Tuesday, July 04, 2017

Cornwall Trip (part 1)


Well, sebenarnya saat ini, aku sedang berjibaku dengan tugas. Tapi, yaaa,, seperti biasa lah ya, kalau nugas ituu bhuaanyaaaakkk banget distraksinya. Seperti sekarang ini nih, ditengah-tengah nugas malah kebelet pengen ngeblog ajah. Nah, dari pada nugas malah ingat ngeblog mending kan ngeblog sambil ingat tugas (hahahah,, ngawurrr). Kali ini aku ingin menulis tentang kisah perjalanan. Dan diantara semua cerita jalan-jalan yang berakhir di draft itu, aku memilih bercerita tentang trip ke Cornwall. Sebenarnya udah dari kemaren-kemaren gatel banget pengen posting tentang petualangan selama mendarat di Eropa sini (Euro trip dan UK trip juga), tapii... berhubung Your Majesty,  Ririn Syahriani, ini sangaaat moody, maka kebanyakan kisah itu mentok di draft, pas balik lagi pengen ngelajutin rasanya udah gak pas, hehehhe. Makanya, mumpung cerita Cornwall ini masih lumayan hangat dan ditambah masih ada videonya juga di HP, maka langsung cuzzz ajah dipost (sebelum keburu hambar lagi). So, this is it, sodara-sodara!!





"A journey is a person in itself; no two are alike. And all plans, safeguards, policing, and coercion are fruitless. We find that after years of struggle that we do not take a trip; a trip takes us."~John Steinbeck~

Travelling itu, bagiku, merupakan suatu kebutuhan. Ia sudah hampir seperti olahraga dan mandi dan gosok gigi. Bisa saja tidak dilakukan, tapi yah kau tau lah gimana rasanya jika lama tidak dijabanin. Dijamin keehatanmu akan terganggu, hehehhe.. (ini analoginya asli asal banget, :P). Dalam hal ini, aku akan sering uring-uringan, setress tidak jelas dan dilanda kebosanan akut.

Perjalanan, baik yang solo maupun bersama teman-teman, selalu mengajariku banyak hal (bukan hal hal-hal-hal, loh yaa) dan memberi kesempatan bagi diriku untuk lebih mengenal diriku sendiri. Solo travelling kadang jauh lebih menggoda karena kau bisa bebas memutuskan hendak kemana dan berapa lama, semau-mau hati. Tak perlu mengalah dengan kehendak orang lain, dan pastinya lebih punya banyak waktu untuk berfikir dan berkontemplasi. Seperti yang kubilang tadi, perjalanan itu adalah sarana mengakrabi diri sendiri, suatu hal yang mungkin akan kurang maksimal dilakukan jikau bersama orang lain.

Tapi jangan salah, group-travelling juga menawarkan banyak sekali suka-cita. Berbagi tawa, berbagi makanan dan berbagi biaya akom dan tentu saja ganti2an saling memotret (yang jika hasilnya kurang bagus kau akan tega meminta temanmu mengulangnya sampai ribuan kali demi mendapatkan hasil yang paripurna) adalah kenikmatan yang hanya kau dapatkan ketika bareng teman atau sahabat. Dalam prosesnya mungkin akan ada sedikit clash atau bete-betean dengan teman, tapi bukankah itu juga sebuah pelajaran yang bisa dipetik? Bagaimana bertoleransi, bagaimana mengesampingkan ego demi terwujudnya pengalaman nge-trip yang damai dan tentram. Biasanya, diakhir jalan-jalan bareng ini, kalau beruntung, bonding antar teman bisa menjadi leih kuat. Kau mungkin akan menemukan saudara baru, ataaaaauuu -ehm, seperti yang telah banyak terjadi- kau bakal menemukan pasangan sejiwa untuk menghabiskan masa tua bersama, hehehe.. Menurutku, dua tipe travelling ini sama asyiknya dan sama-sama menawarkan buah-buah kearifan untuk dituai dan dinikmati serta tentu saja untuk dikenang dan dibanggakan ketika tua nanti.

Bristol, Beberapa minggu sebelum Ramadhan...

Tersebutlah tiga orang pemuda(i) atas nama Ririn, Rizal dan Oji yang berkeinginan untuk menikmati summer holiday di pantainya Cornwall. Sebenarnya, cuman pengen ke Minack Theater kalau aku mah. Tetapi Oji bilang kenapa gak sekalian eksplor aja se Cornwal-nya. Aak, dipancing gini sih pasti gak nahan dong eykeh, makanya dengan semangat 45 aku dan Rizal bersorak gembira. Tadinya ini sempat cuman jadi topik basa-basi saja, tapi lalu diseriusi oleh Rizal dan Oji, jadilah kami mengatur perjalanan kami. Rencananya kan pake mobil Oji, yang notabene bisa memanpung 5 orang. kami udah bertiga, artinya masih ada dua lagi yang bisa ikut. Daaan yang bikin bahagia adalah dua pria ini menyerahkan urusan "memilih" siapa yang mau diajak ikut kepadaku. Ahahaha,, nikmatnya berkuasa (evil laugh). Orang pertama yang diajak tentu saja si Salim, secara dia udah beberapa kali nanya "kapan dong kita ke pantai?" beberapa nama sempat dicetuskan, malah Rizal sempat bilang bolehlah kita ngundang di grup. Tapiii, aku kok maunya pengen grup kecil aja ya? Maksudku tuh kalo grup kecil, bonding kita bisa lebih deket satu sama lain. The boys manut pada tuan putri dan akhirnya kita kembali ke rencana semula, small-group travelling. Trus terakhir, ternyata si Rifki juga bilang kalo pengen ikut, jadilah fix kita siap berpetualang berlima.

Itu rencananya! Tapiii grup kita bertambah besar ketika Mbak Shally, yang mendengar diskusi kami, juga pengen ikut. Mbak Shally ini sepaket sama duo krucils yang sangat adorable, Marvin and Liam. Karena tak mungkin (dan juga tak mau) menolak, maka rencana kita pulang di rombak ulang. Di UK ini, aturan berkendara sangat ketat. Anak-anak, kalau mau ikutan, harus pake seat car standar, yang artinya, mereka akan menenmpati space layaknya adults. Tak ada cerita anak kecil duduk manis dipanguan orang dewasa seperti halnya di Indo. Artinya lagi, kita butuh mobil satu lagi. Si Oji akhirnya mengajak Faiz, yang pastinya selalu sepaket sama adiknya, Rahma. Faiz membawa mobil yang isinya juga cuman bisa berlima, jadi cukuplah buat mbak Shally dan para krucils. Setelah itung-itungan perkiraan biaya, hunting akom, waktu free masing-masing personil, dll.. kami memutuskan untuk berangkat pas Ramadhan hari pertama. Kami berencana akan menghabiskan 3 hari dan dua malam di Cornwall. kenapa pas Ramadhan? Karena kami pikir kami bisa sekaligus berhemat juga karena tak perlu jajan sepanjang perjalanan... Maklumlah ya mahasiswa yang LAnya belum cair, xixixixi. Aku malah hampir tak berangkat karena masalah financial, tapi Salim bersedia nalangin dulu, hehehe. Maacih Cayiiim..Sebenarnya sempat gentar juga ketika membayangkan akan main sambil menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 18 jam setengah. Ini pengalaman pertama bagi beberapa diantara kami. Beruntung Oji, yang sudah berpuluh tahun menjalani puasa di sini, berhasil meyakinkan kami kalau tidak akan sengeri itu, hehehe.

