Thursday, April 27, 2017

Berbahagialah, Irna dan Hijir.

Kalau tidak keliru, sekitar tiga bulan yang lalu, salah seorang sahabat, melalui WA, mengabarkan berita gembira bahwa ia akan segera mengakhiri masa lajang. Adalah Irna, nama sahabat saya itu. Tentu saja, saya sangat senang dan turut berbahagia untuknya. Sebenarnya beberapa hari sebelum dia memberitahu saya secara pribadi, di grup kami, teman-teman sudah lumayan kepo karena Irna sempat menanyakan beberapa urusan mengenai persiapan pernihakan dan segala printilannya. Semuanya rame-rame menerka-nerka yang dibalas Irna dengan sikap super misterius atau diam seribu bahasa, hehehhe. Seperti biasa, aku memilih diam dan menyimak. Jika berhubungan dengan urusan yang agak privat, meski kadang kepo, saya memilih untuk tidak bertanya kepada sahabat-sahabat saya. Alih-alih, saya akan menunggu dia yang akan datang sendiri berbagi kabar, atau menghargai pilihannya untuk tidak berbagi jika saya dinilainya bukan orang yang nyaman atau yang tepat untuk diajak ngobrol.

Lalu, tibalah kabar itu dari yang bersangkutan langsung.

Irna: "Sist, insyaallah saya nikah tanggal 22 April. Doakan lancar nah"
me: "Hwaaaa.. alhamdulillah... Sama siapa???"
Irna: "Datang makanya, biar dikenalin :P"
Me: "hwalaaaah.... aku kenal tak?"
Irna: "kenal. Tebak siapa!"
Me: "Hijir? Ucul? Daniel? Risal Tahang?"
Irna:" ahaahah.. ngabsen, buk. Hijir, sist"
me: "kyaaa... I knew itttt"

Kami terus berbincak dalam suasana suka cita. Dia meminta saya untuk tidak memberitahu siapapun dulu. Saya merasa terharu sekaligus senang. Saya termasuk dari beberapa orang pertama yang diberitahu. Duh, jadi merasa sedikit istimewa, hehehe.. Dan bagian yang agak seru adalah ketika beberapa teman yang sukses dibuat kepo sama Irna sampe bela-belain menghubungi saya, hahaha. Karena sudah diwanti-wanti untuk tutup mulut, saya pun tidak memberitahu kalau saya sudah tahu lama dan malah ikut mengompori dia buat cari tahu ke yang lain dengan berbagai cara. Maaf ya, Ceng, bukan bermaksud ikut ngerjain tapi ini amanah dari yang punya hajat, hehhe.

Taken from Fina's Facebook. 

Kalau ada hal yang saya sesali dari kabar ini adalah karena saya tak bisa turut hadir disana menjadi saksi momen bahagia sahabat saya ini. Apalagi, dia dan saya selalu sama-sama berangan-angan dipertemukan dengan seseorang yang bisa saling berbagi, menguatkan dan menyempurnakan dalam menjalani kehidupan ini. Rupanya Allah berketatapan bahwa diantara kami berdua, Irnalah yang lebih dulu bertemu dengan pasangan hidupnya, yang dengan setulus hati ko doakan semoga untuk selamanya, aamiin. Hijir, setauku, adalah pria yang baik. Pria yang pantas mendampinginya menjalani suka dan duka dan menggapai surga bersama-sama. Semoga bersamanya, hidup Irna menjadi semakin berwarna dan penuh berkah. Aamiin.

Well, Na.. selamat memasuki babak baru dalam hidupmu, ya... semoga bisa menajdi istri dan ibu yang baik nantinya, selalu bahagia, sejahtera, dan kaya-raya. Maaf tak bisa hadir di sana, memelukmu secara langsung. Tapi percayalah, doaku panjaaaaaaang banget untukmu. Aku sampe nangis loh doainnya, hehehe. Hijir, tolong sahabat aku dijaga sebaik-baiknya. Kamu sangaaaaaat beruntung mendapatkan hatinya. Berbahagialah kalian berdua...

From Bristol with love,,,
Ririn



Thursday, April 20, 2017


Definisi 'cari mati' yang sesungguhnya. Sudahlah, aku memang bego. 

Wednesday, April 19, 2017

After All this Time





Entahlah, saat itu, jiwaku dikepung oleh kilasan memori yang mendobrak ingin keluar. Tentang betapa kita pernah seperti ini, duduk diam tak mengucap kata, tapi kita bisa saling mengerti. Kau selalu punya kualitas itu dalam dirimu, menawarkan kebisuan yang membebaskan. Sesuatu yang belum pernah kutemukan pada orang lain. Mungkin itu sebabnya melepaskanmu menjadi begitu berat. 

Lalu, hatiku memutuskan untuk membebaskan dirinya darimu. Dari semua harapan dan doa yang sepertinya tidak berujung di akhir yang kuimpikan. Maka, dalam sendiri aku mengucapkan selamat tinggal padamu. Semacam ritual yang kulakoni berulang-ulang di waktu silam. Hilanglah dalam damai. Bahagialah untukmu dan untukku.


13 April 2017,
Lausanne, Switzerland

Thursday, April 06, 2017

Setelah 6 Bulan di Bristol

Akhirnya, setelah kurang lebih 6 bulan di sini, menghadiri 4 kelas, mengerjakan 3 essay, membaca reading list yang bejibun, melihat nilai yang sudah keluar, aku bisa bilang kalau aku sedikit demi sedikit menemukan kepercayaan diri kembali sebagai mahasiswa. Alhamdulillah, kecemasan yang mungkin agak berlebihan (tapi sebenarnya jamak dirasakan international students di awal masa perkuliahan) akhirnya perlahan bisa aku kikis. Atau setidaknya aku mulai mahfum bagaimana cara deal dengan semua kecemasan itu. Benarlah kiranya bahwa kuliah di luar negeri (maupun dalam negeri) bukan hanya masalah nambah ilmu tapi juga belajar menaklukkan tantangan (yang kebanyakan berasal dari dalam diri sendiri) dan akhirnya kompromi dengan keadaan.

Tadi adalah hari terakhir kuliah sebelum easter break. Nama unitnya Global Higher Education. Sejauh ini, unit ini yang paling menajdi favorit aku. Sejak awal, aku merasa bahwa readingnya sangat gampang dipahami. Mungkin karena latar belakangku yang bekerja di sebuah universitas, jadi sedikit banyak bisa relate sama pengalaman selama ini. Atau mungkin juga, lebih dari yang berani aku akui, I am getting better in terms of my academic abilities, alhamdulillah. Dulu sebulan sebelum unit di mulai, aku seringkali setress karena dalam usaha memahami maksud bacaan, aku kadang butuh membaca reading yang sama berulang-ulang. Bahkan harus mencari versi bahasa indonesianya agar dapat mengerti dan mengikuti online lecture untuk tema terkait.  Ketika kelas berlangsung, aku akan lebih banyak diam. Selain karena tidak pede dengan kemampuan bahasa inggris yang kurasa masih kurang juga ragu apakah pendapatku benar atau malah salah.




