas


Pernahkah kalian merasakan sensasi diterterbangkan/diangkat tinggi sekali lalu kemudian dihempaskan begitu saja kebumi dengan kecepatan tak terkira? Mungkin bagi yang pernah naik wahana Histeria di Dufan pernah merasakannya. Isi perut seakan jeblok dan jantung serasa mau copot, bahkan yang kudengar dari teman ada yang sempat ngompol saat mengalaminya. Aku sendiri sama sekali belum pernah bermain di wahana histeria tersebut tetapi sensasinya sedang aku rasakan saat ini. Bukan ragaku yang diterbangkan tinggi sekali lalu dihempas ke bumi begitu saja melainkan hatiku yang mengalaminya. Sungguh sensasi yang tak menyenangkan. Jantungku bukan hanya mau copot, tapi juga berdegup-degup tak karuan karena bercampur dengan kecewa, sedih, dan perasaan tak rela. Bagaimana bisa aku merasakannya? Begini ceritanya… Auuuuuu….



Masih ingat dengan postinganku yang lalu mengenai Program Pelatihan Bahasa Inggris? Pelatihan itu bertujuan untuk membekali para dosen tetap terpilih dengan penguasaan Bahasa Inggris sebelum pada akhirnya dikirim ke LN untuk melanjutkan studi. Aku dan beberapa rekan dosen di UMK telah mendaftar secara online tetapi dari 19 yang mendaftar hanya dua orang yang berhasil lolos. Banyak rekan dan  termasuk juga aku merasa sedikit kecewa, karena kami tak tahu apa penyebab kami tidak lulus. Dalam aplikasi online itu tidak ada bagian yang mempertanyakan mengenai nilai, pangkat akademik, dan apapun yang dapat membedakan “derajat/nilai” kami dengan peserta yang lain. Semisal ada bagian yang mempertanyakan tentang pangkat akademik atau sebagainya, mungkin kami akan memahami, ”ooo mungkin si A lolos karena pangkat akademiknya lebih tinggi dari kami”, tetapi ini tidak ada sama sekali. Sebenarnya ada bagian yang mungkin dapat menggolong2kan “kasta” kami yaitu bagian kualifikasi pendidikan. Tetapi, banyak diantara kami yang bergelas master tetapi juga tidak lulus. Jadi apa dasar DIKTI menentukan Si Ini yang lolos dan Si Itu yang tidak?

Alhamdulillah, meskipun sedikit kecewa, kami tidak larut dalam perasaan yang tidak menyenangkan ini apalagi terjebak dalam perangkap iri. Kami secara tulus mengucapkan selamat pada kedua rekan kami tersebut. Mungkin belum rejeki, atau Tuhan sedang mempersiapkan yang jauh lebih bagus untuk kami. Kesibukan mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru membuat kami melupakan hal itu dan semuanya kembali normal seperti sebelumnya.

Tetapi, sesuatu terjadi hari ini. Ketika aku berada di ruang Biro Keuangan, K Rahma, salah satu rekan dosen memberitahu aku bahwa jumlah peserta Pelatihan Bahasa di Makssar kurang 6 orang, dan dia bertanya apakah aku berminat ikut. Apa katanya? Berminat? Waduh, kak..tentu saja sangat aku sangat berminat. Dengan senang hati aku berkata padanya bahwa aku sangat sangat mau. Disebelahnya, P Ary menjelaskan segala sesuatunya. Katanya dia dapat info dari P Suharta (rekan yang lulus) bahwa panitia meminta satu peserta lagi dari UMK yang telah melakukan pendaftaran tetapi tidak lulus untuk segera ke Makassar guna mencukupi kuota. P Suharta mengajukan P Ary, tetapi karena sesuatu dan lain hal P Ary tidak bisa pergi. Maka dia pun bertanya pada K Rahma siapa kira-kira yang bisa berangkat. Nah, K Rahma kemudian teringat padaku. Aku sempat ragu juga, apakah sudah ada jaminan bahwa aku akan diterima disana, atau jangan sampai ada syarat-syarat yang harus aku penuhi dulu sebelum berangkat. P Ary pun menjelaskan bahwa aku hanya perlu Surat Tugas yang ditandatangani Rektor atau Dekan. Ah, itu mah masalah mudah, P Dekan masih ada diruangannya, dan beliau dengan senang hati pasti akan meberikan Surat Tugas tersebut. Aku kemudian meminta nomor ponsel P Suharta untuk informasi lebih lanjut. P Ary memberitahu bahwa P Suharta hanya bisa dihubungi pada malam hari, karena selama pelatihan, HP harus disilentkan.

Dengan hati yang hanya dipenuhi perasaan girang tak terkira, aku kembali keruangan. Penuh semangat aku memberi tahu Si Bos tentang berita tersebut, dan betapa inginnya aku mengikuti Pelatihan itu. Tetapi, ada yang ganjil dengan raut muka Si Bos, dan ini mebuatku sedikit waspada. Jangan-jangan…. Lalu, dengan pelan dan hati-hati Si Bos berkata bahwa bukannya dia mau menghalangi aku untuk pergi, tetapi sekarang ini masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan terkait penerimaan mahasiswa baru dimana aku menjadi wakil sekertaris. Huuhuuuuhuuuu…. Begitulah, hatiku seperti baru saja diterbangkan setinggi langit namun kemudian dihempaskan begitu saja kebumi tanpa ampun. Aku tertunduk, berusaha keras menyamarkan perasaan kecewa yang langsung menyiram hatiku. Beberapa argumen protes berkelebat dibenakku. Tentang bukankah dulu Si Bos sendiri yang mendukung kami untuk ikut? Bukankah ini demi pengembangan dosen UMK juga? Bukankah Si Bos bisa saja mencari orang lain untuk menggantikan posisiku? Dan masih banyak bukankah-bukankah lain yang berlomba menghasut pikiranku. Tetapi aku tak berani mengungkapkannya pada Si Bos. Oh, lagi-lagi aku melihat pintu peluang untuk melanjutkan studi ditutup didepan mataku. Sedih dan tak rela menusuk-nusuk hatiku. Tetapi diatas segalanya, aku juga sangat memahami penjelasan Si Bos. Disini ada tanggung jawab yang harus aku laksanakan. Aku harus bersikap professional, bukan? Pelan-pelan aku membujuk hatiku untuk berdamai dan iklas, semoga ada yang lebih baik menunggu di depan sana.

