Monday, July 16, 2018
aku lupa menghitung sudah berapa ribu kali aku berpura-pura tidak/belum tahu sesuatu yang sedang kau katakan kepadaku, hanya untuk mengangkat egomu. Aku tak suka melihat raut kesal atau jengkel yang kau pasang jika aku bilang aku sudah tahu informasi itu. Yah, aku selemah itu dulu. Mendahulukan perasaanmu. Sadly, you took it for granted.
Sunday, July 15, 2018
Friday, July 13, 2018
Tuesday, July 10, 2018
Monday, July 09, 2018
Friday, July 06, 2018
Hidup memberiku sesuatu yang harus dipelajari beberapa hari ini. Dia mengemasnya bukan dengan kertas kado yang cantik dan pita warna-warni nan indah, yang dikirimkan melalui pos dan diantarkan ke rumah oleh seorang pengantar paket yang ramah dan rupawan. Bukan pula dalam sebuah percakapan hangat di suatu malam yang menyenangkan. Melainkan, semesta menghadirkannya dalam wujud penghianatan.
Sehingga bukan bahagia yang kurasakan, namun sakit. Jadi begini ya rasanya dihianati? Ini pengalaman yang asing. Aku tak punya pengalaman bagaimana harus mengatasinya dengan baik.
Saturday, June 30, 2018
People come, people go
So, our companionship is about to meet its end. Let’s celebrate it. As separation does not always mean sadness and misery. People come and go in our life for some reasons. To help us learn, to prepare us to meet our ultimate destiny. So, put a sweetest smile on our faces, mate. May your next path of life will be full of joy and blessing. Mine too, I hope 😁
Sunday, November 19, 2017
Hallo untuk "kamu" yang lain
Teh Diah sedang menunduk khusyuk pada bacaan yang sedang berusaha ia pahami. Di luar burung terbang riuh rendah. Aku sendiri sedang pe-we di atas kasur, mendekam diatas selimut, dengan laptop di pangkuan. Jendela kamar sedikit terbuka, kami membiarkannya begitu karena tak sanggup menahan hawa pengap pemanas ruangan. Tapi juga tak sanggup membukanya lebar-lebar karena angin musim gugur bisa membuat tubuh gemetar saking dinginnya.
Di telingaku, Danilla menyanyikan 'terpaut oleh waktu." Dan seketika membuatku ingin menyapamu. Iya, kali ini "kamu" yang bukan "dia." Dia sedang berusaha aku lupakan saat ini. Jadi, aku memanfaatkan ingatan tentang "kamu" untuk mengaburkan kenangan-kenangan dengan "dia", yang sekarang sudah harus kuhapus dari ingatan. Aku juga memakai "dia" untuk mengusir "kamu" dari hatiku waktu itu. Jadi, impas lah ya... So, hallo, "kamu"...
Di telingaku, Danilla menyanyikan 'terpaut oleh waktu." Dan seketika membuatku ingin menyapamu. Iya, kali ini "kamu" yang bukan "dia." Dia sedang berusaha aku lupakan saat ini. Jadi, aku memanfaatkan ingatan tentang "kamu" untuk mengaburkan kenangan-kenangan dengan "dia", yang sekarang sudah harus kuhapus dari ingatan. Aku juga memakai "dia" untuk mengusir "kamu" dari hatiku waktu itu. Jadi, impas lah ya... So, hallo, "kamu"...
Friday, October 13, 2017
A man from this morning
Hey You,
This is another story for you. I met a man on my way to campus this morning. We were waiting for the same bus that would bring us to the center. He was the first who smiled to open the convo. I couldn't help smiling when he said "waiting,, waiting and waitiiing.." Then we talked about Brist exhilaratery. Our bus came in view secs later. He went upstair and I went to the ground desk. I intended to do so as.., well you know me, I am not a social butterfly, so talking with stranger more than 5 minutes was a bit unpleasant for me. Exception was with you for the first time, of course. That's why I didnt go upstair like I used to.