Hari pertama, 27 Mei 2017.

Jam 6 teng di pagi hari, aku sama Rifki berangkat dari Deans (nama akom kami) menuju tempat Salim, lalu kemudian sama-sama ke tempat Mbak Shally, karena mau berangkat dari sana. Tapiii dasar Salim, yang susaaaah banget bangun kalo udah terlanjur tidur, kami pun dianggurin kehujanan di depan akom dia. Telepon dari aku sama Rifki tak ada yang dijawab sama sekali. Kami pun akhirnya memutuskan berangkat ke Mbak Shally lebih dulu. Oji dan Rizal sudah lebih dulu tiba di sana. Setelah  semua bekal dan barang dimasukkan, tak lama kemudian Faiz dan rahma datang (beserta segala perbekalan masakan nan lezat dari Tante yayuk, mama mereka). Salim muncul di detik-detik terakhir. Alhamdulillah kami berangkat tepat waktu, setelah sebelumnya berdoa bersama dipimpin sama om Moemoeh (Papanya Faiz). Adegan doa bersama ini, entah mengapa membuatku terharu, sakral sekali.

Perjalanan dari Bristol ke Cornwall normalnya bisa ditempuh kurang lebih tiga jam. Namun hari itu kami dihadapkan dengan macet (walau tak separah macet Indo) sehingga kami dua jam molor dari waktu yang diperkirakan. Ini karena, hari kami berangkat adalah hari pertama long summer holiday-nya UK dan rerata warga Inggris akan menyerbu daerah pantai, dan karena Cornwall ini keindahan pantainya gila banget, maka wajarlah kalau banyak sekali yang memutuskan untuk liburan di sini. Sepanjang perjalanan, mobil kami seringkali bersisian dengan karavan yang diatasnya terikat sepeda, boat, dan tenda. Wuih,, seperti beneran di luar negeri, pemirsah (ahaha.. emang elu sekarang dimana, neng?). Aku juga suka banget sama adab berkendara orang sini, tak ada cerita ngebut geje di jalan. Orang-orang saling bertukar salam (lewat tangan) ketika hendak memberi jalan kepada pengemudi lain, yang juga dibalas lambaian tangan dan senyum manis. Duh, adem deh rasanya.




Destinasi awal kami adalah St. Michael Mount. St, Michael Mount sendiri adalah sebuah pulau di agak-tengah laut, yang memiliki beberapa bangunan tua dan castle megah yang berdiri tegak di puncak bukit. Tempatnya cuantik bangeeett.. Memasuki kawasan ini, bagiku, seperti memasuki negeri dongeng. Saya membayangkan kisah pangeran dan putri dari masa lalu yang pernah terjadi di wilayah ini. Mungkin dulu, dari jendela kastil, ada seorang putri jelita sedang menunggu pangeran berkudanya berderap menujunya. Saling melempar senyum  malu-malu yang sarat akan cinta. Aaaakkk.. so sweeet... Yeah, tempat ini menawarkan imaji masa kecil yang tak pernah benar-benar hilang dari fikiranku. Rupanya sisi romantis itu tetap ada dalam diriku, hehehe..

Pada saat air pasang, cara untuk untuk mencapai kastil ini dari Mazarion Beach adalah dengan menyewa boat. Biayanya sekitar £2 sekali berangkat, artinya PP habis £4. Pada saat kami datang, air kebetulan dalam keadaan surut jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ada setapak kecil di tengah laut menuju ke sana. Bau segar laut bercampur aroma rumput laut yang sedikit amis bermain-main dengan indra penciuman kami. Di beberapa sudut, boat yang berlabuh di pinggir pantai mengingatkanku akan kampung halaman. Di sisi lain, beberapa pasangan bergandengan mesra di tepi pantai. Ada juga yang berkejar-kejaran dengan anjing kesayangan mereka. Tak perlu takut kelaperan kalau berkunjung di sini, kedai makan banyak kok. Yang kuperhatikan adalah menu andalannya adalah fish and chips. Karena ini daerah pantai wajar kalau makanan yang ditawarkan tak jauh-jauh dari hasil laut. Si krucils, yang tentu saja tidak puasa sempat dibeliin emaknya makanan dari saah satu kedai ini. Looked tasty, walau menurutku sampai saat ini tak ada yang mengalahkan kuliner pantai di Indonesia. Lobster, cumi dan kepiting bakar yang dinikmati sambil minum kelapa muda segar adalah kenikmatan hakiki. Omaygatt kaan jadi pengen pulang deh kalo ingat ini niih...

Ouuchh, udah panjang aja ini postingan. Pantas capek. Sebenarnya perjalanan hari pertama kita bukan cuman ke tempat ini sih tapi juga ke Minack Theater (yang indahnya paraaaaahhh, sama ke Land's End (ujung daratan Inggris), ke Botallack Mine (reruntuhan bekas pertambangan yang lumayan besar di UK), dan akhirnya ngabuburit di city centernya St. Ives yang bersampingan dengan laut. Semuanya punya kecantikan masing-masing dan tentu saja cerita di masing-masing tempat berbeda. Satu yang sama, kami bahagia, kami merasakan kedekatan yang indah, kami sepakat ini adalah perjalanan yang sangat berharga untuk di kenang. bahkan sampai sekarang pun, aku masih suka melihat foto-foto kami, heheh.. Tempat ini kuberi bintang 4,5 dari 5 (karena tak ada yang sempurna, dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT, hehehe). Saran sih, kalau ada rejeki materi dan waktu baiknya kunjungilah tempat ini.









Ini kalau air pasang, jalannya tenggelam.








Akhirulkalam, sampai di sini dulu yaaa... kisah Cornwall ini akan lanjutkan terutama yang mebahas Minack Theater dan tempat lainnya. Kita buat bersambung biar gak bosan, yess???

Ps: Demi apaaa, video yang diupload harus dari YouTube baru mau muncul. Kalo upload yang pake cara biasa ogah nongol videonyaaa T_T,,

Sunday, July 02, 2017

Siang yang sangat cerah di Bristol. Ini Minggu, dan aku memilih untuk tidak menyentuh essay sama sekali hari ini. Everyone deserves a break, right? Nah, maka pagi ini kumulai dengan rutinitas yang sudah lumayan lama tidak kujabanin. Aku mulai dengan beberes, walau akhirnya tidak selesai karena diinterupsi panggilan vidcall via Line dari adikku, Ace. Kami ngobrol sekitar sejam-an dengan topik yang selalu lompat-lompat dari satu ke yang lainnya. Kelar vidcall-an aku jadi malas melanjutkan kegiatan beberes ini dan malah ke dapur untuk masak-masak. Aku memutuskan membuat spaghetti pagi ini. Bumbu instant sih, tapi kan yang manasin bumbunya aku, jadi bisa lah ya dimasukkin dalam kategori memasak, hehehe. Aku teringat masih ada ayam di kulkas, jadilah aku panggang saja. Bermodalkan pepper dan garlic powder, rosemary, garam secukupnya (secukupnya ini relatip, guys.. relatip :P), plus mozarella, bawang bombay, tomat, dan sedikit olesan Blueband, dengan ucapan bismillahirrahmanirrahiim ayam itu kumasukkan ke oven, hehehe. Butuh waktu kurang lebih 45 menit dengan suhu 230 untuk menikmati ayam panggang itu. Daaan rasanya pun lumayan enak lah yaaaa... (puji ale mi seng..).