Dan, oh berdamai dengan keadaan dan mencoba iklas itu sama sekali bukan perkara mudah, kawan. Sungguh. Apalagi ketika Si Bos memintaku agar bersabar dan memberitahu teman-teman lain siapa tahu ada yang bersedia ikut. Duhhh,,!!! ini bagian terberatnya. Mengapa harus aku yang memberi tahu mereka, Bos? Kenapa bukan Bos saja?..hiks..hiks..hiks…T_T… Tetapi bukan “gw bgt” kalau aku  tidak memberitahu teman-teman yang lain mengenai hal ini.  Aku bukan manusia picik yang suka menyembunyikan atau menghalangi orang mendapat informasi atas sesuatu yang baik. Aku tidak ingin menjadi orang yang berkepribadian kerdil. Maka dengan memantapkan hati aku pun mengabarkan ke teman-teman tentang informasi ini. Yang pertama kuberitahu adalah K Tika lalu K Titin, saying keduanya tidak bisa pergi karena sesuatu dan lain hal. Y sudahlah, yang penting aku telah menghindarkan diriku dari perbuatan kerdil tersebut. Lega rasanya…

Setibanya dirumah, aku curhat ke mace tentang sensasi “Terbang Terhempas” yang aku alami hari ini. Dan lagi-lagi aku wajib bersyukur karena telah diberi ibu seperti beliau. Dengan bijaknya beliau menghibur hatiku dan membuat aku kembali berprasangka baik pada skenario yang dibuat olehNya. Membuatku kembali meyakini bahwa Dia hanya akan memberi yang terbaik untukku pada waktu yang tepat. Aku mengirup udara  banyak-banyak. Hatiku pun kembali sejuk dan damai. “O terimaksih, ma… You’re d Best dah…” bisikku sembari menatap lembayung dari balik jendela....

Friday, April 29, 2011

My Dream...^^


Melanjutkan studi untuk program magister dengan sokongan beasiswa selalu menduduki tahta teratas dijajaran mimpi-mimpiku sejak dulu. Sampai saat ini posisi itu belum tergantikan oleh mimpi-mimpiku yang lain. Oh, betapa keinginan ini begitu setia bercokol dalam benakku. Tak putus-putus aku mencari nafkah lahir dan batin peluang beasiswa, mengetuk pintu-pintu universitas yang sesuai dengan majorku agar mau menerimaku, sembari tak lelah mengirim doa dengan paket termanis menuju langit, berharap Sang Penguasa Arsy “terbujuk” oleh doaku.

Beberapa kali telah aku coba mengaply sana sini, tapi mungkin belum rejeki atau memang mugkin aku yang masih belum pantas untuk itu. Kalau mau jujur kacang ijo mungkin alasan kedua lebih tepat untukku. Aku sangat menyadari selama ini usaha yang aku kerahkan dalam mewujudkan mimpiku belum maksimal. Kadang aku jadi malu hati sendiri. Berani bermimpi tinggi tetapi tak meretas jalan untuk mewujudkannya. Selama ini aku hanya merajuk pada Allah agar mendengar doaku tetapi apa tindakan nyata yang ku lakukan?? Sangat jauh dari maksimal. Beberapa tawaran beasiswa sedang terbuka saat ini. Ada Aminef, Pelatihan Bahasa Inggris yang akan berujung pada pemberangkatan melanjutkan study di LN, Bea Unggulan Dikti untuk dalam dan luar negeri, ada program double degree, dan ada juga bea tentang studi gender yang diadakan UNHAS kerjasama dengan UMK.  Tetapi dengan sangat menyesal Aminef kubiarkan melenggang dan berlalu, karena toh skor ITP toeflku tidak mencukupi standar yang dipersyaratkan. Aku mengutuk diri karena tak pernah lagi menyempatkan diri mempelajari soal-soal toefl, padahal bukunya sudah aku beli. Sigh…

Well, untuk program double degree kerjasama Universitas Muhammadiyah Surakarta dan salah satu University di US telah aku apply. Lagian juga syaratnya sangat sangat sangat tidak ribet, alias tidak ada syarat. Hanya harus jadi dosen tetap di Universitas Muhammadiyah, n merupakan dosen dari Sabang sampai Merauke FKIP. Info tentang bea ini datangnya dari K Titin, rekan sesama dosen di UMK, katanya P Natsir (Wakil Dekan FKIP UMK yang sekarang telah naik jabatan jadi Dekan, _ _congrats y, Pak…^^) memanggil kita berdua untuk diusulkan sebagai peserta dalam program ini. Maka dengan senang hati kami pun menemui beliau. P Natsir tengah menulis nama-nama dosen yang akan diusulkan untuk mengikuti program ini pada secarik kertas. Sekilas kulihat telah ada 2 nama yang tertera disana. Beliau lalu menjelaskan secara ringkas mengenai beasiswa ini kepada kami, dan setelah mendengar kalimat yang mengatakan “no requirements” kami pun memekik senang. Kami hanya perlu menuliskan nama kami pada kertas tersebut, and that’s it.

Beberapa hari berselang, Si Bos (kepala Biro Akademik UMK) menyuruhku untuk gantung diri membuat Surat Pengatar Rektor untuk nama-nama dosen yang diusulkan mengikuti program Double Degree tersebut. Ooo.. rupanya dari P Natsir, nama-nama dosen itu diteruskan ke Si Bos sebagai Kepala BAA untuk kemudian ditandatangani Bapak Rektor. Aku melihat lampiran nama dosen-dosen tersebut, dan mendapati namaku terpampang dengan manisnya pada kolom ke-empat. Surat tersebut kuketik dengan semangat membara (LEBAYYYY,,hehehehe..). Tepat ketika aku selesai memprint surat tersebut dan hendak menuju ruang Rektor untuk meminta tanda tangan, Si Bos dengan mengecilkan suaranya meminta agar aku tidak banyak bacot meminta tanda tangan P Rektor dengan sembunyi-sembunyi. Katanya itu pesan dari Bapak Rektor sendiri untuk membatasi jumlah dosen yang diusulkan, dan sebisanya dosen yang diusulkan tidak perlu gembar gembor karena hanya akan menimbulkan rasa tidak enak pada rekan-rekan yag lain. OKlah kalau begitu, Boss!! Siap Laksanakenn!!

Kelar meminta tanda tangan dari Bapak Rektor, Surat itu pun ku fax ke UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) tak lupa mengkonfirmasikan hal ini pada CPnya. Yang perlu kulakukan sekarang adalah menunggu adalah hal yang membosankan pengumuman dari UMS.  Ditengah masa iddah menunggu tersebut, datang kabar mengecewakan dari Program Pelatihan Bahasa Inggris yang telah ku apply secara online beberapa waktu lalu. Dari UMK ternyata yang lolos cuman 2 orang. Ada rasa kecewa yang sempat hinggap di ujung ranting cemara benakku saat itu, karena salah seorang yang lulus itu adalah teman yang banyak sekali meminta bantuan padaku pada saat melakukan pendaftaran online. Namun cepat-cepat aku halau perasaan itu sebelum meracuni prasangkaku padaNya. Bukankah rejeki Dia yang menentukan?? Tenang…tenang… masih ada yang lebih baik, kataku menghibur hati dan perlahan kekecewaan itu pun terlupakan.

