I am watching you staring at your screen right now.
Matamu terasa perih menahan bulir yang coba kau tahan, juga sesak di dadamu yang kian terasa saat kau mencoba mengambil waktu dan mencoba jujur pada apa yang hatimu sedang rasakan.
Tidak apa, ruangan ini kosong kok, tidak ada yang bakal bertanya.
Nangis aja.
Wajar.
Ketika perjuangan delapan tahun itu terus menerus terputar dalam pikiranmu, ketika sesal dan kecewa tidak pernah benar-benar pergi dari hatimu, rasanya cukup wajar kok menangis lagi dan lagi.
Ingat kata Mbak Erna, psikolog kamu, tidak ada batas jatah kok untuk tergugu dalam duka.
Jadi, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri ketika merasakan ada kepahitan dan kesedihan ketika hendak mulai lagi dari awal. Toh kamu bukan robot yang tidak punya perasaan.
Peluk aja segala perasaan itu dengan pebuh kesadaran.
Hargai keberanianmu untuk memulai dari awal lagi.
Walau gemetar ketakutan, walau seringkali dengan amarah yang membakar, sedih yang menggigit, tidak apa.
Kamu bisa sampai sini aja udah hebat.
Tuhan tidak pernah salah menulis takdir. Tugasmu hanya menjalani, bukan menggugat. Tidak harus dipahami maknaya sekarang.
Tapi, take a leap of faith.
Percaya Tuhan tidak pernah mendzolimi hambaNya.
Yuk, mulai lagi.
Makassar,
RS
No comments:
Post a Comment