Untungnya, model pembelajaran yang umum terjadi di dalam kelas memungkinkan semua siswa mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan pendapat. Sikap dosen dan teman-teman sekelas sangat membantu aku untuk berani bersuara. Dari pengalamanku selama ini, semua pendapat diapresiasi. No right and wrong answer kata dosenku. Yang beda adalah cara dan sudut pandang kita dalam memahami suatu konsep dan itu sangat wajar terjadi dalam kehidupan akademik. Justru, dengan menyuarakan apa yang kita pahami, bisa membuka wawasan orang lain untuk melihat dari perspektif yang berbeda, yang pada akhirnya memperluas wawasan dan membuat kita semua menjadi lebih bijak dalam memaknai sesuatu karena itu tadi kebenaran tergantung dari sudut mana dan dengan lensa apa kita memahami sesuatu.

Aku merasa sangat positif terlebih setelah mengikuti mata kuliah hari ini. Aku senang ketika aku akhirnya berani keluar dari kecemasanku sendiri. Aku senang ketika teman dan dosen antusias mendengarkan opiniku. Aku senang karena ternyata aku juga bisa. Sama sekali tidak masalah jika kita punya pendapat yang berbeda, selama kita bisa menjelaskan alasannya dari sudut pandang kita. Tak perlu baper kalau ternyata teman kita memiliki penafsiran sendiri yang sangat bertolak belakang dengan pemahaman kita, karena dari situ kita belajar melihat dari sudut kacamata baru. Pengalaman ini membuatku berfikir dengan sistem pendidikan di Indonesia. Menurutku, beginilah seharusnya atmosfir yang ada di ruang-ruang kelas kita. Sekoalh bukan hanya menjadi tempat pertukaran pengetahuan semata antara guru dan siswa atau antara siswa dan siswa, tetapi juga harus bisa mentransformasi pola pikir dan prilaku, memperluas cakrawala, menumbuhkan empati, membangun kepercayaan diri siswa dan memungkinkan siswa bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Well, akhirnya aku menemukan diriku kembali, membuatku melihat dengan jelas alasan mengapa dulu aku ingin kuliah di sini. Alhamdulillah ya Allah atas apa yang terjadi dalam hidupku. Terimakasih telah membuatku menyadari bagaimana mewujudkan mimpiku to become a good lecturer who can bring out the best of their students. Pengalaman yang kudapat di sini sangat berharga. Teruslah terangi langkahku, ya Allah... 

Sunday, April 02, 2017

Essay Break, hehehe

Hallo,

Aku nongol lagi nih. Pening semakin menjadi-jadi saja saat aku memaksa untuk tetap membaca bacaan buat kuliah Selasa nanti sekaligus nyambi ngerjain essay untuk modul yang kemaren. Lucu memang cara otakku bekerja. Saat ngerjain essay bisa sekaligus sambil mikirin si reading juga dan begitupun sebaliknya. Jadinya kapanpun aku lagi mood nulis, maka aku akan berhenti sejenak dari reading dan mulai mengetik beberapa kalimat bahkan paragrap. Tetapi, di sela-sela itu, aku akan teringat reading dan berpalinglah fokusku pada artikel jurnalku. Atau, kalau sudah sangat jenuh dengan keduanya, aku melarikan diri pada hal lain. Yang paling sering sih nge-game, hehehehe

Nah, saat ini aku sedang tidak mood main game. Mataku terasa kering karena terlalu lama terpapar radiasi lappy dan kepala juga semakin pening aja rasanya. Memaksa mata menatap bola-bola warna warni secara intens bisa memperburuk keadaan.  Maka, aku memilih memejamkan mata sejenak dan lanjut ngeblog (ini juga kan kena radiasiii, gimana sih, heheh). Hape sengaja aku matiin untuk menghindari distraksi dari segala rupa media sosial. Meskipun bisa sih sebenarnya diakses dari lappy juga, hehehe... Tapi, setidaknya, distratksi hape masih jauh lebih besar dibanding lappy.

Oh ya, tadi juga aku sempat ngecek website calon akomodasi untuk ditinggali di tahun kedua. Sejenis students' shared-flat buat bertiga (aku, Teh Diah dan Daryl). Lumayan bagus (berdasarkan foto-foto yang ada) dan murah sih menurut kami. Sebulan cuman kena kurang lebih £400 all include. Jauuh banget sama harga akom sekarang yang £675 per bulannya. Lumayan kan beda £275, bok. Kami memang berencana nyari yang lebih murah sih pas tahun kedua. Selain pengen bisa nabung, kami juga kebeneran sangat doyan main dan jajan hehehe.. jadi dengan selisih segitu tiap bulannya, bisa banget lah ya bikin goal "Menuju Ririn Kaya dan Bahagia 2020" wkwkwk. Tentulah hunting akom tak afdol kalo belum viewing. Sebenarnya, kemaren Daryl sempat bilang kalo urusan viewing2 biar dia aja. Tapi, dia belum sempat karena keburu pulang Indo hari ini,, hiks. Jadilah urusan ini diambil alih olehku dan Teh Diah. Aku sudah buat appointment untuk viewing TKP hari Kamis jam 5 Sore, pas kuliah kami selesai. Semoga cocok deh. Malas banget sebenarnya sama urusan beginian. Tapi HARUS.







Semua foto ini diambil dari
http://www.bristolsulettings.co.uk/properties/property/5864618-west-street-bedminster-bristol

Sebenarnya ya, aku lebih prefer untuk tinggal sendiri sih ketimbang shared-flat begini. Why? Karena aku tuh orangnya sangat moody dan kadang agak psycho anti sosial untuk saat-saat tertentu. Kedua temanku ini tak diragukan lagi kebaikan hatinya. Tapiiiii... justru itu yang membuatku agak berat sebenarnya. Aku takut ga bisa membalas dengan kebaikan yang sama. Apalagi sama Teh Diah yang pembersih, yang teratur, yang pinter masak, yang disiplin. Sedangkan akuuu??? aku yang "rantasa", sangat sangat sangat cuek, malas masak, malas beberes, dll. Kan gak enak kalo dianya beberes sementara aku lagi malas. Kalo sendiri kan mo gimana berantakannya kamar aku mah biasa aja. Daaan sudah bukan rahasia lagi, kalo sesama cewek tuh suka rada-rada sensi. Hufft gimana dooong??? Kalo sama Daryl aku belum tau juga anaknya gimana. Tapi biasanya sih cowok lebih cuek ya, jadi mungkin lebih agak bearable lah. Tapi bisa jadi juga sebailknya. Konon semakin dekat kita dengan seseorang, semakin terlihatlah kekurangannya. Ada yang bisa kita tolerir dan ada juga yang tidak. Dalam hal ini, aku bukan merisaukan kekurangan teman-temanku ini sih, tapi lebih kepada beberapa kebiasaan burukku yang mungkin membuat mereka tidak nyaman. Huft 1000 kali. lalu mengapa aku mau? Pertama, aku gak enak karena sudah diajakin beberapa kali tapi nolak terus (kalo nolak lagi kok ya kayak songong bgt aku ini). Kedua, gak mungkin selamanya menghindari hidup dengan orang lain kan? Kalo nikah kan ntar mau tak mau harus hidup sama pasangan yang pasti memiliki banyak perbedaan juga sama pribadiku. Nah untuk itu, aku niatnya setahun berbagi flat itu sebagai latihan hidup berkompromi dan saling mengalah dengan orang lain. Semoga lancar jaya,, aamiin.