Enyuakkkk...


Siang yang sangat cerah di Bristol. Langit biru cerah hanya ditemani awan tipis yang berarak. Aku sempat tergoda untuk cabut ke luar dan menikmati matahari, sesuatu yang agak mahal beberapa hari belakangan ini (padahal katanya summer). Tapi kemudian aku ingat kalau Senin besok pun bakal keluar juga sama Ashraf. Selepas lebaran, kami belum pernah bertemu lagi dan jadilah kami janjian keluar makan sambil membahas tugas. Undangan untuk main berjemur matahari masih juga menari-nari di kepala ketika aku tiba-tiba ingat (lagi) kalau toh nanti Irna dan temannya bakal main ke Bristol, dan akan ku ajak explore juga, dan niat itu urung lagi. Hadehhhh, mau bilang malas keluaar aja pake banyak alasan, hehehe. Akhirnya, aku hanya bisa memandang ke luar jendela, menikmati birunya langit sambil bersantai ria. Mengalun, musik lawas Sheila on Seven, yang dari kemarin menjadi teman setiaku dalam mengerjakan tugas. Amboi asyiknyaaa... Kalau bisa gini aja terus, ya.. santai tanpa harus memikirkan bebas tugas dan beban hati (tsaahh, hahaha).

The ray

Siang yang sangat cerah di Bristol. Camar terbang riuh rindah dan bersorak pada apa yang dilihatnya dari sudut yang sama sekali tak bisa kujangkau. Lama kuikuti gerak tariannya. Meliuk lincah memecah sinar mentari yang hendak merambat menembus jendelaku. Indah sekali. Jenis keindahan yang membuatmu tak ingin mengabadikannya dengan kamera karena berniat ingin menyimpannya dalam hati. Ah, dan benakku pun mencoba mencerna rupa-rupa yang sedikit seliweran di kepalaku beberapa hari ini. Tentang hidup, tentang mimpi, tentang pertanda dan tentang firasat yang semakin mendekati kebenarannya. Apakah aku takut? Sedikit. Tapi bukankah aku punya Allah? Raja manusia yang tak pernah lengah sekalipun mengurus mahluknya. Janjinya benar, tak sekalipun ingkar. Maka, tegakkanlah kepalamu dan tetaplah melangkah, Ririn.

Siang yang sangat cerah di Bristol. Langit biru, awan putih, semilir angin, Sheila on Seven, dan keyakinan akan janjiNya. 

Friday, June 30, 2017

Berai, SO7




Terlambatkah tepati janji
Saat kau melangkah 'tuk pergi
Yakinkah ini semua, yang telah kita bina
Terjaga oleh kelam
Dan terimbas dengan seram 

Kau kemasi kasih sayangmu
Bergegas ambil langkah sendu
Yakinlah ini semua, yang harus kita rasa
Terjaga oleh kelam 
Dan terimbas dengan seram 

Haruskah kau 'kan pergi
Bila semua 'kan sepi
Haruskah kau kembali
Saat kau baca lirih ini

Distance doesn't separate people, silence does. 

Thursday, June 29, 2017

In the end, you're gonna realize that nobody is going to help you but yourself. You are not entitled to anything. Nobody has the obligation to help you. If you want something to happen, you're the one who has to do it.

#menatap tumpukan jurnal..
#semangaaaaaaaatttttt

Wednesday, June 28, 2017

You came in my sleep last night, with your signature smile from yeeeaaars ago. Oh I really wanted the time to stop so I could stay with you forever. With your smile, your eyes, your smiling eyes, that were only for me.

Ps. Music in my head: One Rock: Always Coming Back.


"I am always coming back to you.. You got me till the end.."

Tuesday, June 27, 2017

Lucu, ya? Kita saling melarikan diri. Kau percaya bahwa aku yang memulai, sedangkan aku berkeras berfikir yang sebaliknya. Lalu kita mulai mengambil jarak menjauh. Yang kita benci, kepala kita kompak berhianat pada ego masing-masing. Kita tak pernah tahan untuk tak saling menoleh kebelakang, mungkin berharap satu sama lain akan memutuskan mengejar dan memperpendek jarak. Kau lupa aku masih sangat sekonvensional itu. Aku lupa kau sangat setakberani itu. Akhirnya, kita lari lagi. Aku dengan hati yang tak bisa tenang. Kamu, dengan teka-tekimu yang tak pernah bisa ku pecahkan.


Friday, June 23, 2017




Benarlah kiranya kata dosenku dulu, Prof Endang, bahwa kalau mau efisien mengerjakan tugas maka pastikan kamu berada di tempat yang tepat: perpustakaan. Jadi, beberapa hari kemaren, aku sudah membulatkan tekad untuk mulai melirik kembali essay yang belum juga selesai ini. Tapi apalah daya, distraksi datang dari arah amana saja (yang paling banyak sih sebenarnya dari internal aku sendiri). Isi kepalaku riuh oleh lakon yang muncul silih berganti, tak begitu jelas lagi mana yang kenangan mana yang imaji. Secara tak sadar, aku menikmatinya. Beautiful chaos, I think.

Tapi, bagaimanapun menggodanya untuk tinggal lama-lama di dunia dalam kepalaku itu, aku kahirnya mau tak mau harus keluar juga. Maka hari ini, aku ke perpus, eh bukan, ke senate house ding. Sebelumnya emang ke GSoE, janjian sama Mas Ary yang mau numpang ngeprint. Trus ngobrol seputar penelitian dan dunia fotografi. Dan, setelah dua jam kami pun pisah. Aku memilih pindah ke Senate House, sementara Mas Ary ke mana ya, aku lupa.

Dan, di sinilah aku sekarang. Satu demi satu jurnal kubaca kembali. Beginilah kalau sempat vakum, harus mundur beberapa langkah lagi untuk kemudian bisa lanjut. Well, tidak perlu mengeluh. Salah sendiri tidak istiqomah. Alhamdulillah, satu subsection berhasil kelar. Aku menyempatkan diri blogwalking dan menulis ini untuk transisi lanjut ke pembahasan selanjutnya. Oke dokeh,,, waktunya kembali bekerja... ciaoooo...

Tuesday, June 20, 2017

Berkeliaran di kepala rupa-rupa andai.
Dari yang kukira sudah terkubur di limbo
Sampai yang masih tak berbentuk diujung sana.
Dan diantara semuanya, kecemasan dan ketakutan masih gentayangan dengan keras kepala.

Friday, June 16, 2017

"...perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri, kuatkanlah hati, Cinta... Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya.. ingatkah engkau kepada angin yang berhembus kepada yang kan membelaimu, Cinta.. "

Out of nowhere, you asked me to listen to this song, and I am hit by the feeling I never anticipated before. You win again, I guess.

Thursday, June 15, 2017











Memasuki masa-masa aku sangat membutuhkan tawa untuk tetap waras. Kalian memberikan itu. Terima kasih. 

I should have trusted my instinct at the very beginning. Yet, it's OK though. We learn from our mistakes, don't we? Now it's time for preparing myself for the worse. Worry? Fear? Of course! Still, the time has proven, that in the end, everything's gonna be olrait. 

Monday, June 12, 2017

Kombinasi puasa 18 jam, kurang tidur, essay, group work, pilihan hidup, keputusan penting: Kurus lagi!!! 
Fear nothing, dearest one. You have me. Chin up and smile. Best things are waiting for you. 