I jumped out of the bus in the Bond Street. It was unintentional as I planned to stop in the Ruppert Street so I could catch the Bus number 9 to bring me to ASSL. Then, in front of the St. Peter Hospice's display window, a windbreaker catched my eyes, so I came in. Woow... You know what I got there? Definitely treasure, hehehe. I bought a gorgeous, pink, and relatively new Mark & Spencer windberaker for winter season with only £12. I was lucky, wasn't I? After I paid it, I went to the Ruppert Street. And there we met again. By we, I mean the man and I.
Like before, he was the one smiling first.
"Hey, it's you again!" he screamed. I smiled back (and laughed a bit)
"Yeah I know, hahaha".
"Working or going to college?"
"the second one"
"Oh alright!!, number one, two, three, four, eight?" he suggested
"Nine!" I heard myself saying that.
"Mine is eight. I am Rob, BTW I am a chef"
"Hi, Rob, Me is Ririn. And wow.. chef's cool. What food you cook?"
"Anything" He answered proudly. "I could definitely make delicious food. I have magician hands" He continued.
"yeah, I can see that"
The convo went on and on. His bus came and we separated once again. Before he entered the bus, he said "we'll meet again, I bet. It's our destiny" and all I could do was laughing.
Well, that's what I want to share with you today. Please text me when you have time.
Or when you miss me.
Thursday, October 12, 2017
Some things are better remain unspoken
Aku selalu berfikir, bahwa banyak hal-hal yang sebaiknya tak kuketahui saja dalam hidup ini. Sepertinya, hidupku mungkin akan lebih tenang dengan begitu. Tak perlu ada prejudice dalam berinteraksi dengan orang lain karena kepalaku sebelumnya sudah dipenuhi dengan pengetahuan tentang si A atau si B yang begini dan begitu. Aku ingin pikiranku bisa bebas dari semua itu. Sehingga aku hanya bisa melihat sisi baiknya saja dan mungkin percaya pada sikap baik yang sedang si A atau si B ini ingin tunjukkan. Apalagi, sebenarnya aku bukan manusia super kepo dengan kehidupan orang lain.
Tetapi, hidup mengajarkan bahwa ada beberapa keadaan yang sulit kita hindari. Mengetahui suatu rahasia salah satunya. Rahasia yang lumayan kelam, sayangnya. Sehingga penilaian kita dan perlakuan kita akan berbeda kepada seseorang yang kita ketahui rahasianya itu. Apapun yang coba dia citrakan akan gagal menarik simpati kita. Pada saat yang sama, kita juga harus berpura-pura bahwa kita tidak tahu apa-apa. Menurutku itu adalah hal yang sangat melelahkan sekaligus menjijikkan.
Tapi, seperti yang kubilang tadi, ada banyak hal yang tak bisa dihindari seiring perjalanan menjadi dewasa. Mungkin aku hanya harus menata kembali sikap dan pola pikirku dalam memandang sesuatu. Tidak ada yang benar-benar hitam dan tidak ada yang benar-benar putih. Wilayah abu-abu itu nyata adanya. Semua orang datang dengan sejarah dan latar belakangnya masing-masing. Ada hal yang menjadi alasan mengapa seseorang melakukan ini dan itu. Mungkin juga itu mereka lakukan setelah menghadapi dilema dengan dirinya sendiri. Perang dengan norma dan nilai-nilainya sendiri. And who am I to judge?
Who the hell am I to judge?
Tuesday, October 10, 2017
Kehangatan di dalam bus
![]() |
| Wills Memorial Building |
Hey,
Seperti janjiku, aku akan bercerita tentang Bristol hari ini. Maaf, tidak kusampaikan lewat WA atau DM di Instagram seperti yang biasa kita lakukan. Simply, karena aku rindu menulis di sini.