Pengumuman yang ditunggu dari UMS belum juga tiba saat tawaran untuk melanjutkan studi Program Magister terbuka lagi. Kali ini kerjasama UNHAS dan UMK tentang Study Gender. Mengetahui kuliahnya akan dilaksanakan di Kendari membuatku tak begitu tertarik pada awalnya, tetapi setelah mendengar penjelasan dari Pak Prof. Jufri (direktur pasca sarjana), aku sedikit banyak tergiur juga. Tapiiiii…. Apakah ini yang benar-benar aku inginkan?  Maksudku, Study Gender itukan bukan bidang ilmuku. Apakah aku bersedia menghabiskan waktu dua tahun untuk menghitung angkot yang lewat didepan rumah fokus menyelesaikan studi ini tanpa boleh berhenti ditengah jalan? Bagaimana dengan mimpiku untuk lanjut ke LN? Bukankah sudah ada kesepakatan antara aku dan orangtuaku, bahwa kalaupun tidak lulus untuk bea di LN, tahun depan aku akan melanjutkas studi di Malang dengan jurusan yang linear dengan S1ku?
Tidak ingin bimbang berlama-lama, aku bergegas menemui Ibu Ida (Senior Lecturer di UMK yang juga istri dari Si Bos) untuk meminta sesuap nasi “wejangan”. Beliau menyarankan agar aku focus saja mimpi yang aku punya yakni lanjut S2 di LN dengan jurusan yang sesuai dengan bidang ilmuku tentu saja. Caranya meyakinkan dan menguatkan aku sangat bagus. Dengan mantap aku memutuskan untuk tidak mengapply Program Study Gender itu.

Getir, aku melihat pintu-pintu beasiswa itu tertutup dan terlewati didepan mataku. Sekarang ini, pengumuman dari Surakartalah yang terus memantik semangat dalam hatiku dan juga adanya penawaran ADS yang menanti didepan mata. Untuk ADS pendaftaran dimulai kurang 2 lebih bulan lagi, yakni pada bulan Juni. Satu kesyukuran bahwa sore ITP Toeflku mencukupi untuk itu. Aku hanya harus lebih mempersiapkan diri dengan banyak-banyak belajar, bertanya kiri kanan dalam mengisi formulir, dll. Tuhan juga menyayangiku dengan memberikan senior-senior di UMK yang selalu siap membantu. Ada ibu Ida, Ibu Santi, Ibu Isna, dan K Halim. See..?? sebenarnya tidak ada alasan untuk pesimis, kan? hehehe…

O my dear God,
Yang maha mengetahui segalanya…
Yang selalu mempunyai rencana terindah dan terbaik untukku..
Disini aku menulis mimpi-mipiku dengan pensil, penghapusnya kuserahkan padaMu..
SIlahkan hapus yang tak baik untukku..
Dan ikhlaskan aku menerima segalanya…

Saturday, April 16, 2011

Thx, God....^^

Hal apa sajakah yang membuatmu bahagia hari ini?  Ah, kalau iya, congratulation, deh..^^ Aku juga punya cerita bahagia hari ini. Bukan oleh sesuatu yang spektakuler dan fantastis. Ini sangat jauh dari luar biasa dan bukan sesuatu yang mengguncang dunia. Ini hanya hal yang sangat sederhana. Bukankah kebahagiaan tidak mesti selalu berasal dari hal-hal yang menakjubkan? Aku bersyukur padamu ya Rab, yang telah menghadirkan kedamaian ini dalam bingkisan yang sangat cantik mewarnai hatiku. Aku berterimakasih akan pagi yang kau berikan hari ini. Kau menyapaku dengan cara yang selalu kusukai. Melaui mereka, kau menjawab doaku, menghilangkan gelisahku.

Aku mendengarMu berbicara melalui mereka, orangtuaku. Begitu sederhana sehingga mudah kupahami. Aku mengagumi kebesaranMu diantara tarian ikan koi di kolam belakang rumahku, menjadi saksi kasih sayangmu diantara gemulai dedaunan tertiup angin.

Baru semalam yang lalu, aku mengadu kepadaMu, tanpa malu meminta padaMu tentag janji kebahagiaan. Menengadahkan tangan mencoba membujukmu untuk sesuatu yang dapat menerangkanku. Semua pertahananku luruh dihadapanMu. Karena kepada siapa lagi aku kan datang meminta dan mengiba? kepada siapa lagi aku kan ku tanggalkan semua ego dan kesombonganku kalau bukan kepadaMu? Hanya kepadaMu ku percayakan jeritan hatiku, keinginan terdalam dari diriku. Hanya berbalut kepasrahan total, ku bersimpuh kepadaMu, dikeheningan malam yang sempurna.

Hari ini kau menjawab semua itu y Allah. Dalam paket cantik disebuah canda tawa, di suatu waktu di hari ini. Alhamdulillahi Rabbil Alamiin....^^

Sunday, April 10, 2011

Pangkat Akademik...^^

Nampaknya ini saat yang tepat untuk melunasi segala yang dengan sengaja kuabaikan beberapa minggu lalu. Sret..sret..sret... lugas penaku menggurat list "Things to be done" ku. Wow..@_@ lumayan banyak... (kali ini kulakukan tanpa mendengus instead of tersenyum). Yeah, salah satu yang ada dalam daftar itu adalah finishing my journal yang deadlinennya jatuh pada akhir minggu ini. Journal o journal, mengapa dia harus jadi yang utama untuk target minggu ini? Tak lain dan tak bukan adalah demi pengurusan pangkat akademikku. NIDN ku sudah ada, tapi itu belumlah cukup. Seorang dosen wajib memiliki NIDN plus pangkat akademik. Karena dalam berbagai macam pengurusan dua "tokoh" itulah yang berperan penting.