Saturday, June 10, 2017

Bristol, library pukul 19.42. Sudah lebih dari 7 jam aku di sini. Berkutat dengan draft essay.  Jumlah kepala-kepala yang mencuat di balik kubikel kian berkurang jumlahnya. Irama tak tik tok bunyi keyborad yang ditekan pun terdengar hanya dari beberapa meja di ujung sana. Sekarang memang memasuki tahap-tahap lenggangnya perpustakaan. Mahasiswa undergrad sudah selesai exam dari dua minggu lalu. Mungkin sekarang mereka sedang tersebar di sudut-sudut pantai dan highland di UK dan sekitarnya untuk menikmati libur musim panas. Ah,, asyik sekali.


ASSL Library


Alhamdulillah, hari ini paperku semakin jelas kemana tujuannya, yang ditandai dengan rampungnya bagian introduction. Titik, yang kalau untukku, hanya bisa dicapai setelah berminggu-minggu mengunyah dan mencerna maksud dari jurnal-jurnal yang ku baca juga diskusi dengan teman seperjuangan. Well, bagiku, bagian yang paliing sulit dan membutuhkan waktu yang lama ketika menyusun essay adalah menuliskan bagian pendahuluan. Mengapa begitu? sebab bagian ini adalah miniatur dari keseluruhan tulisan kita. Dia harus mencerminkan apa saja yang akan kita bahas serta justifikasi dari pendekatan-pendekatan yang kita pakai dalam membahas sesuatu. Dan, seperti yang telah aku bilang tadi, untuk bisa memutuskan topik apa yang akan aku tulis, pendekatan apa yang akan dipakai dalam membahas topik tersebut harus melalui proses membaca yang bwaaanyaak. Harus memilih-milih bacaan yang relevan dan mencoba mensintesize ide itu butuh skill tersendiri. Bagi orang yang susah fokus seperti diriku, proses membaca dan kemudian mapping ini bisa membuatku sangat lelah karena ditengah-tengah itu distraksi bisa datang dari segala penjuru alam raya. Dunia maya dan dunia nyata. Mulai dari media sosial (path, twitter, WA, Line dan instagram) sampai pada ajakan jalan-jalan yang sangat susah ku tolak, hehehe. Makanya, ketika akhirnya gambaran utuhnya sudah bisa kubayangkan, maka rasanya 80 persen essayku telah jadi. Horeeee...

Pencitraan, syalalala 😜


Hal yang patut disyukuri juga hari ini adalah, kabar bahwa operasi Bapak telah selesai dengan lancar. Beliau pun telah siuman meski masih mengeluh kesakitan pasca operasi. Sungguh ini benar-benar membuatku tenang dan akhirnya bisa berfikir dengan lebih fokus. Tetapi, memasuki jam-jam rawan lapar setelah berpuasa selama hampir tujuh belas jam membuatku mau tidak mau berhenti sejenak. Buka puasa masih kurang lebih satu setengah jam lagi. Yeah, di UK, rentang waktu menjalani puasa lebih lama 5 jam dari Indonesia. Kami di sini harus berpuasa selama kurang lebih delapan belas jam. Alhamdulillah masih bisa bertahan sampai sejauh ini, meski berkali-kali godaan untuk membatalkan puasa begitu tak tertahankan, hehehhe. Pada titik ini, menatap kursor yang berkedapkedip hanya akan menambah pusing. Semakin dipakasa akan semakin mumet. Maka, seperti biasa, "melarikan diri" ke blog ini menjjadi seperti oase. Blog-walking dan menulis membuat otak bisa beristirahat kembali segar. Satu yang kupelajari adalah, jika capek atau mumet, ya sudahlah, tinggalkan sejenak. Go for refreshing. Tapiii, jangan sekali-kali menutup Ms. Word loh ya. Bisa bablas, heheh.

Nah seperti sekarang, rasanya sudah lebih rileks lagi saatnya kembali kepada essay. Ajakan Ricky jadi volunteer teacher bebayar di Equador dikesampingkan dulu. Ntar malam lah baru dipikirin lagi sambil meminta pendapat Teh Diah mengenai peluang bagus ini. Oh iya, hari ini aku juga skip acara bukber yang dirangkaian dengan perpisahan Mbak Shally. Sedih sebenarnya, tetapi bukankah yang utama harus didahulukan terlebih dahulu? Hehehe.


Friday, June 09, 2017



Fisikku di sini, tetapi hati dan fikiranku bersamamu, Bapak. Otakku buntu seketika tak tahu bagaimana harus menahan air mata gar tak jatuh, ketika mereka mengirim fotomu dengan latar rumah sakit via line. Sungguh sama sekali bukan cara yang menyenangkan untuk memulai hari. Aku butuh satu jam membeku diam untk bisa mencerna semuanya. Lalu berkelebatlah semua kemunginan dan andai dan tanya. Berganti-ganti dengan kenangan yang kita punya. Banyak sekali, Pak. Aku tersedot masa lalu. Saat-saat kau menyisir rambutku, menyemir sepatuku, dan mengantarku masuk TK di hari pertama dan setia menjemputku setiap hari. Lalu pada masa-masa perdebatan yang seakan tiada ujungnya. Sampai akhirnya kita berhasil menjadi sahabat dan teman diskusi.

Oh, Bapak, kumohon lekaslah sembuh. Kembalilah kuat dan tangguh seperti biasa. Ada anakmu yang sesungguhnya sangat penakut di sini. Kau sumber kekuatanku, Bapak. Tempat bersandar dan bersembunyi ketika dunia tak menawarkan kenyamanan padaku. Karena pelukanmu sungguh menyembuhkan. Pelukanmu memulihkan. Stay strong, my most hero, a man with his words, my surely first love.

Thursday, June 08, 2017

Bristol yang tidak terlalu ramai malam ini menjadikan rinduku kian menyayat. Pada sebuah senyum itu. Pada teduhnya mata itu. Dan kosong ini, bersekutu dengan beratnya kehidupan akademik, membuatku tergugu dalam sendiri. Tidak ada satupun yang dapat menghibur hati dan mengisi hampa ini selain pelukan dan belai tangan yang perlahan menua itu. Aku merindu rumah. Aku merindumu, Mama.

Tuesday, June 06, 2017

Untukmu yang sedang berhujankan tangis.



Ada batas tak kentara antara bersabar dalam berbuat baik dan lemah, Mate. Tak kentara tapi bukan berarti tak ada. Aku biasanya tak pernah punya keinginan untuk mempertegas batasannya walau kadang respon yang kuterima jauh dari yang seharusnya aku dapatkan. Toh, urusan untuk selalu berusaha menolong ini adalah sepenuhnya urusanku dengan Allah. Bukankah Dia maha melihat dan sungguh tidak ada yang lebih adil dariNya? Tetapi kali ini, aku ingin berdiri diambang batas sabar dan lemah ini. Aku ingin mempertegas batasan itu. Terkhusus untkmu, Mate. Hanya untukmu, semoga. Saat ini, aku memutuskan untuk tidak lagi mau kau "manfaatkan". Bukan karena aku membenci (semoga Allah menjaga niatku) tetapi karena aku ingin memberimu pelajaran. Agar kau menyelesaikan peperangan yang kau ciptakan sendiri. Berhenti lari dari masalah. Hadapilah dengan tulus dan berani. Sepenuh hati aku doakan semoga kebaikan, yang aku percaya ada dalam dirimu, mengalahkan segala marah dan kebencian. Aku terlalu menyayangimu untuk membiarkanmu digerogoti perasaan-perasaan negatif itu, Mate. Itu bukan kau yang aku kenal saat pertama kali bertemu. Dan aku benci melihat wajahmu yang berbalur kesedihan, sembab karena air mata. Hadapilah, memaafkan itu membebaskan. Biarkan kedamaian memeluk hatimu. Seperti dulu.... Let love win. 