Hokelah, cukup sudah escapinnya. Saatnya kembali ke dunia nyata. Essay, reading, come to mamahhhh...

Simply Be Thankful

It's 22.08. I am still in the Senate House with my journal articles on my lap. I am a bit sleepy and tired, trying to understand what this reading is about. Oh, I am feeling dizzy. Inhale... Exhale... "It's OK", I said repeatedly to myself. "Be thankful, Ririn for your dream to study abroad has been granted now, in the very place on earth you wished you would stay". Yeah, I should've known that it won't be easy but hey, you're stronger that you think. Just do it. Just finish what you have started. In the end, everything is going to be OK. 

Ganbatteeeee.... hosh..hosh...

Wednesday, March 29, 2017

Distractions while (trying) finishing my essay...

Hai..hai..

Jam digital di lappy menunjukkan pukul 18:43 waktu Bristol. Artinya, sudah kurang lebih hampir empat jam saya di Senate House ini dengan niat yang suci mulia hendak menyelesaikan essay karena oh karena hilal deadline sudah sangaaaaat dekat. Well, sebenarnya saya tipe orang yang agak susah mengerjakan sesuatu jika deadlinenya belum mepet-mepet amat. By saying "mepet" I mean 24 hours before submitting, yaaaa... Dan deadline essayku kali ini adalah 11 April. Masih lamaaaa untuk ukuranku yang biasanya. Tapi kali ini mau tidak mau harus diselesaikan secepatnya karena ada kuliah lagi tanggal 3,4,5 April, dan tanggal 7nya Sukma, teman dari Kendari yang kuliah di Exeter, akan berkunjung ke Bristol. Kemudian pada tanggal 10 April aku dan beberapa Deans Squad akan ada Euro trip ke empat negara: Prancis, Swiss, Italia dan Belanda. Soooo, mau tak mau tugas ini harus sudah selesai besok kalo menurutku. Soalnya kan untuk kuliah yang tanggal 3, 4, 5 itu aku harus banget baca reading list dong. Kelasnya sih audit only, tapi ya tetep gak mungkin juga gak baca.

Nah, dengan kondisi waktu yang sudah sangat-sangat darurat ini, harusnya panic moodku sudah bangkit dong sekarang, harusnya dia saat ini sudah mengusir monyet procrastinator yang dengan bawelnya masih berkuasa dalam sistem kerja otakku. Tapi..tapi..tapi.. bukannya fokus ngerjain essay ato baca artikel terkait eh akunya malah baca yang lain. Aku blogwalking dong dari sejam yang lalu. Dari intip-intip blog teman yang ada di list blogku, sampailah aku pada blognya Mbak Flo yang menceritakan hasil reviewnya tentang sebuah wedding organizer pas dia nikah. Aku akhir-akhir ini jarang banget mampir di blog jadi gak tau kalo Mbak Flo ternyata udah nikah aja. Maka, kepolah aku pada beberapa postingannya yang terdahulu. Apalagi kalo bukan kepoin proses dia akhirnya memutuskan menikah, hehehe... But, ternyata si Mbake gak nyeritain proses itu di blognya. Disimpan sendiri kali yee biar lebih privat. Setelah dari lamannya Mbak Flo aku mampir ke "rumah"nya Pak Made Andi, yang dalam postingan terakhirnya, bercerita tentang hari raya Nyepi yang dijalaninya. Trus ke blognya Maknyak, Nope, ke Jeng Irna, dll. Blogwalking ini jadinya mengundangku untuk menulis juga (meskipun ga penting dan seharusnya yang aku tulis itu adalah essayku, sodara-sodara!!).

Kupikir ya.. biarlah nulis aja dulu agar "racun-racun" dalam kepala bisa hilang dan yang tersisa tinggal kenangan pikiran yang jernih dan niat agung untung menyelesaikan essay dengan tepat waktu sesuai target. Maka, here I am writing this "syalalalala" kid of tuf, hehehe. Duh gusti, ini kebiasaan kayaknya sudah harus harus HARUS aku rubah deh. Tapi aku bukan tanpa usaha loh ya. Sebelum ini, aku sudah mulai mencicil tulisan demi tulisan. Mulai dari bikin outline, trus nyari bahan, trus mulai nyicil nulis per subsesinya. Tapi,, ya itu, karena susah fokus kalo belum deadline akhirnya sehari hanya bisa dapet 150an kata. Pernah sih pas lagi on banget, tiga jam bisa menghasilkan seribu kata lebih, tapi ya itu, dua hari berikutnya aku balas dendam dengan leyeh-leyeh tak jelas di kosan. Anothher huftness. Aku sudah pernah discuss sama teman akan masalah ini. Aku bilang ke dia kalo sebenarnya salah satu tujuanku kuliah di LN adalah untuk mengubah kebiasaan buruk sistem kebut semalam ini tapi sampe sekarang belum berhasil dan ini sering membuatku setress. Tapi kata dia:

"Well, teh, mungkin pada akhirnya teteh akan berubah perlahan-lahan... tapi mungkin juga enggak dan akhirnya malah bisa berdamai dengan diri teteh sendiri dan mulai menerima bahwa itulah diri teteh. Sistem kerja otak orang beda-beda teh, ada yang harus ngerjain awal waktu banget ada juga yang kayak kita, yang baru bisa kerja pas diakhir waktu. Udah terima ajah. Kita memang begitu. Toh selama ini juga kan ga ada cerita kita ga bisa selesein tepat waktu, ya kan?" (Purawijaya, 2017).
Pulang-pulang aku lamat-lamat memikirkan perkataan si Daryl ini. Iya ada benarnya juga kali ya. Inilah saku dan beginilah cara otakku bekerja. Jadi, mungkin sebaiknya aku mulai harus lebih mengasah skill "cuek"ku terhadap orang-orang yang selalu menuntutku untuk bisa bekerja seperti ritme mereka, yang kayaknya sampai sekarang sangat menyiksa buatku. Karena, setiap orang itu beda-beda. Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri. kalau dipaksakan kasihan dan gak guna juga. Yakan? yakan? Aku sudah coba berkali-kali tapi selalunya tak berhasil. Jadi dari pada setress aku gunakan waktu "tak bisa fokus"ku itu untuk main game atau nonton atau mager to the max sambil memikirkan outline essay yang akan kukerjakan nanti. Hasilnya sih biasanya oke kalau gitu.