Jadi, tadi, di bus dalam bus yang akan mengantarku ke Ruppert Street, ada suatu kejadian yang lumayan membuat hatiku menghangat. Ada salah seorang penumpang yang tak sengaja menumpahkan hot chocolatenya, yang untungnya sudah tinggal sedikit. Tapi, tetap saja, tumpahan itu mengotori lantai dan terancam mengalir kemana-mana seiring pergerakan bus yang kadang tidak mulus. Tampak wanita yang menumpahkan minumannya itu sedikit panik. Dia sempat diam, mungkin bingung apa yang harus dilakukan. Sempat juga melirik kiri dan kanan dengan tatapan meminta maaf dan meminta untuk tidak dihakimi oleh penumpang yang lain. Aku sebenarnya merutuk dalam hati karena aku tumben-tumbennya lupa membawa tissue. Padahal, jika aku bawa, mungkin bisa dipakai untuk membantu. Wanita yang menumpahkan minuman dan aku menatap ngeri aliran cairan yang mulai melebar ke mana-mana.
Lalu, tibalah saat yang menghangatkan hatiku itu. Seorang wanita tua, dengan tersenyum memberikan tissue yang sudah dilebar-lebarkannya untuk membantu mengelap tumpahan coklat di lantai bus. Menyusul, beberapa penumpang, yang muda dan remaja, bangkit menawarkan beberapa kertas yang bisa dipakai untuk mengeringkan tumpahan di lantai. Denganw ajam penuh senyum dan empati, tentu saja. Dalam sekejab, masalah bisa teratasi dan sang wanita tadi pun terlihat sangat lega. Dia tak henti mengucapkan terimakasih.
Setelah itu, dalam tiga menit aku merenung sendiri. Peristiwa tadi udah usai dan bekasnya seakan tak tampak lagi, karena setelah masalah beres, semua kembali pada apa yang tadi tengah mereka lalukan sebelum kejadian tumpahnya coklat hangat itu. Tapi, momen awet dalam hatiku, bahkan hingga saat ini. Aku baru saja disajikan cinta yang menghangatkan. Cinta tanpa kotak-kotak dan sekat. Di negeri yang sering dituduh rasis ini, aku menemukan sisi kemanusiaan yang sudah lama aku cari. Yang menumpahkan coklat tadi adalah wanita asal somalia (menilik pada penampilannya), dan yang mereka yang membantunya adalah warga asli Inggris. Dalam bus ini, aku tidak melihat tuduhan yang membenarkan bahwa warga kulit putih agak sedikit anti dengan mereka yang kulitnya berbeda warna. Dan aku suka. Aku suka dunia yang dipenuhi dengan cinta. Cinta yang tidak membedakan manusia.
Ah, kalaulah kamu ada di sini, mungkin kita akan membahas ini sedikit lebih lama sambil menyeruput kopi di kedai favorit kita. Lalu, percakapan kita akan melebar kemana-mana, tertawa dan saling menggoda. Tapi kau tidak di sini, sayang sekali.
Friday, October 06, 2017
Menuju Desember
Pada dedaunan yang mulai memerah,
Lalu kemudian berguguran...
Pada angin yang kian dingin,
Menyapa sampai pelosok sendi,
Pada langit yang tak selalu biru,
Kebanyakan abu-abu belakangan ini...
Kukabarkan usia perpisahan kita,
yang kian menjadi sempit setiap harinya.
Desember yang kutunggu
Saat aku bisa meneggelamkan diri.
Pada senyum,
yang selalu lebih dulu hadir di matamu.
Bristol,
Oct ‘17.
Wednesday, September 13, 2017
![]() |
I can’t wait for the day that life makes sense – some days I understand why certain things happened and others I’m not so sure, but all I know is that somehow we’ll connect the dots and someday we’ll complete the puzzle, until then, we have to learn how to live our lives without trying to understand it and we have to learn how to be comfortable with the irony and uncertainty of life; otherwise we’ll lose our common sense trying to make sense of the life we’re living.
~Rania Naim~
Wednesday, September 06, 2017
Perahuku, yang terbuat dari kertas itu, yang warnanya hitam itu, yang dulu kubuat saat sedang mengingatmu, yang lalu kutempel pada cermin di kamarku di Deans, yang tempelannya pake selotip, yang pernah hampir lepas tapi kurekatkan lagi lebih kuat, kini berlayar di tempat yang baru.
Perjalanan kali ini, mungkin tidak sendiri. Mungkin.
Perjalanan kali ini, mungkin tidak sendiri. Mungkin.
Subscribe to:
Posts (Atom)