Bermula dari kegalauan hati yang terusik ketika satu persatu rekan sesama dosen sibuk mengurus pengusulan BPPS untuk UNiversitas Haluoleo, akupun akhirnya mengambil tindakan serius (lagaknya, penting bgt y...:P). Mereka begitu bersemangat melengkapi berkas demi berkas. Meskipun ribet, mereka tampak enjoy karena dikerjakan rame-rame. Aku menyaksikan mereka hilir mudik keluar masuk ruangan rektor. Bukan hanya sekali dua kai mereka mengadakan revisi disana-sini. Toh mereka tetap semangat. Sesekali juga "menggangu" diriku dengan numpang nge print, hehehehe...Lantas apa yang ku perbuat saat itu? NOPE!!! I just watched them with gerry chocolatos in my mouth, played game, and visited some unimportan webs... What a pity me..:(

Lalu mereka mulai bertanya-tanya kenapa aku tak ikut berpartisipasi dalam kesibukan yang mereka namakan "perjuangan meraih mimpi" ini. Aku pun mencari pembenaran dengan menjadikan masa kerjaku yang baru seumur jagung sebagai alibi. Sebenarnya dibilang alibi juga tidak, Karena memang, jauh dilubuk hatiku, aku merasa kurang sreg kalau harus mengurus BPPS sekarang. Kenapa? yah karena aku merasa belum berbuat banyak untuk kampus ini untuk lantas mengambil hakku mendapat rekomendasi dalam pengusulan BPPS. Sesuatu yang telah menjadi semacam prinsip memang. Lagi pula dalam pengurusan itu dipersyaratkan untuk telah memiliki NIDN dan pangkat akademik. Aku belum memiliki pangkat akademik. Beberapa temanku yang mengurus pun belum. Tapi mereka nekat coba aja. Siapa tau rejeki, katanya. Yawiss lah aku hanya bisa mendoakan semoga usaha mereka berhasil.

Sehari dua hari setelah mereka mengirim bekas mereka ke KOPERTIS wilayah IX makassar, sebuah telepon mengabarkan kalau berkas mereka ditolak karena belum memenuhi persyaratan. Apalagi kalo bukan si pangkat akademik itu. Dari situlah, pentingnya pangkat akademik mulai mengusik pikiranku. Ternyata ribet juga kalo tidak memiliki pangkat akademik. Maka akupun memutuskan bahawa sudah saatnya aku menyediakan waktu mengususi hal itu. Dengan mempertimbangkan agenda kegiatan untuk beberapa bulan kedepan yang akan sangat sibuk, jelaslah bahwa tak ada waktu yang lebih tepat selain sekarang. Yeah, dalam beberapa hari kedepan, akan ada seleksi penerimaan mahasiswa baru di kampus kami. Dimana aku didaulat sebagai wakil sekertaris. Tentu saja aku akan sangat sibuk. Ditambah saat itu bertepatan dengan waktu ujian mid semester. Aku Harus membuat soal, lalu memerikasanya kalau tidak mau kelabakan pada akhir semester nanti.

Maka mulai tadi malam, aku kembali mengakrabi file skripsi S1 ku dulu, edit disana sini biar lebih ringkas, padat, dan jelas. Maklumlah, waktu masih kuliah dulu ada kecenderungan untuk membumbui ide disana sini biar skripsinya tebalan dikit, hhehhe...:). Sebenarnya hal ini bukan hal yang terlalu sulit seandainya saja keinginan dan aplikasinya bisa kompak satu sama lain. Kendala yang terberat yang harus kuhadapi adalah melawan diri sendiri untuk tidak terjebak dalam dunia FB dan game. Cape deeeeehhh...

Dalam rangka menumbuhkan semangat lai, aku memebaca ulang novel "5 cm"ku entah untuk yang keberapa kalinya. Kali ini aku langsung lompat ke bab lima "Dont Stop Me Now". Part ini menceritakan perjuangan si Ian menyelesaikan skrispinya. Duh jadi teringan kisahku sendiri waktu itu. Wah, novel ini memang keren dan selalu sukses memantik semangatku. Jadilah tanpa ba bi bu, aku membuka file skripsiku dan mulai mengedit tanpa bertoleransi pada godaan game n fb. Alhasil bagian introductionnya bisa selesai ku edit hanya setengah jam. Senangnyaaaa....

Satu hal yang aku pahami, sekali punya keinginan, kita memang harus ngotot. Keras terhadap diri sendiri itu sangat perlu. Wow..it's eight pass eight now. It means I have to take a bath and then go to campus. The sun shine brightly outside. It indicates happyness and spirit. GO girl!!!! let's seize the day...^^




Tuesday, April 05, 2011

Bosan.

Bosan bisa membunuh. Begitulah kira-kira kalimat yang tepat untuk menggambarkan moodku 2 hari terahkir ini. Bosan. Pekerjaan tiada yang terselesaikan. satu demi satu tertunda dan meumpuk. Hatiku dliputi gelisah, marah, dan gundah. Bahkan untuk hal-hal yang sepelepun, emosiku bisa seketika meledak. Mereka mengira ini salah satu gejala PMS. Bukan. Sama sekali bukan. Satu-satu aku membuat list pekerjaan apa yang harus segera diselesaikan sambil mendengus. Kesal sekali rasanya mengetahui bahwa dirimu tak bisa berbuat apa-apa dikarenakan sempurna terbunkus rasa malas dan tak bisa keluar. Sesak dengan kebencian akan ini itu yang sebenarnya sangat tak masuk akal.

Aku lalu beralibi pada kurangnya libur yang kudapatkan. Keterlaluan jenuh akan rutinitas yag itu-itu saja menyita kesempatanku untuk berpetualang mencumbu alam lagi. Percuma saja. Akal sehatku terlalu sadar bahwa itu bukan alasannya. Toh untuk saat ini tak ada teman yang bisa diciduk menikmati air terjun seperti waktu itu. Semuanya sibuk. Huh, dan hatiku mencibir mengingat kata "profesionalisme" yang dulu sering kuumbar. Malu pada harapan dan doa yang senantiasa kupilin menuju langit. Apalah arti doa dan harap itu jika aku tak cukup tanggu menghalau malas dan berpasrah pada mood?

Tergugu aku bangkit dari ini semua. Gemetar menyibak selimut kegundahan ini. Perkara ini sungguh tak mudah bagiku. Bahkan ketika mengetikkan kalimat ini pun, terbersit lagi untuk menunda salah satu kewajibanku. Huffftttt... padahal apa gunanya menunda?? Oh, betapa aku mengutuk kehidupanku 2 hari terakhir ini. Sungguh.

Baiklah, ku putuskan ini harus diakhiri...

Saturday, March 19, 2011

Padamu,,,

Waiting for the endnya Linkin Park menghentak-hentak keempat dinding kamarku, juga dinding2 hatiku. Beberapa hari ini, hatiku sangat seirama dengan lirik dan beat dari lagu ini. Mood pagi ini bercamur aduk jadi satu. Mulai dari rasa kecewa akibat gagal menyaksikan Supermoon, sampai pada rindu yang tiba-tiba menyeruak dan mengkristal tanpa pernah kusadari alur dan prosesnya seperti apa. Padamu. Pada sosok dirimu yang selalu sukses membuatku bermimpi sekaligus juga terjengkang pada saat yang hampir bersamaan. Padamu yang memiliki segala yang kuimpikan dalam hidup ini.