Kyaaaaa... leganya habis menuliskan iniii... kayaknya aku bisa fokus deh habis ini negrjain essaynya. Aku berencana nginep di sini malam ini. Karena kalau di kamar, bawaannya pengen tiduran ato main game. Setidaknya, Senate House full malam ini. Para students lagi ngejar deadline juga kayaknya. Soalnya sudah mau easter break, jadi mereka memutuskan menyelesaikan essay mereka agar bisa menikmati liburan dengan maksimal. Well well, kuharap energi dan semangat mereka bisa menular padaku juga, hehehe... okelah,, aku lanjut ngessay lagi yaaa... Doakan bisa kelar dan submit besoknya... byeee

Referensi:
Purawijaya, D. (2017). Percakapan waktu jenguk Daryl yang lagi sakit. Bristol: Flatnya Daryl.

PS: ini tulisan wordcount-nya 813 kata lho. andai bisa ngessay selancar ini yaaa, hehehehe


Tuesday, March 28, 2017

Stories from Yesterday...

Hallo...

Matahari di Bristol hari ini tidak seenak matahari di London kemaren. Aaah akhirnya bisa menikmati London tanpa menggunakan mantel. London sore kemaren begitu cantik dan hangat. Paginya, eh siangnya sempat agak-agak gondok sama om petugas VFS yang keliatannya baik tapi ternyata nyewbhelin. Padahal kantornya juga biasa ajah (kayak klinik bersalin di pustu adek aku di daerah terpenciiiiiiilll di suatu pulau di Sulawesi Tenggara). Padahal padahal padahal,,, ah banyak lah padahalnya, intinya si om ituh bikin syebelll, hehehe. Oh iya, aku sama teman-teman kemaren ke London dalam rangka mengurus visa buat Euro trip April nanti. (Sebenarnya intinya mo riya' masalah ini sih, tapi harus pencitraan jadinya dibuatlah prolog yang panjang, xixixi).

Oh iya, balik ke si Om yang nyebelin itu... sebenarnya dia mungkin biasa aja ya,,, tapi naluri soudzoniah yang telah kurawat baik-baik ini akhirnya membuat aku sempat memikirkan untuk melepas kabel-kabel di komputernya, Belom tau dia sedang berhadapan sama tukang rusuh dari Sulawesi ini, AHAHAHAHHAHA... tapi gajadi deng, karena ada malaikat khuznuzoniawati yang bernama Mury yang selalu mengingatkan untuk jadi anak baik-baik. Maacih Mury..

Kelar urusan dunia di VFS, kami lalu ke Nusa Dua karena Mbak Khay udah lama banget pengen makan di sana. Nyari Nusa Dua ini membutuhkan beberapa kali tawaf karena dikerjain City Mapper yang agak kurang akurat plus skill baca peta kami yang yaaaaah gitulah. Tapi begitu sampai, lelah kami buyar demi melihat makanan indo tersaji secara nyatah di hadapan kami. Akhirnya, proper lunch pemirsah. Kemaren aku juga janjian ketemu Ricky yang mau ambil buku titipan Teh Diah dan jadinya ketemu lah kami di sana. Makan-makan dan ketawa-ketawa rebes, pasukan kami kemudian lanjut ke Museum Sherlock karena Mury fans berat si Sherlock ini dan kemudian ke area center demi membawa Mury ketemu Big Ben untuk pertama kali.

Bahagia setelah temu kangen makanan Indo, hehehe


Dedicated for Tante Agatha Cristie...
Somewhere near Nusa Dua  Indonesian  Resto


Who run the world?? GIIIRLSSS.. 

Mury di sarang penyamun Sir Sherlock

Poto di sini wajib katanya, heheh

Seorang fans Sherlock, heheh


Daaaaaan... yang bikin shock sekaligus miris apa cobaaaa? masa dia bilang Jam Gadang lebih kece di banding BIG Ben. Mury, are you okay??? I mean, ini Big Ben yang di LONDON lohhh Muuur... berikut reka ulangnya:

(ini percakapan waktu masih pagi di bus dari Victoria Coach Station ke kantor VFS)
Mbak Khay: Ini lho, Muur.. tadaaa.. (perlahan-lahan Big Ben nampak dipelupuk mata)
Aku: (Menunggu respon excited Mury...)
Mury: "..... kok lebih keren Jam Gadang ya..?"
Mbak Khay & Aku: "HWAAAAATTTT??? Muryyyyy?

Yah begitulah si Mury ini, gadis super cool dari Melayu. Aku ingat padahal pertama kali liat Big Ben ini noraknya minta ampun. hahaha.. apalagi pas ke sini sama Abdan, heboh to the max. Eh ini anak malah biasa ajah.. *&^%$£@! O. Itu percakapan pas pagi sih diliat dari bus. Mungkin itu kali yaa, penyebabnya. Tapi, heyyyy... masa siiih??

Akhirnya sesampenya di kaki BigBen, aku tetap penasaran dan nanya Mury lagi dong, "eh Mur, serius lebih bagus Jam Gadang dari ini?" trus katanya "...oooh iya sekarang Big Ben bagus deh, Mbak." Tapi kok aku ragu ya,,, mungkin dalam hati kecilnya Jam Gadang tetep lebih bagus, ahahaha (Ratu soudzon). Sore yang cantik sekali kemaren kami habiskan dengan menikmati Sungai Thames sambil nongki-nongki cantik di Pret A Manger dekat situ. Si Arip pesen jus apaaa bgtu yang rasanya lumayan enak. Aku pengen habisin sih sebenarnya kemaren itu jusnya si Arip itu tapi takut dibunuh, wkwkwk.

Very nice afternoon

selpie selpie
cuaca okey senyum okeeyyy



antrian untuk poto di telepon box ini tak pernah sepi

Mb Khay n Mury


gak lagi endorse inih


Jam sudah menunjukkan hampir jam 7pm, langit masih terang sebenarnya (sekarang sudah resmi masuk Spring, jadi siang lebih panjang) tapi tiket kami buat balik Bristol jadwalnya jam 7. Kami pun berjalan menuju bus stop menuju Victoria lewat Westminster Abey. Sepanjang jalan banyak buket bunga yang cantik sebagai tanda berbela sungkawa bagi korban baik yang meninggal dan luka-luka pada teror penabrakan yang dilakukan oleh orang jahat beberapa hari lalu. Hatiku tersentuh pada budaya orang sini dalam berempati. Semoga kekerasan dan teror tidak terjadi lagi deh di muka bumi. Kami menunggu bus datang sambil foto-foto. Dan seperti biasa, poto-poto Arip selalu ketjeh. Mata potograper emang beda si yaa,,

Beberapa menit kemudian bus kami datang dan mengantar kami menuju Vicoria Coach Station untuk balik lagi ke Bristol. Sebenarnya, nyampe Bristol masih ada satu lagi event istimewa yaitu surprise party untuk adik bungsunya Deans Squad. Tapi ceritanya nanti aja, di postingan yang spesyal untuk si Andri.

