Friday, May 15, 2026

Anger

There are days when silence feels less like wisdom and more like self erasure.

Not because I have nothing to say,
but because speaking honestly within a broken system often comes at an unbearable cost.

I have watched people speak endlessly about intellect, ethics, critical thinking, and transformation, while embodying the very emptiness they claim to resist. The performance of intelligence has become more valuable than sincerity itself. Theory is celebrated. Reflection is applauded. Yet in practice, arrogance survives where humility should have been.

And perhaps that is what exhausts me most.

Not disagreement.
Not imperfection.
But the quiet normalisation of contradiction.

There is a particular kind of loneliness that comes from seeing too much for too long. From witnessing institutions praise integrity while punishing honesty. From realising that some people do not seek understanding at all. They seek comfort, status, applause, control.

Meanwhile, those who still question things deeply are often told they are “too emotional,” “too difficult,” or “too intense.”

So yes, there is anger in me.

Not the kind that wishes destruction upon others,
but the kind born from prolonged disappointment.
From watching intelligence lose its soul.
From watching thought become performance.
From watching people confuse authority with wisdom.

I am trying, still, to learn how to live without allowing bitterness to consume me.

Because rage, when left unattended, eventually turns inward.
And I refuse to let a broken environment transform me into someone I no longer recognise.

Perhaps this is not a manifesto.
Perhaps it is only a quiet confession:

that surviving systems which continuously betray their own ideals requires more emotional endurance than most people will ever admit.

And sometimes, the hardest part is not speaking.

It is remaining human while surrounded by so much pretence.


*After online class, today.


RS

Sunday, February 01, 2026

Seperti biasa, hari memenuhi janjinya dengan hadir tanpa berisik. Lantunan salawat dari masjid kecil dekat rumah mengetok ruang lelapku. Tentu saja, aku tak langsung bangun. Ada ritual bolak balik kiri kanan sampai nyawaku benar-benar kembali ke tubuh ini. Spontan, tanganku bergerak mencari hape. 4.50.

Akhirnya, dengan mata yang masih ngantuk, kuseret kakiku untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba. Semoga kewajiban yang kulakukan dengan keadaan masih sangat mengantuk ini diterima oleh-Nya yang Maha Pengertian. Amin.

Per Jumat kemarin, seiring berakhirnya final kelas Basic Speaking yang aku ampu, liburku pun resmi dimulai. Tapi yaaah namnya jugadDosen. Definisi libur seringkali tak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh kamus. Libur bagi dosen adalah serangkaian hal-hal yang perlu dikerjakan. Input nilai mahasiswa, laporan penelitian ini dan laporang pengabdian itu. Belum lagi undangan meeting dadakan yang ada tulisannya kalau itu WAJIB. Yah, hal-jal semacam itulah. 


Aku pun membuka SIMAK dan mulai menginput nilai mahasiswa. Angka demi angka masuk. Pekerjaan itu memang harus selesai. Semoga bsia rampung paling lama lusa. Amin lagi. 

Tapi, pagi ini pikiranku agak mudah melayang. Semalam aku ditelepon seorang teman dari Bristol. Kami mengobrol cukup lama. Membicarakan hal-hal yang dulu kami jalani begitu saja. Jadwal, rutinitas, kelelahan, dan rencana yang waktu itu terasa dekat. Selama sejam lebih, obrolan itu membawa aku bernostalgia pada waktu-waktu yang ingin kusimpan rapi dalam ingatanku. Pada aku yang masih lumayan ambi, bersemangat, dan rasanya bsia terbang setinggi langit, hehhehe.

Well, obrolan lewat telepon itu sudah berakhir sejak semalam. Tapi pagi ini, beberapa potongan obrolan itu masih caper pengen terus dingat-ingat, menolak untuk disimpan di box "obrolan menyenangkan". Agak-agak bangke emang. Ya, jujur kadang aku kangen sama diriku yang dulu itu. Tapi, setelah dibabak belur kehidupan, aku rasa ada yang berubah sedikit dari cara aku memaknai hidup, melihat yang mana harus aku taroh sebagai prioritas, yang mana yang bsia ditunda untuk nanti. So, Ririn versi ambi, sabar dulu ya... nanti. satu-satu. OK

Yowess ah, itu aja. aku mau lanjur kerja lagi.


RS



Thursday, January 15, 2026

Pagi, Laptop, dan Hal Hal yang Perlu Dibereskan

Perkiraanku tidak salah.
Pagi hari di hari libur, tempat ini cukup kondusif untuk duduk dan mulai membuka laptop.