Sunday, June 04, 2017

Thursday, June 01, 2017

Happy Birthday My Boys

Intinya ini adalah ucapan ulang tahun yang ditaburi doa-doa terbaik untuk dua pria kesayanganku. Yang pertama, adik bungsuku, my one and only brother, Imam Kurniawan dan yang satunya adalah ponakan ke-duaku, Muhammad Raska Hidayat Tosepu. Hari ini, 1 Juni, yang kalau di Indonesia selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, masing-masing pria ini juga memperingati hari lahir mereka. Terpisah ribuan mill jauhnya dari mereka tidak menyurutkan keinginanku mengirim doa terbaik bagi keduanya. Pun deadline essay yang kian dekat ini.



Well, Imam Kurniawan aka Aco, adikku sayang usiamu kini bertambah lagi. Sebuah nikmat dari Allah terlimpah lagi untukmu. Aku tahu kau tidak butuh ucapan selamat ulang tahun karena katamu, itu tidak ada dalam ajaran agama kita. Tapi, tetap saja, sebagai kakak, aku diliputi suka cita saat usiamu genap 20 tahun hari ini. Ya ampuun, the old saying is true that time flies. Dirimu sudah jadi pemuda aja sekarang ini. Sudah kuliah, semester 3. Sudah jauuh lebih dewasa, bijak, dan juga soleh. Padahal dulu kamu keciiil sekali, hitam, cengeng dan menyebalkan, hehehe (okee, ini di skip saja). Mau tau ndak doaku apa?? Ku kasih tau ya.. aku khusus berdoa minta pada Allah hari ini untuk semua kebaikanmu. Aku mohonkan agar kamu selalu diberi kekuatan dan keberanian untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Selalu diberi penerangan dan petunjuk dalam menjalani lorong-lorong kehidupan yang selalu tak terduga tiap harinya. Sesuai namamu, yang merupakan doa dari orang tua kita, semoga kamu bisa menjadi Imam (pemimpin) yang baik dan adil. Teruslah berani mencoba sesuatu yang baik dan baru demi cita-cita apapun yang kau gantung dengan tinggi itu. Ingat, tidak ada yang tidak mungkin, kan? Seperti yang kita selalu percaya bersama bahwa ketika semua orang mengatakan "tidak mungkin" maka hal besar bisa terjadi jika ada satu orang "gila" yang menyatakan "mungkin". Saat semua orang bertanya "why?" maka hal besar akan terjadi saat satu orang bertanya "why not?". Jadilah satu orang itu, dek. Kau punya segalanya sebagai amunisi, otak yang cerdas, kemamuan yang kuat, fisik yang insyaallah sehat, doa dari kami semua yang menyayangimu tanpa syarat, dan yang paling penting, kau punya Allah. Sekali lagi, selamat ulang tahun naaah...

Aaand, for you, my lil pinguin, Muhammad Raska Hidayat Tosepu, hari ini kamu berusia satu tahun, Nak. Tahun lalu, aku turut ada disana, menanti dengan perasaan was-was di luar kamar bersalin. Detik-detik yang mengangkan. Lalu, tangismu membumbung, memenuhi udara. Kami diselimuti haru dan bahagia. Kata Om Aco, kamu adalah kado ulang tahunnya, hehehe (both of you share the same birth date). Raskaku yang sabar, Mami sekarang sedang di Inggris, Nak. mencoba meraih mimpi yang Mami pelihara bertahun-tahun lalu. Mungkin Raska tidak mengenali Mami senagaimana Kakak Amam mengenal Mami, kita berpisah saat kamu masih 3 bulan. Belum bisa bicara danberjalan. Tapi tak apa. Kita punya internet sekarang yang bisa menghapus jarak kita. Walau tak bisa mengecup dan memelukmu langsung, aku percaya pelukan ayah bundamu bisa mewakili bagaimana sayangnya Mami untuk Raska. Raskaku sayang, sehat terus ya, Nak. Selalu ceria, jadi anak soleh. Kelak matamu akan menatap dunia yang mungkin kami tidak sempat lihat. Kakimu akan menjelajah tempat-tempat yang belum bisa kami kunjungi. Kamu akan menghadapi dunia yang jaaauh lebih berat dari yang kami hadapi saat ini. Untuk itu, tetaplah kuat, Nak. Jadikan sholat dan sabar sebagai penolong. Selalu jadikan Allah satu-satunya tempat berlindung dan memohon kekuatan. Mami loves Raska. Selamat ulang tahun, Sayang...

From Bristol with love,
Ririn

Tuesday, May 30, 2017



Dan laut selalu punya tempat di hatiku.
Pada birunya aku mengerti damainya sebuah penerimaan.
Pada gelombangnya aku belajar berdamai dengan amarahku.
Pada kedalamannya aku melarung banyak rahasia.
Selayaknya aku mencintainya dengan kedalaman yang sama.

Friday, May 26, 2017

Sepertinya, aku sedang menikmati perasaan nostalgic beberapa hari terakhir ini. Mulai dari kembali menonyon film-film lawas, melihat foto-foto lama, dan sekarang menikmati lagu-lagu jaman SMA. Aku suka sensasinya. Aku mellow dan gembira dalam waktu yang bersamaan. Tidak, bukan berarti aku tidak mensyukuri hari ini dan ingin kembali ke masa itu. Sama sekali tidak. Aku hanya takjub pada kenyataan bahwa aku sudah tua sejauh ini ternyata.

Saat ini, Ternyata Mimpi dan Bunga nya Naff ganti2an memenuhi ruang dengarku (eastagaaaa ruang dengaaaar, duh istilah iniii, wkwkwk). Teringat jaman duluuu sekali, saat radio masih berjaya, aku selalu meminta Agus, sahabatku semasa SMA yang notabene penyiar di salah satu radio terkeren di Kendari, untuk memutarkan lagu ini kalau lagi siaran, hehehe. Kalo gak salah aku juga pernah minta direkamin lagu kompilasi lagu yang lagi hits banget saat itu (enaknya punya teman penyiar, :p).

"Bertanya mengapa harus terjadi...
Mengoyak ukiran janji hati..
Maafkan, ku terlena wangi dunia... "

Duh, ini lagunya enak banget. Ingatanku terbang pada saat mendengarkan lagu ini dari walkman sambil liatin anak2 basket main di sore hari. Kelasku di lantai 2 dan sambil menunggu pak guru dateng ngasih les, aku dan teman2 cewek lainnya cekikikan genit demi melihat idola kami tanding,hehehe. Ah masa2 putih abu2 itu sudah lama sekali. Belasan tahun audah berlalu. Hidup telah membawa kami tercerai berai meraih mimpi masing2. Sesekali dalam setahun kami biasanya mengusahakan kumpul untuk merawat ingatan dan kehangatan masa2 SMA. Lebaran akan selalu menjadi sangat seru dan haru. Kami akan selalu membahas kisah konyol kami yang tak pernah bosan diulang2 dan ditertawakan bersama. Pada saat2 itu, kami akan bersama2 mengunjungi rumah bapak ibu guru kami, yang dulu, di kelasnya, kami kadang jadi anak bandel. Dan betapa bapak/ibu guru kami dengan tulus telah memafkan dan selalu mendoakan kebaikan untuk kami. Duh, ini bikin berkaca-kaca, sih...