Demikianlah.. akhirnya bisa nulis lagi, hehehe
Eh ini poto2nya yaaa....





Monday, March 06, 2017

Still falling for you.
Ellie Goulding yang nyanyikan
Hatiku yang mengiyakan.
Kebodohan purba. 

Thursday, March 02, 2017

Is it ok to cry now? 
Tap tap tap
Ketergesagesaan berderap datang dan pergi. Masing-masing memikul diam yang ribut. Ada waktu yang tak berhenti mengejek. Ada gumam sayup yang mengintimidasi. Ada aku bertoleh tak henti. Ada aku jadi pecundang. Menunggu pada tangga di pojokan. 

Wednesday, February 01, 2017

&*%$£@

Kursor yang berkedap-kedip ini seakan mengejekku. "Mau menambah daftar draft lagi, Jeng?' ejeknya. "We'll see" kataku pendek. Entahlah aku malas menghitung sudah berapa tulisan yang kubiarkan tetap berstatus draft di blog ini. Terakhir ketika aku ingin membuat refleksi di hari bertambahnya umurku menjadi 32 tahun. Sudah ada beberapa paragraf sebenarnya tapi apa daya, swinging-moodku memang sudah berada pada level akut. Tiba-tiba saja aku kehilangan minat untuk melanjutkan menulis. Entah apa sebabnya. 

Lalu aku pun mulai mencari-cari alasan. Essay lah, reading list lah. Walau ku tahu pasti bukan itu alasannya. Kalau mau jujur, mungkin aku sudah kehilangan muse untuk menulis. Aku mulai berfikir hidupku mungkin terlalu biasa untuk diceritakan. Itu alasan mati sebenarnya. Karena aku tahu beberapa orang dengan terang-terangan ingin menjalani hidup yang kujalani sekarang dan akan dengan bahagia menuliskannya untuk kemudian dikenang dan dibanggakan kepada anak cucu kalau umur panjang. 

Hufftttt... bahkan untuk melanjutkan postingan ini pun rasanya aku kehilangan minat. setiap selesai satu paragraf, kursor kubiarkan berkedap-kedip sendiri beberapa menit lalu kutinggal sendiri untuk membuat teh dan main game. Salah satu resolusi ulang tahun untuk mulai menulis lagi kayaknya akan menjadi sekedar resolusi lagi kalau begini ceritanya. 

No. Tulisan ini tak akan kubiarkan bergabung menambah panjangnya draft di blog ini. Kuposting sajalah siapa tahu bisa membuka saluran minat menulisku yang sudah lama sekali tersumbat. Sangat berharap bakal sering lagi menulis seperti dulu. Semoga.

Monday, October 03, 2016

Homesick

Assalamualaikum wr. wb.

Harusnya aku tau dari awal kalau salah ngomong itu bisa bahaya. Apalagi kalau ucapan itu ada unsur sombongnya.

Jadi, malam kemaren,  geng Dean's plus geng Langford lagi kumpul buat dinner bareng di dapurku. Seperti biasa, kami ngobrol apa aja,  lompat dari topik satu ke topik yang lain tanpa jelas transisional signalnya, sampai akhirnya tetiba kami sudah membahas tentang homesick.

Risna, Teh Diah,  Mb Khaya, sampe Rifki dan Arief ternyata sudah ngalamin homesick sejak kurang dari sebulan tinggal di sini. Hanya aku dan Yeyes aja yang dengan sombongnya ngaku kalau belum kena homesick sama sekali. Kami bahkan berhigh-five dengan tanpa dosanya di depan teman-teman kami.

Lalu,  hari ini pun berjalan seperti biasa. Langit biru cerah membuatku semangat keluar flat untuk menikmati hari sekaligus jadi guide buat Mb Mury yang mau ke kampus buat ngurus ini itu terkait registrasi ulangnya di kampus. Sebelum keluar,  aku pun sudah sarapan sehat,  mandi,  dan dandan cantik jadi sepertinya tidak ada alasan untuk tetiba baper rindu rumah.

Pulang dari kampus,  setelah maksi dan solat, kok tiba-tiba ngantuk. Jadilah, aku ijin Mb Mury mo bobo cantik sejenak. Gak ada mimpi aneh-aneh juga tapi kok pas bangun-bangun kok langsung sedih aja. Ingat orang rumah, ingat kamar, ingin manja-manja sama mama, ingin gigit ponakan, ingin ngasih makan ikannya bapak, ingin ngeteh di teras sambil makan gorengan.. Hwaaaaaa...  I am feeling blueeee.. Air mataku kok jadi sangat down to earth gini yak..? Hiks hiks hiks

Oh ya,  ada satu hal lagi yang menyiksa,  aku gak bisa melampiaskannya dengan meraung-raung atau sesenggukan seperti biasanya. Ada Mb Mury lagi ngetik. Mana kalau nangis kan pasti idung banjir kan? Tapi demi gengsi ku tahan juga dan itu sangat tidaaaak menyenangkan. O God,  aku rindu rumah.

Okelah, pelajarannya adalah,  nanti ga boleh takabur lagi bahkan untuk hal yang keliatannya sepele. Bersyukur karena Allah masih mau mengingatkan sehingga tidak keterusan.. Well,  Mama, Papa,  Amam,  dan semuanya sehat2 dan habagia terus di sana ya... Nanti kalo video callan kita bahas yang senang2 dan yang lucu 2 aja. Melihat senyum dan tawa kalian itu bisa mengisi energiku selama seminggu,  lho..

From Bristol with love..



Thursday, September 15, 2016

Transit

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Saya di Schiphol International Airport sekarang, menanti flight selanjutnya menunu Bristol, dan saya sedih.  Lagi baper ingat keluarga tersayang di Kendari

Semoga cepat pulih. Aamiin. Sekian.

Monday, January 11, 2016

Damai

Assalaualaikum.wr.wb.