Pagiku menjadi tak karuan. Demi mengusir sesak, aku memutuskan berselancar memenuhi kepalaku dengan mitos tentangmu. Dan aku terdiam menatapmu pada tab itu. Ada dirimu disana. Menyebarkan magic yang tak pernah patuh akan aturan jarak dan waktu. Mengembara imaginasiku kedalam duniamu. Dunia yang kumasuki sedikit-sedikit. Dunia yang selalu memberiku harapan dan juga gelisah ketika kembali dari sana.

Aku selalu ingin sepertimu. Aku selalu tak ingin pergi dari duniamu. Berlama-lama disana sampai aku lupa dengan dunia tempatku seharusnya ada dan berpijak, berlari dan kemudian terbang. Oh, bisakah aku???

Thursday, March 17, 2011

Bisa fax, kan?

Rasanya diunderestimate sama seseorang memang tidak pernah enak, ya? Apapun bentuknya dan dari siapapun itu rasanya selalu sama. Tidak Enak. DIa bertanya padaku beberapa jam yang lalu?
"bisa fax, kan?"
Tiga kata itu diucapkannya dengan lembut. Tapi tajamnya mengiris hati dan mempermalukan ego. Kata-kata dalam hati pun berlomba mengelompokkan diri membentuk makian dan segala protes. Terhadap dia yang telah menohok harga diri. Kok bisa ya ada orang yang dengan entengnnya menganggap semua orang lebih rendah dari pada dirinya? Seakan orang lain ga berhak tahu apa yang telah diketahuinya. Parahnya lagi, seringkali mengingkari apa yang orang lain tahu sedangkan ia sendiri tidak tahu.

Bukankah dunia itu sangat luas??????
Bukankah masih ada langit setelah langit?????

Dan, sembari menggerutu, menyalahkan diri sendiri karena memikirkan hal yang tak penting ini, kuputuskan untuk mengambil hikmah dan pelajaran saja. Rupanya menganggap orang lain selalu lebih rendah dari kita itu gag baik. Membuat orang lain terluka. Kita tidak pernah tahu seberapa dalam dan parah efeknya bagi mereka...

* selama 2 tahun ditempat kerja yang lama, salah satu tugasku adalah mengirim fax....hahaahhahahaha

Wednesday, February 23, 2011

Pagi ini, Aku, dan Kau

Tehku sudah tak lagi hangat ketika ku sesap. Mungkin ibu yang membuatkannya terlalu pagi, ataukah aku yang terbangun terlalu siang. Kulirik lengan jam yang menunjuk pada angka 8. Ah, aku yang tebangun agak siang rupanya. Ritual seusai bangun pagi kujalani seperti biasa. Cuci muka dan kumur-kumur seadanya, lalu kemudian memutar musik dan  mulai melipat selimut. Setelai semuanya usai, tak afdal rasanya memulai hari tanpa berkunjung kedunia maya. Dari mengecek email, buka facebook, dan memperbarui berita di kompasiana. Rupanya kekalahan tim Garuda U 23 semalam mendominasi isi berita. Semua berjalan biasa saja sampai handphoneku berbunyi.

Hmm.. tak kuasa ku tersenyum pagi ini, menerima harapan yang kau paketkan dengan sangat manis melalui untaian kata pelecut semangat. Satu hal yang selalu kusukai darimu. Kau orang yang sangat irit mengumbar basa basi dan perhatian semu yang bisa membuat orang melambung setinggi angan. Tetapi kau selalu au timing yang tepat untuk dapat membuatku merasa punya arti. Merasa istimewa. Kau membuatku menyelami perasaan yang teramat langka untuk bisa kunikmati. Aku menyukaimu akan ini.


 Sisa teh yang tak lagi hangat ini terasa berlipat kali lebih nikmat untuk ku kecap. Musikku berganda-ganda menjadi lebih powerful untuk melambungkan semangat. Hingga tak ada lagi alasan untuk berlama-lama berkhawatir ria atas apa yang akan terjadi hari ini. Bisa kukatakan misim sukses berat pagi ini...^^




Tuesday, February 22, 2011

Cara Kita Saling Berbahasa...



Bahasa memeiliki banyak sekali bentuk untuk dapat dipahami manusia. Ada yang secara nyata terulis dan terucap, ada juga yang secara abstrak tersirat. Aku tak ingin membahas jenis2 bahasa secara luas. Aku hanya ingin mendalami bahasa kita. Yup. Kita. Dua orang yang terdiri dari Kau dan Aku. Lucu rasanya menelaah cara kita berbahasa. Begitu unik dan tersirat. Membias dalam ambigu yang mengagumkan. Kau dan Aku tahu betapa ambigunya bahasa kita. Tetapi kita menyadari, makna yang kita sampaikan akan saling kita mengerti dengan cara-cara yang kita tidak tahu pasti. Kita hanya bisa percaya dan merasakan, hati kita memahami dengan sangat nyata.


Kemarin, aku mengirimimu pesan-pesanku. Aku tidak memberitahumu secara gamblang, tapi aku percaya entah dengan bagaimanapun caranya, kau pasti paham. Kau mengirim pesan balasan padaku dengan cara yang sama. Tadinya aku tidak berharap mendapat balasanmu dalam waktu yang singkat. Tapi kau melakukannya. Hatiku mengatakan bahwa ini adalah tanda bahwa kita memang sangat saling memahami. 

Sayangnya, telah ada janji yang kuikrarkan pada suatu hati, yaitu hatiku. Untuk mebiarkan saja semuanya mengalir seperti air. Membiarkannya terbang bebas dan pasrah saja pada tempat yang nanti dipilih oleh kisah kita untuk hinggap dan berakhir. Sehingga betapapun goadaan untuk mempersempit jarak denganmu, aku tetap teguh memegang janji. Ada hal-hal yang memang lebih baik dilakukan tanpa usaha. Akan lebih indah jika ia yang pada akhirnya menemukan jalannya sendiri....

Monday, February 21, 2011

I just dont know how to name it...

 akhirnya pada ruang ini selalu ku kembali.
sekian lama berlari dan berpaling
mengingkari segala kebutuhan jiwa...

Days, All I  can do is just watching that page. Page which tells me the secret of you. Secret of them. Secret of us. It tells me about your laugh. It tells me about their joy. About your worries, their fears, and many things. And here I am, watching you and them with a great longing inside my heart. 

We used to be close. We used to share everything. I was there when you're crying. I was the one you chose to share your laugh with. I was a part of you, wasn't I?

You know? It's not just easy to ignore you. To leave you. But I had to. It seemed to be the right things that I should do. For the better you and me. I just didn't find any idea how to do it without hurting you and me my self. Memories of our laugh and crying, silly things we did, lead me to the deep regret. 

Days, I pretended that's the way it goes
I persuaded my self so hard that I did the right things
I pretended not seeing your tears
I pretended that I didn't cry too
I persuaded myself that it would be all right definitely.

I don't know why I should try to just go away from you
coz, deep in my heart..I know
I cant stop loving you...
Friend is always be friend in many shapes.
as you and me...