"Kau bunga.. Nan semerbak, tebarkan aroma cinta.. Membuai hatiku, menyentuh relung jiwaku... "

Dan aaah lagu ini... Mengantarkan aku memasuki ruang memory yang lain. Saat seseorang itu, sepulang sekolah menunggu di depan kelas,  dengan malu2 mengajakku nonton di bioskop besok sore, yang kuiyakan juga dengan malu2.. heheehe. 

Wednesday, May 24, 2017

Having Fun at Noah's Ark, Bristol

Bristol hari itu, Senin 15 Mei 2017, sedang dipeluk oleh gerimis. Auranya bukan seperti yang biasanya kusuka. Mungkin karena lagi kena PMS atau jenuh dengan bacaaan jurnal, hujan di luar malah bikin gloomy. Bawaannya pengen ngetem di bawah duvey sambil nonton film-film lama (oh ya, akhir-akhir ini aku lagi seneng banget nonton film lawas). Tapi, kenyataannya aku sedang di perpus hari itu, mencoba membereskan draft essay yang aku targetkan bisa kelar secepatnya (Soalnya mau ada unit lagi yang harus dipersiapkan dan yang paling PENTING adalah karena mau Cornwall trip akhir bulan ini, huhuhuyyyy_maapkwen motivasiku ya Allah). Mataku terasa kian berat seiring usahaku menentukan approach apa yang akan kupakai dalam menganalisis fenomena global higher education di Indonesia ketika pop up WA di ujung atas layar lappyku muncul. Dari Daryl. "Teh, ntar 3.30 ngapain?" Aku mengendus adanya ajakan main atau makan, dan mataku otomatis menyala kembali, hahaha. "Gak ada. Adapakah?" tanyaku. Lalu diajaknya aku ke acara afternoon teanya BISC (singkatan dari Bristol International Students Community). Dengan sedikit mengabaikan rasa bersalah pada draft essay ini, aku mengiyakan ajakan Daryl, hehehe... "Eh, Ryl, aku ajak Irna juga yaa" dan kata Daryl "Ajak teh ajaaaaaak"

Bertiga kami menikmati cemilan cepuluh yang enywak-enywak itu sambil ngobrol ringan dengan mahasiswa internasional lainnya. Kebanyakan sih dari Asia namun ada juga dari Eropa. Kali ini, gerimis di luar jadi sangat menyenangkan. Berbagi tawa memang selalu menyenangkan, kan? Tak lama kemudian, seorang staff yang sangat ramah berdiri dan mengumumkan bahwa Sabtu nanti (20 Mei) akan ada kunjungan ke Noah's Ark. Tiketnya bisa dibilang sangat murah (cuman £9 sudah include transportasi padahal biasanya £19 untuk orang dewasa). Demi mendengar ini, Daryl langsung bersorak gembira dan dengan binar mata yang sangat sulit ditolak, dia memaksa mengajakku untuk ikutan. Aku sempat kepikiran sama si draft ini dan juga kesehatan ATM tapi si Daryl berhasil meyakinkan bahwa ini bakal worth it banget dan bahwa Noah's Ark ini beda banget sama Bristol Zoo dan embel-embel tiket terbatas kalau ga buruan bisa kehabisan dan yang terpenting adalah rayuan pulau kelapa akan dimasakin lunch sama doi, hehehe. Dasarnya juga aku orangnya murahan gampang dibujuk, jadilah aku mau juga. Si Irna juga kami bujuk biar mau ikutan, hehehe. Oh iya lebih lengkap tentang Noah's Arch ini bisa diliat di sini.

Sabtu, 20 Mei 2017 pukul 8 pagi, langit Bristol cerah ceria. Tapi ya dasar UK's whether itu sangat moody a.k.a unpredicatble pukul 9 si gerimis turun lagi. Tak apalah, semoga di sananya cerah. Kami kumpul di BISC sesuai waktu yang ditentukan dan berangkat tepat waktu. Oh iya, ternyata Salim juga daftar kemaren. Uhuyyy bakal tambah seru nih. Kami berempat lalu ditempatkan semobil. Yang jadi drivernya Bapak super ramah yang banyak bercerita tentang Bristol dan sejarahnya kepada kami. Perjalanan kami tempuh selama kurang dari 30 menit. Dekat banget ternyata. Kami rombongan pertama yang sampai. Seperti biasa, kami selfie-selfie berempat sambil menunggu yang lain datang. Setelah semua berkumpul, kami pun diberi pengarahan lagi beberapa menit daaaaaaan petualangaaaan pun dimulaaaiiii, sodara-sodara...



A mandatory groupfie, hehhe..
left to right: Salim, Daryl, irna, dan Bidadari

Begitu masuk area farming ini, kami langsung dibuat jatuh cinta sama sekumpulan meerkat yang unch banget. Si Daryl sama Irna sama aku juga betaaah banget memandangi mereka. Seperti biasa, teriakan2 yang sama sekali tidak melambangkan umur dan kualifikasi pendidikan keluar dari mulut kami bertiga, hehhe. Salim (sebagai satu-satunya yang agak waras diantara kami) cuman bisa geleng-geleng kepala sambil menahan malu, wkwkk. Trus lanjut masuk ke area reptil (dan akhirnya aku liat buaya juga di Bristol, yeaaaayyyy), trus ke baboon, trus makan trus lanjut liat gajah, dll. Liat gambarnya aja ya...

Yang bikin kami jatuh cinta, hehhe








Bayi jerapah ini baru berumur 9 hari, lhooo.. lucu yaa..




Buayaaaaa



Babinya imut gini


Yang menyenangkan jalan bareng rombongan kali ini adalah fakta bahwa Irna adalah dokter hewan dan Daryl yang adalah anak biologi dengan wawasan dan pengetahuan yang sangaaat luas. Sepanjang tour, Salim dan aku disuply dengan informasi ilmiah mengenai animals yang sedang kami dengan cara yang sangat ringan dan pake Bahasa Indonesia, hehehhe. Ih hewan-hewan ini lucuuu banget semuanya. Trus kami juga dibuat takjub oleh manajemen zoo ini. Animal enclosurenya gila banget. Hewan yang ada di sini hidupnya sangat layak. Space untuk penghuninya luas dan bersih serta sebisa mungkin mengadopsi habitat aslinya. Kesadaran akan animal welfare sangat tinggi. Bukan hanya oleh pihak manajemen tetapi juga karena pengunjungnya yang bisa dibilang sangat well-educated masalah beginian. Jika ada indikasi kesalahan treatment kepada para hewan, pengunjung bisa protes dan menuntut pihak pengelola. Jadi, quality controlnya benar-benar menyeluruh dilakukan oleh semua pihak. Duh, di Indo kapan bisa kayak gini ya? Mudah-mudahan secepatnya, aamiin (sambil menatap Irna dan membayangkan Yeyes, hehehe)