Waah, sudah ganti tahun aja ya, tau-tau mama sudah meyingkirkan kalender tahun 2015 menjadi 2016. Time flies for sure. Tak seperti biasa, tahun ini saya tidak membuat resolusi, setahun kemarin emosi dan tenaga saya terkuras dengan perburuan beasiswa yang ujung-ujungnya terhambat waktu pengurusan visa. Eh, tunggu, cerita tentang ini sebenarnya ada di draft, tapi belum selese-selese soalnya tiap kali mau cerita bawaannya baper mulu sayah, hehehehe

Ya begitulah, karena sudah jor-joran setahun kemarin, saya berniat selow aja tahun ini. Menjalani hidup sesuai alur yang ditetapkan. Ini berlaku untuk semuanya, baik itu urusan sekolah, karir dan jodoh. Well, bicara tentang jodoh, pertengahan 2015 kemaren doa saya terkabul dong. Jadi setelah berabad-abad tenggelam dalam drama he loves me, he loves me not?, yang membuat saya stuck tidak bisa melihat orang lain selain dia, saya akhirnya capek dan menyerahkan semuanya ke Tuhan. Saya berdoa siang malam, kalo bukan dia orangnya, please, please, please singkirkan dia dari hatiku yang suci ini, *tsaaah....  tapi kalau dia memang untuk saya, maka mudahkan dan perjelas semuanya. Doa ini memang klasik, tapi kalo dipanjatkan dengan sunguh-sunguh, dari hati yang terdalam, bisa sangat menenangkan, lho. Artinya, kalau pun memang tidak seperti yang diharapkan, kita tidak akan terlalu kecewa, karena ini Tuhan loh yang menjawab, so pasti yang terbaik.

Nah, makanya ketika orang ini akhirnya tiba-tiba menghilang, literally... saya bukannya sedih ato duduk tergugu di pojok kamar, yang ada malah perasaan legaaaaa... Secara yaaa, capek kali bertanya-tanya sendiri tanpa kejelasan. Sepertinya perasaan saya menjadi rngan tanpa beban. Sejak itu, saya menjadi lebih santai dan nrimo menjalani hidup. Apapun yang terjadi itulah yang harus dijalani sebaik-baiknya. Benarlah para tetua pernah berkata, ikhlaskan urusanmu pada Allah, dan hatimu akan tenang. Sekian

Wednesday, December 02, 2015

G

Assalamualaikum.wr.wb.


Beberapa waktu yang lalu, iseng buka FB, lalu, di timeline nemu status seseorang dari jaman SMA yang sempat sedikit dekat. Bukan statusnya yang bikin penasaran, tapi lebih kepada penampakannya yang menurutku tiba-tiba (atau mungkin sayanya saja yang memang jarang intip FB lagi, :P). Jadi, secara otomatis, saya mengklik nama seseorang itu dan menuju wallnya dia.
Entahlah, tapi kok kepoin semua statusnya plus ngulik foto-fotonya bikin saya jadi baper, hehehehe. Dia, sejauh ini ternyata telah bermetarmofosis, dari pemuda yang agak “badung” menjadi pria yang jauh lebih dewasa dan berkharisma. Saya sampai pangling. Disini, saya semakin menyadari, jangan pernah menjudge seseorang dengan kejam, karena kita semua butuh proses untuk menjadi semakin baik dari hari ke hari. 

Saya ingat, bagaimana suka duka yang dialami orang ini. Dalam usianya yang sangat muda waktu itu, dia telah mengalami peristiwa yang menurutku lumayan pahit. Dalam beberapa bagian dari part itu, saya ada disana, turut beriringan dan memberi sedikit kekuatan. Kemudian perjalanan hidup menghamparkan jalan kami masing-masing, aku memilih pathku sendiri dia pun begitu. Dia dengan sengaja melanjutkan kuliah di Jawa dan saya tetap di Kendari. Pengalaman tidak menyenangkan yang dialaminya membuatnya memilih untuk tidak kembali ke kota kami dalam waktu yang lama. Seingatku, beberapa tahun dia bahkan tidak pulang untuk merayakan lebaran di Kendari.
 
Begitulah, waktu terus berputar tanpa terasa. Kesibukan dan beragam cerita baru mulai mewarnai lembar-lembar perjalanan hidupku. Kenangan tentang orang ini kian memudar seiring waktu. Sampai beberapa hari kemarin, saya mendapatinya di timeline FB. Ketika menelusuri wallnya, saya sempat tertegun lama. Terharu juga sebenarnya. Yah, dia telah berhasil berdamai dengan dirinya. Dia bangkit dengan gagah berani menjemput masa depan yang lebih baik. Pengalaman hidupnya telah membuat dia menjadi lebih kuat dan lebih dewasa. Dimataku dia telah menjelma menjadi pria yang sangat berkharisma.

Dari wall kamu, saya tahu kamu berada di Kendari saat ini. Let’s see G, apakah hidup akan mengantar kita pada pertemuan yang manis atau tidak… saya sih berharap begitu, bisa menghabiskan sore sebagai seorang sahabat lama, menyeruput teh dan berbagi cerita. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi sekedar mengingatkan bahwa kita sebenarnya kuat menghadapi apapun.  Seperti kamu yang tidak menyerah.

Nah, terimakasih untuk tidak menyerah saat itu, G. Karena, saat ini entah bagaimana saya seperti dititik terlemah dan terjenuh dalam hidupku. Kehadiranmu yang tidak terduga membatk semangat untuk berjuang lagi…

Thursday, August 27, 2015

Road to Bristol

Assalamualaikum.wr.wb

Suasana di kantorku memanas. Biasalah, politik. Saya, seperti biasa memilih untuk tidak ambil pusing. Malas saja untuk ikut terseret arus debat tak berkesudahan. Masing-masing pihak merasa benar sendiri. Saya muak. Untunglah saya sudah tidak perlu lagi terlalu bersinggungan dengan hal itu sejak saya mengundurkan diri dari posisi sekertaris KUI.

Pada saat bersamaan, saya masih dipusingkan segala macam tetek bengek berangkat ke UK untuk lanjut sekolah. Saat ini saya sementara menyiapkan dokumen yang dibutuhkan dalam aplikasi visa student (Tier 4). Letter of Sponsorship (LoS) dari LPDP dan CAS dari universitas sudah saya dapatkan. Saya juga sudah apply untuk university accommodation di Bristol. Untuk tes TB, saya berencana ke Jakarta Selasa depan.

Yang membuat saya galau adalah, permohonan pindah universitas saya, dari University of Aberdeen ke University of Bristol, belum diapprove oleh LPDP. Meski kata teman-teman, peluang dikabulkannya lumayan besar karena ranking uni tujuan yang baru jauh diatas uni yang lama. Namun, tetap saja ketidakpastian semacam ini sering membuat sensasi tak menyenangkan di perut. Pertanyaan tentang bagaimana jika saya sudah apply visa, sudah bayar IHS tapi ujung-ujungnya perpindahan ini tidak dikabulkan? Di sisi lain, jika saya harus menunggu persetujuan LPDP dulu, visa saya kemungkinan tidak terkejar. Duh.