Hari ini aku ingin mengejar semua tugas yang keteteran selama ini. Keteteran yang, kalau jujur, bukan karena tidak sengaja. Ada banyak waktu ketika aku sebenarnya bisa menyelesaikannya dalam satu sesi duduk di depan laptop. Namun, aku justru memilih membuka Netflix, lalu marathon menonton film film yang bahkan bukan genre favoritku.

Sampai akhirnya deadline datang.
Dan tugas tugas yang sempat aku anggap receh itu ternyata sudah membukit, pelan pelan menuntut untuk dibereskan satu per satu.

Aku duduk di sana, memesan minum, dan mengambil jeda sebentar sebelum mulai.

Sambil menunggu mbak mbak berseragam abu abu itu datang mengantarkan pesananku, aku berhenti dan berefleksi. Hal yang hampir selalu terjadi setiap ada jeda seperti ini.

Apakah aku sedang mengulang pola yang sama?
Menunda nunda?
Atau sedang kembali menyiapkan kegagalan dengan cara yang tidak terlalu kusadari?

Atau mungkin ini hanya cara tubuh dan pikiranku merespons tekanan waktu. Cara yang sudah terlalu akrab.

Jika memang begitu, pertanyaannya bukan lagi soal malas atau tidak, melainkan bagaimana aku bisa pelan pelan keluar dari pola itu.

Aku tidak ingin larut di sana lagi.

Ini tidak seperti masa Bristol dulu.
Konteksnya berbeda. Bebannya pun tidak sama.

Aku mencoba memberi ruang pada diri sendiri untuk percaya bahwa situasi ini bisa dijalani. Tidak dengan tergesa, tidak dengan panik.

Kalimat itu aku ulang pelan pelan, seperti menenangkan diri sendiri, sebelum benar benar mulai.
Tenang. Jangan aktifkan mode itu. Kita tidak sedang dalam bahaya.

Oke.
Refleksi pagi cukup sampai di sini.
Sekarang waktunya duduk, membuka laptop, dan mengerjakan apa yang memang perlu dikerjakan.


RS

Wednesday, January 14, 2026

Hallo 41 Me,


Hallo juga untuk keriput kecil di ujung mata.

Hallo smiling line aku yang sekarang kelihatan lebih niat.

Hallo kulit yang mulai agak kendor.

Dan hallo juga untuk tolak angin dan alat pijat yang akhir-akhir ini jadi teman setia.

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.

Nggak selalu kuat, nggak selalu rapi, tapi tetap jalan.

Semoga sisa umur selanjutnya semakin berkah ya.

Lebih tenang.

Lebih waras.

Lebih jujur sama diri sendiri.

Nggak perlu keras-keras lagi.

you are more than enough. 

Happy 41. 


RS

Wednesday, January 07, 2026



Brteahe, 

As long as your logic remains,

you are not lost.


RS

Wednesday, December 31, 2025

A Couple of Minutes After 2026

Fireworks had been echoing in the air since earlier tonight, growing louder right after the five-second countdown broke the silence.

I did not go anywhere this year, just like the years before. I stayed in my room, taking the night to quietly look back on the journey I went through in 2025.

There were many good things along the way, and this time I want to count them with a deeper sense of gratitude. This year offered me a gentle space to heal and to slowly find myself again. There was no rushing and no pressure to meet expectations. Everything moved as it needed to, and I allowed myself to move with it.

This year also opened doors of trust. Alhamdulillah, I was entrusted with a BIMA PKM grant and support for international publication. I also found my way back to a few friendships that had once grown distant, mostly because I had been too afraid to share my own stories. What sustained me throughout the year was love. I was surrounded by family and by friends who reminded me that I was not alone.

I am deeply grateful, and I want to thank myself for having the courage to stay with all my emotions. Sadness, joy, anxiety, fear, bravery, anger, and desire all came and went, and I chose to listen to them. I have learned that imperfection carries its own quiet beauty. Living through these different phases is what makes me feel whole.

So once again, thank you, 2025, for the journey and the lessons.

Well, 2026, bring it on.


RS

Monday, November 10, 2025


 Our emotions are ours to tend.
None eligible to carry what isn’t theirs to hold. 

RS


I’ve learned how to stay without holding on.

Maybe that’s what peace feels like.


RS


 





I don’t reach out anymore.

The silence has learned to keep me company.


RS


Saturday, August 23, 2025

Unfinished Work, Unsettled Mind


My head is crowded with too many ideas, while my hands are only two and time keeps slipping away. I can’t quite decide what should come first, should it be work? Life? Or something in between?. And here I am, sitting with my iced chocolate and cireng for company... and across from me, the air shifts with a scent that teases, quiet yet consuming, pulling my imagination into places I never planned to go.

Punala Caffe,
RS

Friday, December 20, 2024