Ada yang bikin ngakak pas liat ini. Tiba-tiba Salim, yang berdiri di sampingku nyeletuk:
Salim: "Aku heran deh, kak. Kok belang-belangnya gak sama kayak Zebra cross, ya"
Me: "Heeee??? kan ini Jerapah Liiim.. Jerapah bukan Zebra, wkwkkwkwkwk"
Salim: "Oh jadi selama ini beda?"
Me: "¶•∞¢#€.. serah lu deh, Lim"

Bisa aku katakan kalo Noah's Ark ini benar-benar tepat yang sangat cocok dan asyik untuk escape sejenak dari segala rutinitas kuliah. Fasiliatsnya komplit (ada indor dan outdoor adventure, ada play grounds, ada picnic area, dll) dan semuanya sangat inclusive (semua orang bisa menikmatinya dengan nyaman termasuk anak-anak, orang dewasa, para senior dan mereka yang berkebutuhan khusus). Semuanya dirancang dengan sangat cermat dan detail. Kami berempat sepakat anti slippery roadnya juga dibuat dengan sangat cerdas.


yuhuyyyyyyyyy
Tahan, Ryl.. ini lagi dipotoooo

Irna is slidiiing

salah satu sudut Noah's Ark

Semacam teather untuk parade hewan kelas mamalia

Naaaah, sampailah kita pada bagian terpecah dari jalan-jalan kemaren. Apakah itu??? Main di mazenya Noah's Ark (yang setelah aku googling baru tau kalo ini adalah UK's largest hedge maze, yeaaayyy). Ini maze memang gila!!! Gedee banget dan menantang. Jadi untuk bisa keluar hidup-hidup dari maze ini, kita harus menjawab 15 pertanyaan pilihan ganda. Setiap lorong ditandai dengan papan pilihan. Dan kita akan masuk ke lorong sesuai dengan pilihan kita. Kalau jawaban kita benar, maka kita akan sampai pada pertanyaan selanjutnya. Kalau salah, ya silahkan coba lagi dan selamat bertersesat ria, ahhaha. Jarak antara pertanyaan satu dan yang lainnya lumayan pwanjang dan berliku. Pertanyaannya juga naudzubillah. Bahkan dengan modal satu dokter hewan lulusan UGM (Irna) dan satu ahli biologi lulusan ITB (Daryl) kami pun masih tersesat, wkwkwk. Salim aja yang selama ini tidak pernah mengumpat pun akhirnya mengumpat juga. Daryl sampe udah pengen nangis aja, hihihi. Pokoknya bagian ini paliiiiing seru menurutku. Kalo diajak ke sini mau lagi dah. Oh ya satu lagi, kalau main ke sini, harus banget sama teman. Sangat direkomendasikan teman-teman dengan tingkat kehebohan yang tinggi biar makin seru. Warning: tidak ada bendera untuk menyerah jadi bersabarlah dan berjuanglaaahhh!!!




Fiuhh udah sampe ke pertanyaan ke 14


Yeaaayy... finally exit gate!!!

Kami keluar dari labirin setelah menghabiskan waktu hampir sejam di dalamnya. Begitu melihat pintu keluar, kami berempat luar biasa senang dan legaaa, hahaha. Kami melihat jam dan emang tepat banget sama jadwal pulang. Eh tapi kami singgah dulu dong ke gift shop. Isinya sangat menarik dan kata Irna harganya lebih murah dari Bristol Zoo. Si Daryl membeli beberapa cendera mata yang unch banget Irna juga. Aku sama Salim tidak membeli apa-apa demi penghematan karena minggu depan mau ngetrip lagi ke Cornwall, hehehe.

Demikianlaaaaahhhh... Weekend super pecah kemarin benar-benar membuatku recharged. Benarlah, laughing is liberating. Terimakasih sudah mengajak ke sini ya, Daryl. Terimakasih juga untuk makan siang yang endess bgt. Irna dan Salim juga makasih yaaa, kalian membuat ini jadi jauuuh lebih menyenangkan. Luv Luv.



Wednesday, May 17, 2017







Aku memuja sunset dengan keterlaluan. Ketika oranye mendominasi cakrawala. Ketika ketergesaan menuju pulang menguar di udara. Ada rindu yang turut bertengger pada pundak yang lelah. Padanya, bergelantungan asa untuk segera melebur bersama yang terkasih. Padaku, ia membisikkan sebuah pemahaman. Bahwa sebuah akhir pun tak selamanya harus selalu dibingkai kesedihan. Bahwa akhir bisa juga dikemas dengan sangat memesona. Sunset ada untuk aku puja sepenuh hati.

Tuesday, May 16, 2017



Lalu bagaimana mungkin aku membenci hujan? Saat rinainya meluruhkan hijab antara doa sang hamba dengan Khaliknya. Saat lamunan dan kerinduan akan pulang terasa begitu kental. Saat tetesnya dan tangismu bisa melebur tanpa kentara. Saat pelukannya dengan lembut mengusap kecewamu. Sungguh sepertinya mustahil aku tak jatuh cinta pada hujan. 

Sunday, May 14, 2017

Bagaimana mungkin aku tak menyukai fajar? Ketika malaikat turun menabur berkah. Ketika Ia mendengar segala doa. Memeluk hati yang merindu. Lalu, bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta pada fajar? 

Saturday, May 13, 2017

Di salah satu sudut kota,
kulihat bahunya bergetar menahan dingin.
Pada sang anjing, sahabatnya, ia berbagi sunyi dan lapar.
Pada belaianya dia memberi janji,
Janji yang ia khawatirkan akan bermakna kosong,
Tentang harapan akan esok yang mungkin tidak melulu tentang lapar.

Lalu, ada aku dengan hangat yang mengepul di kedua tangan.
Gagal gembira meski dentum-dentum di headsetku bernada ceria.
Kepalaku sibuk buta pada segala nikmat yang ada.
Grasak-grusuk merajuk pada Langit akan apa yang sebenarnya sudah jauh melampaui cukup.

Dan, deg... mataku bertemu matanya.
Mata yang menuduh dan menelanjangi pada saat yang bersamaan.
Tentang aku yang mulai lupa bagaimana caranya bersuyukur.
Tentang waktu yang kusia-siakan berlari dari rahmat-Nya.
Dan,... benarlah kiranya sang kitab suci.
Fabiayyi Aalaa i rabbikuma tukadzibaan?

Thursday, May 11, 2017

"Sometimes I wonder about my life. I lead a small life. Well, valuable, but small. And sometimes I wonder do I do it because I like it or because I haven't been brave? So much of what I see reminds me of something I read in a book when shouldn't it be the other way around?" (Kathleen from You've Got Mail).

And, now I am thinking of my own life. Choices I have taken and decisions I've made. 

Monday, May 08, 2017

Walk the Talk, Can You?