Hal lain yang membuat saya berfikir adalah jarak Kendari-Jakarta yang harus ditempuh via pesawat yang tiketnya tentu tidak murah. Seandainya semuanya sudah jelas, saya akan sangat ringan hati memesan tiket dari sekarang. Yeah so pasti kalau pesan tiketnya sehari sebelumnya pasti akan sangat muahal. Rasanya sayang jika saya sudah memesan tiket untuk hari Selasa misalnya, namun pada hari Senin ternyata pihak LPDP mengirimkan penolakan pindah melalui email. Saya seperti berjudi saja rasanya.


Maka, jadilah sepanjang hari saya kelihatan tidak fokus. Kepala saya sibuk mengkalkulasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana dampaknya pada rencana pengurusan visa saya. Teman-teman bertanya, saya jawab asal saja. Saya seolah hilang dalam dunia saya sendiri. Pada saat teman-teman saya sibuk "bergundjing" masalah politik yang terus memanas di kantor, saya hanya sibuk browsing soal akomodasi, dan hal-hal terkait persiapan keberangkatan yang lain. Maaf ya, Kawans, selain karena memang politik tidak pernah menjadi my interest, saat ini fikiran saya memang sedang ruwet, hehehehe.

Finally, saat saya menulis ini, saya sampai pada keputusan untuk tetap melanjutkan aplikasi visa saya apapun kemungkinannya. Saya tentu berharap pihak LPDP berkenan mengabulkan permohonan pindah saya, dengan demikian kemungkinan visa terkejar dalam waktu yang semakin singkat ini semakin besar. Namun, jika pun tidak, setidaknya saya sudah berusaha. Uang bisa dicari lagi, kataku membujuk diri sendiri. Setidaknya pemikiran seperti ini masih bisa saya tolerir dibanding menunda aplikasi karena menunggu keputusan LPDP (kalau akhirnya dikabulkan), yang akhirnya membuat saya tidak bisa mengejar aplikasi visa saya.

Well, kembali lagi saya bismillah sajalah. Maju terus sampai habis semua usaha, insyaallah hasil tidak akan menghianati usaha, katanya. Kalaupun tidak seperti yang saya harapkan, saya percaya Tuhan punya rencana yang terbaik...


Wednesday, August 26, 2015

Being Blue

Assalamualaikum.wr.wb.

Seharusnya saat ini saya sementara menghubungi PPI di Bristol, menyangkut urusan akomodasi saya. Planning keberangkatan tanggal 18 September, namun akomodasi yang cocok belum juga saya dapatkan. Saya lalu mulai menyalahkan mepetnya waktu keluarnya unconditional LoA dan jadwal perkuliahan. Huftness. 

Saya gundah dan gulana. Bingung mau mulai dari mana. Urusan visa sukses bikin puyeng. Waktu yang terbatas lagi-lagi tertuduh utamanya. Kalau sudah begini, mood saya seketika jadi unpredictable. Sebaiknya jangan dekat-dekat deh pada saat-saat ini. Senggol sedikit, bacok,,hehehehe. Kidding.

Untuk meminimalisir setress, saya jadi rajin ikut yoga. Lumayan bisa membantu mengurai kemumetan yang ada. Yoganya sih tiga kali seminggu, tapi tiap pagi saya latihan sendiri di rumah. Selain itu, saya mulai menuruti saran teman untuk mulai hidup sehat ala-ala food combining dsb. Awalnya masih malas-malasan, tetapi setelah beberapa lama, akhirnya malah ketagihan, hehehe.

Oke, menulis ini pun sebenarnya salah satu cara untuk menenangkan diri dari urusan mellow-mellowan sebelum pergi. Seperti subuh pagi ketika tetiba hadis subuh langsung loncat ke tempat tidur pace mace, bermanja-manja seperti jaman SD, ato seperti beberapa hari lalu ketika saya jadi sensi harus meninggalkan rumah.

Well, it is time for yoga now. bye...

Wednesday, July 22, 2015

Melepasmu Kembali, Bukan Sayonara

Assalamualaikum.wr.wb.

Hai, sapamu lewat senyum.
Aku membalas lewat binar mata yang tak bisa sembunyikan sukacita pertemuan.
Kita kembali berbahasa dalam diam yang ribut.

Dan waktu selalu singkat untuk kita.
Sayapmu mengepak kuat menerobos langit.
Membawa serta parsel harapan kepada Penguasa Arsy

Dan Garuda,
Tetaplah berkunjung sesekali
Sampai sayapmu yakin akulah rumahmu.




Friday, May 22, 2015

Berburu Letter of Acceptance

Assalamualaikum. wr.wb.

Hallo, sudah lumayan lama tidak bersua. Rasanya kangen sekali. Ada banyak yang terjadi, ada banyak yang ingin dibagi di sini, namun apa daya mood yang naik turun plus banyak hal yang mesti dirampungkan membat saya belum bisa menulis lagi di blog. Sebenarnya, bukan tidak ada niatan sama sekali untuk membuat postingan baru, hanya saja, seringkali cerita itu mandek di tengah jalan (dan akhirnya berakhir di draft, mau dilanjutkan rasanya sudah lain_blame the mood, hehhe).

Oke, setidaknya hari ini saya janji tidak akan berhenti ditengah. Topiknya random aja yah., hehehe.

Well, setelah pengumuman lulus seleksi wawancara, agenda berikutnya dari rangkaian kegiatan penerima beasiswa LPDP adalah ikut PK alias persiapan keberangkatan. Ini wajib hukumnya untuk diikuti seluruh awardee, jika tidak ikut maka akan dinyatakan mundur. Saya dimasukkan di PK-33, bersama orang-orang super kece dari seluruh Indonesia bahkan ada yang sedang berdomisili di luar negeri (Mas Eko-Jerman, Ian-Taiwan, Mas Dayu-Singapura). PK berlangsung selama seminggu. Hanya seminggu, tapi suskses bikin hampir semua peserta gagal move-on. Sampai banyak yang pengen bisa ngulang lagi. Ya, PK 33 memang sedahsyat itu. Untuk cerita PK ini, saya niatkan untuk buat postingan sendiri di lain waktu, karena terlalu banyak cerita yang ingin saya abadikan, dan mungkin tidak maksimal jika saya include-kan dalam postingan kali ini.

Singkat cerita, seminggu berlalu dengan begitu cepat. saya jadi teringat dengan teori relativitas waktu, yang konon kalau kita bahagia, lengan waktu berputar dengan cepat, sementara ketika kita nelangsa, dia akan berputar lebih lambat dari kura-kura. Saya rasa itu benar adanya. Karena pas hari penutupan PK kemaren, saya sempat tak percaya, ini beneran sudah seminggu? Ini serius PK 33 udahan hari ini? Besok udah mau balik Kendari lagi? Yah begitulah, ada perasaan tak rela ketika PK telah berakhir.