Tuesday, February 01, 2011

Huffttt..
bisa juga bernafas lega sekarang ini.
Tugas telah selesai dikerjakan.
Beban terasa terangkat dari pundak.
Senangnya...

Tapi...
Next what??
apa lagi yang mau dikerjakan?
Bete juga kan kalau tidak ada pekerjaan.
Kata orang kerja capek, sih
tapi lebih capek lagi kalo gada yg dikerjakan...

(curhat g jelas...*UMK_siang saat istirahat, kantor sepiiiiiiiiiiiiiiii...)

Tuesday, January 25, 2011

Bad Mood

Hari ini tidak terlalu bagus untukku. Entah kemana moodku terbang melanglang buana. Adakah dia tersesat pada satu titik diantah berantah? Jiwaku kerontang. Inspirasi juga ikut-ikutan ngumpet. Bertarung dengan layar kosong di word.  Adalah aku membujuk winamp memanggil moodku kembali. The cure_friday I'm in love, smashing pimpkins_1979, we are golden & love to daynya mika untuk pertamakalinya gagal menjalankan misi. What's wrong with me today????




*Umk_siang menjelang sore, Dalam ruangan sendiri saja_karena yang lain dah pada pulang._merengek kelangit kelabu yang menjanjikan hujan, meminta menjemput moodku kembali.

Monday, January 03, 2011


Waktu menjadi semakin terasa pajang saja.
Detik bak merangkak, tidak lagi berjalan apalagi berdesing bagai peluru.
Rutinitas ini membuatku bosan.
Tak nyaman dikungkung keempat tembok ini
Hanya berteman laptop, tanpa koneksi internet, tanpa ditemani winamp.
Games mulai terasa usang
Pesing memekat diudara.
Dari luar jendela, orang-orang itu bergegas tanpa menoleh. Tanpa Senyum.
Kaku dan sibuk.

Kendari, UMK 22 Desember 2010

Wednesday, December 08, 2010

2 Buku itu Memeras Air Mataku..

Haruku membuncah usai kedua buku karya Tere Liye itu usai ku baca. Bulan tenggelam diwajahmu dan juga Hafalan Shalat Delisa. Hmm.. sesak hatiku oleh bermacam-macam rasa. Yang paling besar kadarnya adalah rasa malu. Malu karena selama ini teramat sangat sok tahu menjudge Allah kadang tak adil. Ingin kuulas dua buku itu. Nanti. Tidak Sekarang. Karena saat ini aku hanya mau menikmati sensasi rasa ini dengan segala penerimaan.

Monday, December 06, 2010

Ku Takkan Berhenti Mengetuk pintuMu...

Satu pintu tertutup, seribu pintu terbuka. Kalimat luar biasa inilah yang menjadi pelampungku saat ini. Setelah kemarin terdepak dari seleksi berkas ADS, aku kini mengapung-ngapung dalam samudra mimpi-mimpi yang tertunda. Hampir saja tenggelam. Tetapi kalimat yang dilontarkan mace, pace, dan rekan2 yang kompak menyuarakan "Satu pintu tertutup, seribu pintu terbuka" itu menyelamatkanku. Meski masih belum tahu arah tujuan, setidaknya aku masih punya kesempatan untuk melihat peluang-peluang yang ada. Setidaknya aku masih dapat berfikir untuk kedepannya tanpa harus megap-megap tergulung ombak.

Begitulah, tidak semua apa yang kita ingini dapat kita dapatkan dengan mudahnya. Sebagian orang terlahir dengan anugrah tak terkira dari langit. Ibarat memiliki tuah dalam dirinya. Segala yang dikerjakannya dimudahkan olehNya. Mereka menjalankan hidupnya di jalan tol. Wussssss... mereka dapat melaju sekencang-kencangnya. Bebas hambatan. Sehingga kelihatannya mereka tak perlu usaha yang terlalu keras untuk menuju sukses. Setidaknya mereka tak perlu merangkak, tertaih mendulang sukses. Sebagian lagi terlahir dengan keadaan sebaliknya. Harus merangkak dulu, harus jatuh berkali-kali dulu baru bisa sukses. Tak jarang derai air mata menghiasi perjalanan hidupnya.

Aku tidak tahu berada dalam golongan yang mana. Mungkin saja diantara keduanya. Yah, karena terkadang keinginanku dijawab dengan sangat cepat, kadang harus menunggu lumayan lama. Entahlah ada digolongan mana aku ini. Jika mengingat surat dari ADS itu, mungkin saat ini aku termasuk dalam golongan kedua. Kali ini roda kehidupan tidak membawaku ke jalan tol itu. Apa mau dikata, itulah yang diinginiNya untuk saat ini. Aku tak paham maksud dan tujuanNya. Aku hanya harus percaya, percaya bahwa dia menyayangiku dan tahu segala yang terbaik untukku.

Tetapi rasa percaya itu tak mudah ditumbuhkan begitu saja. Bukakah kebanyakan manusia selalu saja merasa hidup ini kadang tak adil? Selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan tentang keadilanNya. Tentang kemahatahuanNya. Kebanyakan manusia, seperti juga aku, gagal berprasangka baik padaNya. Karena kita terlalu dangkal dalam menilai. Selalu menilai dari apa yang tampak diluar. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, bukan?? Untunglah aku tak terlalu lama dalam kabut ini. Dalam sedikit kekecewaan ini, Dia masih memberiku teman-teman pengibar semangat yang handal. Ada Ibu Ida yang selalu memberi support, ada K Rahma, yang selalu menyemangati sembari menunjukkan ku pintu-pintu lain untuk diketuk. Ada saudara-saudaraku, yang candaanya mujarab mengusir gulana. 

Apa salahnya mencoba lagi??? Entah pada percobaan keberapakalinyakah kau akan menjawabku, Langit? Aku tak perduli, hanya kan berusaha. Dan aku tahu, aku tak sendiri...

Saturday, December 04, 2010

Yang datang Amplop Kecil

Penantian selama kurang lebih 3 bulan berakhir sudah. Barusan tetanggaku mampir nitip surat dari pak pos yang nyasar ke rumahnya. Ayahku yang menerima. Sayup-sayup aku mendengar ada kata "surat" yang disebut-sebut. Tak lama kemudian, namaku dipanggil oleh ayah. Belum melihat surat itu, dalam hatiku telah tahu. Itu pasti dari ADS. Dan memang, itu dari ADS. Mataku terpaku menatap amplop itu. Kecil, tidak besar. Warnanya putih, bukan cokelat. Tipis, tidak tebal.

Kulihat wajah-wajah tanya disekelilingku. Wajah ayah, ibu, adik. Oh, tak perlu kuutarakan lewat kata-kata, lihatlah saja gurat diwajahku. Kalian akan tahu apa makna amplop kecil nan tipis yang berwarna putih ini. Kupandang sekilas langit yang berbingkai jendela, sebelum amplop itu kubawa ke kamar....