Me: "Semangat ya, Dit... begitulah kita pasti akan melalui fase itu. Keluar dari comfort zone untuk menantang diri sendiri, melihat sejauh mana kita mampu dan berani melampaui batasan kita.."
Dita: "Iya, kak.. tapi Dita kok takut ya kak?"
Me: "takut apa Dit?"
DIta: "Takut tidak lulus SBMPTN, Kak. Takut tidak bisa membanggakan kakak-kakak semua, takut juga jadi mahasiswa kak.. Jadi mahasiswa artinya berhadapan dengan dunia nyata, ya kak?"
Me: "Percayalah, semua akan baik2 saja, Dit. Jadi mahasiswa, tentu beda dengan ketika jadi anak sekolahan. Tanggung jawabnya pastilah lebih gede. Tapi kakak-kakak juga sedang berjuang saat ini. Berjuang bareng2 yes? jangan lupa saling mendoakan, hehehe"
Dita: "Siyap, Kak.. terimakasih semangatnya dan inspirasinya...Kakak-kakak AAS memang keren"

Di atas itu adalah sepotong chatku via WA sama Dita beberapa jam yang lalu. Dita adalah salah satu adik asuh kami dalam program beasiswa Adik Asuh Suryanara (AAS) untuk tahun 2016-2017. Oh ya, AAS ini adalah sumbangsih kecil kami, awardee beasiswa LPDP angkatan PK-33, kepada bangsa ini. Jadi program ini memberikan beasiswa kepada siswa kelas 3 SMA yang kami pilih melalui seleksi lumayan ketat untuk mendapatkan iuran SPP selama setahun, dan mengikuti bimbel agar bisa sukses melanjutkan pendidikan ke universitas impian mereka. Pada tahun 2015, program ini bisa dibilang sangat sukses. Nah, di 2016 kami melanjutkan program ini dengan mengajak teman-teman dari angkatan PK lain untuk ikut berpartisipasi. Alhamdulillah lumayan banyak yang bersedia bergabung. Dan tidak terasa, program tahun ini sudah hampir sampai pada saat-saat akhir. Adik-adik kami telah melalui UN dan bersiap masuk ke Universitas impian mereka. Dalam setahun ini, kami, para kakak asuh, diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan adik asuh kami dalam upayanya meraih targetnya. 

Ada banyak cerita, baik yang membahagiakan maupun yang cukup lucu yang kami alami selama hampir setahun ini. Di Grup WA kakak asuh Suryanara, kakak sering membagi pengalaman mereka bersama adik-adik masing-masing. Kadang bikin senyum terharu kadang bikin senyum geli, hehehhe. Aku dan Dita bisa dibilang lumayan dekat. Dita anaknya sangat koperatif dan lumayan sering menyapa kakaknya meski kadang karena kesibukan baru bisa aku balas sehari setelahnya. Meski begitu, komunikasi kami sejauh ini baik. Aku bersyukur bisa berpartisipasi dalam program ini. Setidaknya, hidupku terasa sedikit berarti walau apa yang kami lakukan ini hanya serupa titik yang sangat kecil.

Namun, chat aku bareng Dita hari ini entah mengapa menyisakan sedikit rasa aneh. Campur aduk. Diantara rasa itu, yang paling dominan adalah rasa malu dan tertampar. Sebelum menuliskan ini, aku menyempatkan membaca kembali obrolan kami, dan rasa malu itu kian bertambah. Bagaimana tidak, aku menemukan diriku seperti manusia yang agak munafik. Lihat saja, aku dengan entengnya menyemangati Dita untuk terus berusaha sementara aku sendiri belum memberikan usaha terbaikku selama diberi kesempatan kuliah di sini. Aku "menuntut" dita berjuang demi tanggungjawab dia karena telah menerima dana dari kami yang sangat tidak seberapa itu. Sementara, aku sendiri menggunakan dana rakyat indonesia yang tidak sedikit tetapi masih belum bisa maksimal berjuang, hiks. 

Aku malu, malu sekali. Selama hampir sebulan aku malah lebih sibuk dipusingkan dengan urusan menye-menye gak jelas, sementara tanggungjawabku mengharuskan aku untuk bisa fokus pada tujuanku datang ke sini. Harapan negara, kantor dan keluarga lumayan besar kepadaku, dan aku belum bisa memberikan sumbangsih yang berarti. Sedih. Demi alasan menata hati, aku menyibukkan diri dengan main ke sana kemari bareng teman. Itu, sedikit banyak, lumayan melegakan sih. Tertawa bersama sahabat sungguh merupakan obat tersendiri, pelarian dari urusan hati, hehehe. Tapi, ketika edisi main kemaren selesai, aku bertekad bahwa hari ini harus bisa fokus lagi dengan urusan kuliah. Daaan... ketika membuka akun blackboardku, tersadarlah aku, bahwa unit selanjutnya menuntut perhatian yang tak boleh terbagi. Reading list yang saangaaat panjang dan untuk topik yang gak begitu jadi favoritku, statistik. Yeah... I have a bad relationship with numbers, dunno why. Agak ngeri ku download satu persatu materi dan semakin tergugu ketika sekilas terantuk pada istilah statistik apalah-apalah itu. Maih mau main, Rin?? Hiks...

Oh, Dita..maafin kakak, ya... kakak ternyata tidak sehebat yang Dita kira,,hiks.. Kakak rupanya masih lemah, Dit. Belum cukup ulet belajarnya, belum cukup persistent dalam berusaha. Tapi, Kakak janji, akan memperbaiki itu semua. Demi bisa mewujudkan mimpi dan menuntaskan apa yang telah kakak mulai. Supaya beneran bis amenjadi inspirasi bagi kalian, adik-adik kami di AAS. Seperti yang tadi kita omongin, berjuang bareng-bareng semuanya, yaaa.. Terima kasih sudah "menampar" kakak hari ini. Faktanya, kakak belajar banyak juga dari Dita... Semoga perjuangan meraih mimpi kita diberkahi Allah, ya... Thx juga untuk kakak-kakak di AAS yang sangat menginspirasi. Senang menjadi bagian dari kalian semua. 

Thursday, May 04, 2017

Just finished watching "sliding doors". An old movie. Got it from a friend's blog. She was right. The movie makes me think. About serendipity. About me. About you. About us. Dunno whether it is the way that God chooses to speak to me. But it works. A bit relieving now.

PS: Love the closing music. Dido_Thank you. Gonna be my this-week-theme-song I guess.

Tuesday, May 02, 2017

Kamu memang keras kepala dari dulu, kan?
Sudah kuusir ribuan kali. Sudah kudiamkan milayaran kali.
tapi kau tetap diam di sana, enggan lenyap.
Lalu apa gunanya semua ritual melupakan yang kulalui dengan sangat tersiksa itu?

Aku jauh loh sekarang...Aku butuh visa dan beasiswa untuk bisa ke sini. Tapi kamu dengan tanpa rasa bersalahnya selalu mengikut kemanapun. Tanpa perlu apply beasiswa, tak usah degdegan tunggu hasil tes TB, juga tak perlu rempong cari akom. Dimana adilnya?

Hey, tak tahukah kamu kepalaku butuh ruang yang tidak ada kamunya. Aku butuh fokus belajar dan konsentrasi untuk urusan lain yang jauuuuh lebih penting.

Berhentilah jadi hantu, kau belum mati, kan? Toh kau juga tak pernah benar2 menawarkan kebersamaan dengan konsep yang ada di kepalaku tentang kita. Nah, sekarang dan selamanya, bisa untuk tidak hadir saat aku sedang mencoba bahagia tanpa ada harapan bodoh menari2 di otak?

Betapa aku tak mengerti selera humor semesta ini. Baru beberapa minggu yang lalu aku dengan leganya merasa badai ini telah usai. Kau penipu! Ku pikir kau benar2 pamit dengan damai. Aku terjerat ketenangan semu.

Lalu kau datang bersama gemuruh, angin dan hujan. Mengejek aku tanpa belas kasih.
Pada langit, pada awan dan pada sinar matahari. Dan seperti tak pernah belajar dari pengalaman, aku menyerah kalah tanpa perlawanan.