Setelah PK, saya dihadapkan pada kenyataan lain bahwa saya adalah salah satu dari sedikit awardee beasiswa LPDP PK 33 yang belum punya LoA. Di grup Line Suryanara_UK chapter, teman-teman sudah heboh berburu informasi mengenai akomodasi, mekanisme pengurusan visa, settlement allowance (SA), dll. Dalam suasana itu, saya hanya bisa jadi silent reader dan rajin menyimpan informasi penting di note. Saya sendiri mulai ketar-ketir. Beasiswa sudah dapat, tapi kampus yang mau menerima belum dapat. Saya segera apply ke Uni yang saya tuju, yakni University of Aberdeen. Saya lalu mengunggah dokumen yang diperlukan trus submit (27 April 2015). Menurut teman yang juga daftar di Aberdeen, LoA mereka keluar dalam 2 minggu setelah submission, bahkan kata Bro Dion, dia dapat LoA dalam 3 hari.

Berdasarkan informasi itu, saya pun mulai menunggu dan menunggu. Tiga hari setelah submission date, saya ngecek email setiap saat (ada kali 60 kali sehari, hehehe), berharap ada email dari Aberdeen yang menyatakan saya diterima disana. Hasilnya nihil. Saya juga rajin ngecek ke akun pribadi di portal Aberdeen dan hasilnya sama. Saya mencoba sabar dan menunggu sampai 2 minggu. Hasilnya sama juga, status aplikasi masih dalam proses. Sementara di Line, teman-teman yang mau ke UK makin heboh aja, sudah sampai rencana liburan bareng keliling Eropa, dll. Kembali saya hanya jadi silent reader, hiks...

Tidak mau terus bertanya-tanya, saya nekad menelepon post graduate admission-nya. Biayanya lumayan banyak sih tapi tidak apa-apalah yang penting dapat jawaban pasti dan tidak harus setiap tiga detik cek email untuk ini, hehehhe. Kata pihak sana, status aplikasi saya masih dalam "dilelang" ke profesor gitu dan akan diberitahu hasilnya tidak lebih dari dua bulan setelah saya submit aplikasinya.

Saya akhirnya memutuskan untuk mencari alternatif ke dua dan ke tiga. Saya apply ke universitas lain di UK (anaknya udah UK garis kerass, hehehe). Uni of Exeter, Birmingham, Edinburgh, Nottingham adalah universitas target aplikasi saya selanjutnya sambil menunggu berita (semoga) baik dari Aberdeen. Rerata pada portal aplikasi universitas-universitas tersebut, disebutkan bahwa lama proses yang dibutuhkan untuk membuat keputusan apakah saya diterima atau tidak adalah delapan minggu bahkan lebih. Yaah, sama saja, tapi mau gimana lagi? kalau memang begitu ya harus diikutin aja.  Saya sudah berusaha semaksimal yang saya bisa. Hasil akhir Dia yang menentukan. Hari-hari berlalu, bayang-bayang berhasil dan gagal keterima terus ada di otak, tidak mau pergi. Pagi, siang dan malam saya dipenuhi dengan doa. Doa yang tidak henti.

Sampai akhirnya, secercah harapan datang dari dosen saya waktu S2 dulu. Beliau memasukkan saya dalam grup WA untuk Forum KUI PTM. Pada suatu kesempatan, saya bercerita bahwa saya adalah awardee beasiswa LPDP angkatan 33 tapi belum punya LoA. Saya juga menjelaskan mengenai jurusan yang saya ambil dan di universitas mana saja saya sudah apply. ketika saya sebutkan Nottingham, dosen saya (yang alumni Nottingham dan merupakan Kepala KUI di UMS) menawarkan bantuan. Kata Beliau dia kenal dengan Kepala IO disana. Tampaknya UMS juga punya kerjasama dengan Nottingham. Cocok deh. Beliau kemudian meminta nomor registrasi saya dan summary aplikasi online saya untuk diteruskan ke orang Nottingham. Tanpa membuang waktu, saat itu juga saya mengirim email kepada beliau dan selang beberapa menit saya sudah menerima forward-an email beliau ke staff di Nottingham mengenai aplikasi saya. Saya sadar bahwa bantuan ini tidak menjamin bahwa saya akan serta merta diterima. Bagaimanapun saya sadar pihak Nottingham pastilah akan bekerja secara profesional dan tidak akan menurunkan standar mereka dalam menjaring calon mahasiswa. Tapi, tetap saja ini membuat saya berbahagia. Saya bahagia karena saya sadar, Allah tidak pernah membairkan saya berjalan sendiri. Selalu ada malaikat yang dikirimNya untuk membantu saya. Setidaknya, walaupun pada akhirnya harapan saya tidak terwujud, saya tetap bersyukur karena pada prosesnya saya sudah berusaha secara maksimal.

Bantuan lain datang dari ELC, salah satu agen konsultasi pendidikan. ketika mengetahui saya adalah awardee LPDP dan belum mendapat LoA, ELC menawarkan bantuan untuk memfasilitasi aplikasi saya di Coventry dan Curtin (dua universitas yang menjadi klien mereka). Karena saya sudah UK-minded sekali, maka saya langsung tertarik pada Coventry, namun sayang sekali Coventry tidak masuk dalam list LPDP dan jurusan saya pun tidak ada disana. Maka, saya mencoba Curtin. Hmm, Australia bukan tujuan saya sih tapi apa salahnya mencoba dan menyiapkan alternatif ke sekian kalo sekiranya saya tidak berjodoh dengan UK. Jadilah akhirnya berkas yang diminta oleh ELC untuk pengurusan aplikasi ke Curtin saya kirim via email ke Mba Reni ELC. Terakhir saya dihubungi bahwa aplikasi saya sudah masuk dan masih dicarikan supervisor yang cocok katanya.

Sementara itu, beberapa malam yang lalu tepatnya, saya terbangun jam 2 malam karena kehausan, dan menyempatkan mengecek email. Aaaaannddd... hati saya berbunga-bunga. Offer letter dari Uni of Exeter. Offer ini sifatnya masih conditional karena score writing IELTS saya belum memenuhi standar mereka meski overall score sudah memenuhi syarat. Mereka memberi waktu sampai Januari untuk mengirimkan hasil IELTS yang baru yang sudah improve. Alhamdulillah, meski harus tes lagi tidak apa-apa dah. Yang penting sudah ada kursi yang disiapkan untuk saya. Saya optimis bisa memenuhi syarat score writing itu jika saya terus latihan dan latihan secara konsisten, aamiin. Korban uang tidak masalah. Bukankah mimpi harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan? Mundur dari posisi tambahan di UMK pun telah saya lakukan agar bisa lebih fokus ke sini. Intinya, saya tidak mau sampai ada penyesalan karena kurang all out nantinya.

Well, ini yang bisa saya ceritakan dalam postingan kali ini. mohon doanya agar secepatnya dapat kabar baik dari salah satu Uni tersebut ya, kawans.. sampai nanti, semoga hari kalian menyenangkan...