Wednesday, December 01, 2010

Tahukah bahwa binar di mata kalian itu mengusir lelahku?

Aku baru saja pulang ngajar privat buat dua ponakanku, Ivhal dan Uchy. Tadinya sebelum kerumahnya, rasa lelah sempat melanda. Ditambah lagi pikiran yang masih menanti dengan harap cemas pengumuman seleksi berkasnya ADS, membuatku nyaris mengirim sms buat k Umi, mamanya Ivhal untuk membatalkan privat malam ini. Tapi hal itu urung ku lakukan. Sekarang ini lagi musim semesteran. Sebagai orang yang seringkali mengaku profesional, aku mengusir lelah yang enggan pergi itu.

Ketika aku tiba, diteras, tempat kami biasa mengajar dan belajar, telah terhampar karpet, papan tulis mini, meja belajar lipat, dan setoples kue. Ketika kuucap salam, dari dalam ruma, terdengar langkah kaki mereka berlarian menyambutku. Dibelakangnya K umi tersenyum ramah padaku. Dan tahukah kalian, ponakanku sayang? Binar matamu mengeyahkan lelahku seketika itu juga. Menguap entah kemana.

Aku mulai dengan menanyakan pelajaran mereka hari ini dan mereka menjawab dengan begitu antusianya. Mereka bercerita bahwa merekalah yang teraktif dikelas. Mereka bercerita bahwa betapa senangnya tiap kali gurunya bertanya merekalah yang pertama kali unjuk jari. Serasa jadi Hermione, begitu kata mereka. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. Hmm ponakanku sayang, aku begitu senang mendengar suara kalian sahut menyahut berlomba memamerkan kebanggaan, aku senang karena kalian menganggap akulah yang berperan dibalik semua itu. rasa bangga itu begitu melenakanku, sayang. Menerbangkan ku ke langit. Betapa aku ingin terus mendengarnya. tetapi kalian tak sepenuhnya benar. Bukan aku yang ada dibali itu. Kalianlah yang mewujudkan itu semua. Semangat yang hidup dalam diri kalianlah yang membuat kalian berbeda dari teman-temanmu, sayang...dan tahukah kalian? Kalian telah mengajariku sesuatu.

Belajar bersama kalian selalu saja membuatku lupa waktu. Kalian membuatku lupa kalau kalian itu masih anak kelas 4 dan kelas 3 SD. Kecepatan kalian dalam mengankap apa yang ku ajarkan melampau ekspektasiku. Sehingga aku selalu tergoda mengajarkan materi untuk level diatas kalian. Hmmm.. mengajari kalian itu mengasyikkan...
Yeah, pintu  Desember akhirnya terkuak juga. Banyak sekali harapan yang kugantung dibulan ini. Oh, adakah bulan penutup tahun ini akan  memberiku senyum manis pada akhirnya? Ah, jantungku dag dig der dibuatnya.

Setelah mengirim berkas ke ADS Agustus lalu, sebenarnya saya sempat tidak terlalu berharap. Biasa saja. tetapi waktu pengumuman yang semakin dekat ini entah mengapa memompa balon keinginan dan hasrat dalam hatiku untuk mengecap bangku S2, sampai hampir meledak, apalagi kalau bisa tembus ke Aussie sana. Kalau itu terjadi, betapa itu akan menjadi miracle dalam hidupku.

Malam ini rencanaya mau browsing beberapa informasi tentang univ di Aussie, karena kata ibu ida, rekan di UMK yang alumni ADS, sebaiknya mulai sekarang informasi tentang universitas tujuan sudah dikumpulkan kaena akan ditanyakan pada saat wawancara nanti. Tetapi, kayaknya malam ini, saya harus bersabar menunggu hingga jam 9 malam, karena sebelumnya harus privat ponakan dulu.

Kadang saya merasa kelelahan juga sih, pagi ngajar di Oikumene, siangnya berkantor di UMK sampai sore, trus malamnya lanjut lagi  ngajar privat. Tetapi tidak ada alasan untuk tak mengucap syukur. Banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya dapatkan, plus bonus fulus tentunya. Jalani saja dengan ikhlas, mudah-mudahan flus hasil kerja ini biasa dipake buat tambah-tambah ongos interview, amiiiiiinnn...

So, Desember...
Would you like to draw my smile, please?
Because all my hope and dream have filled my chamber...

Desember, akankah kau menyelipkan bahaiaku dalam salah satu harimu?

Ah, Akhirnya pintumu terbuka juga, wahai Desember
Harap-harap cemas, ku rapalkan doaku sepanjang waktu
Terselip dalam Tahajjudku, Dhuhaku, dan Zikirku
Begitu rapi ku terbagkan kelangit, oh semoga saja tak berserak, tak tercecer

Oh, Desember...
Akankah ada dalam satu harimu kau saksikan air mata syukurku menetes?
Akankah ada senyum bahagia kuumbar?
Pada saat amplop cokelat itu ku terima dari pak pos?

Tuesday, November 23, 2010

Setidaknya Para Orang Tua Bisa Lebih Tenang Mendengar Keluh Kesah Buah Hatinya...

Suasana di kantor agak muram kemarin. Salah seorang rekan guru baru saja mengabari dengan isakan tertahan kalau dia ijin tidak mengajar selama beberapa minggu karena anaknya akan dioperasi. Kata dokter tulang belakangnya retak. Harus dioperasi. Rumah sakit umum di kotaku yang kecil ini tak sanggup menanganinya. Ia pun dirujuk ke rumahsakit di Jakrta. Tentu saja kami semua yang ada didalam ruangan ini terkejut dan prihatin. Anaknya yang akan dioperasi itu namanya Rachel. Sepanjang ingatan kami, Rachel itu sehat-sehat saja. Malah, minggu lalu pernah main ke sekolah waktu menjemput ibunya. Senyum yang tersungging diwajahnya begitu ceria. Sama sekali tak ada indikasi bahwa dia ternyata menderita sakit.

Rachel dibawa kerumah sakit ketika suatu pagi dia pinsan selama beberapa menit dirumah. Tetapi setelah siuman dan merasa agak baikan, dia bersikeras ke sekolah. Ternyata sampai disekolah, dia pinsan lagi. Berkali-kali dalam seharian itu. Gurunya pun menghubungi orang tuanya. Malam harinya Rachel dibawa ke dokter praktek. Dari dokter praktek itu, Rachel dianjurkan kerumah sakit untuk rontgen. Hasil rotngen sangat mengejutkan orang tua Rachel. Tenyata tulang belakang anak itu retak. Ibunya tidak habis pikir mengapa hal itu bisa terjadi. Menurutnya Rachel selama ini baik-baik saja. Setelah ditelusuri, Rachel pun mengaku bahwa ia pernah jatuh pada saat mengendarai motor beberapa minggu lalu. Dia tidak memberitahu ibunya karena ia tahu ibunya pasti akan panik sekali. Apalagi tidak ada darah yang keluar (pikiran remajanya menganggap bahwa tidak ada darah berari tidak apa-apa). Dan benar saja, pada saat diberitahu begitu, ibunya langsung panik. Rachel mengaku pada ibunya bahwa terkadang dia agak sebal pada sikap panik ibunya terhadap apapun. Jadi dia memilih diam. Sayangnya sikapnya itu berakibat fatal bagi dirinya. Karena menurut dokter, sebenarnya semuanya tidak akan separah ini jika ditangani lebih awal.

Mendengar alasan Rachel, saya jadi teringat pada beberapa kisah serupa. Pertama adalah kisah saya sendiri. Saya sangat mengerti sikap Rachel yang memilih diam ketimbang memberi tahu ibunya bahwa dia baru saja jatuh dari motor. Memang sangat tidak mengenakkan ketika kita dalam kondisi sakit dan juga tentu saja takut, malah diperhadapkan dengan sikap orang tua yang agak tidak tenang. Malah lebih panik ketimbang kita. Dan kepanikannya itu tertuang dalam ocehan-ocehan histeris bahkan air mata. Siapa sih yang nyaman dengan situasi itu??

Dulu, waktu masih kecil saya sangat senang manjat pohon bersama teman-teman. Main tarzan-tarzanan, monyet-monyetan, dan sebagainya. Rasanya menyenangkan sekali bergelayut di atas peopohonan itu. tapi tiba-tiba saya terjatuh. Tingginya sekitar 4 atau 5 meter. Saya pun pulang sembari menangis meraung-raung waktu itu. Saya mengaduh pada ibu saya. Yang terjadi ibu saya sagat cemas dan panik. Beliau pun memandikan saya dengan air panas kemudian mengurut saya, sembari tak henti-hentinya mengomel dan mewanti-wanti. Saya, yang pada waktu itu masih kecil, belum bisa mengapresiasi bentuk kasihsayang ibu padaku. Yang ada dalam pikiran anak kecil saya adalah ibu marah dan sebal kepadaku. Beliau kemudian melarang saya untuk manjat pohon lagi. Beliau mengancam kalau nanti kedapatan manjat pohon saya bakal diikat dipohon jambu dekat rumah semalaman.

Mestinya saya mendengar laragan ibu. Tetapi namanya juga anak kecil, mana bisa dilarang-larang. Apalagi waktu itu ibu tidak menjelaskan akibat-akibatnya kalau jatuh apa. (Mungkin walaopun dijelaskan saya juga tetap ngeyel, hehehe). Maka saya tetap memanjat pohon sembunyi-sembunyi. Sampai suatu hari saya terjatuh lagi kali ini pada dahan pohon yang lebih tinggi. Saya terjatuh dengan keadaan tengkurap. Dada saya menghantam tanah dengan keras. Sakitnya luar biasa. Bahkan saya sempat tidak bisa bicara. Nyaris tidak dapat bernafas. Saya menagis dalam diam. Teman-teman saya pada panik. Mereka menggotong saya kerumah teman yang terdekat. Setelah beberapa menit saya sudah bisa bicara. Saya meminta pada teman-teman agar merahasiakan hal ini pada siapapun. Terutama ibu saya. Mereka pun berjanji tidak akan bilang-bilang.

Saya merasa sakit selama seminggu, tetapi tidak saya perlihatkan pada orang rumah. Lepas seminggu saya merasa semuanya kembali normal. Orang tua saya pun tak pernah tahu sampai ketika memasuki usia sekitar 17 tahunan, saya sering batuk, sesak nafas, dan kalau capek, dada saya sakit sekali. Ibu saya sangat khawatir,saya pun dibawa ke dokter. Dokter bertanya apakah saya pernah jatuh, saya pun mengiyakan dan menceritakan kronolgisnya pada dokter dan orang tua saya. Dokter bilang bahwa itulah awal masalahnya. Seandainya waktu itu saya langsung diurut tentu tidak akan seperti ini. Saya menyesal sekali. Kebungkamanku dahulu membawa dampak yang buruk bagi diri saya.

Kisah serupa juga terjadi pada tetangga saya. Sewaktu kecil dia pernah jatuh. Tetapi dengan alasan yang sama dengan saya dan juga Rachel, dia memilih diam. Semuanya memang terlihat normal selama beberapa tahun. Tapi siapa sangka bahwa efeknya justru akan terasa setelah dewasa. Sekarang tetanggaku itu agak bungkuk. Ada tulang belakangnya yang bengkok. ketika saya menyentuhnya saya merasa takut. Dia tumbuh makin kecil dari hari ke hari. Sangat kurus dan sering sesak nafas.

Sungguh sebenarnya kisah serupa sangat banyak ditemui dimasyarakat. Dan ketika ditanya pada si aanak pun mereka kompak memiliki jawaban yang sama. Takut mengadu karena tahu bahwa orang tuanya sangat panikan. Bahkan banyak juga orang tua yang menagani sembari mengomel tak henti-henti. Anak-anak, yang pikirannya belum paham benar tentu saja merasa takut. Jadi ketimbang mengadu, mereka malah memilih diam.


Apa yang bisa dipelajari dari kisah-kisah ini adalah bahwa sebelum menikah, sebaiknya ada pelatihan tentang masalah-masalah rumah tangga, termasuk masalah anak. Bagaimana sebaiknya sikap mereka jika menghadapi masalah yang beruhubungan dengan anak (contohnya ya untuk kasus seprti diatas) agar mereka tidak lantas panik berlebihan yang hanya akan membuat anak merasa tidak nyaman atau takut mengadukan sakitnya. Sudah begitu banyak anak yang mendapatkan akibat fatal dikemudian hari karena tidak mendapat penanganan yang cepat dan tepat dikarenakan anak terlalu takut untuk mengadu pada orang tuanya. Tentu saja akan lain cerita jika anak dihadapkan pada kondisi dimana pada saat mengadu, orang tua bisa lebih tenang dan bijak. Karena bagi anak-anak, sikap tenang orang tua dapat diartikan bahwa semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Sehingga mereka pun bebas berkeluh kesah tanpa beban sedikitpun. Orang tua juga bisa mendapat informasi yang lebih terang tentang anaknya, sehingga tahu bagaimana harus bertindak.



Saya sangat berharap bahwa kedepannya para orang tua bisa banyak belajar dan lebih tenang dalam menghadapi pengaduan anak-anaknya sehingga kisah-kisah diatas tidak perlu terjadi lagi.